yang lalu
yang lalu

Kaidah Cabang Kedua : Yang Lalu Biar Berlalu

Terdapat beberapa cabang kaidah yang bernaung di bawah kaidah induk kedua yakni, al-yaqin la yuzal bissyakki (keyakinan tidak bisa dikalahkan dengan keraguan). Di antara kaidah cabang yang menginduk kepada kaidah ini adalah kaidah yang berbunyi:

اَلْقَدِيْمُ يُتْرَكُ عَلى قِدَمِهِ.

(al-qadim yutraku ‘ala qidamihi)

“Sesuatu yang telah ada sebelumnya dibiarkan sebagaimana adanya”

“Yang lalu biarkan berlalu”

Dimaksud dengan qadim dalam kaidah ini adalah setiap sesuatu yang tak seorang pun mengetahui asal-usulnya. Dengan demikian, kaidah ini menghendaki bahwa setiap hal yang menjadi objek sengketa jika kondisinya tidak ada orang yang mengetahui bagaimana asal-mulanya, maka benda tersebut harus dipelihara sebagaimana adanya, tanpa ditambah, dikurangi, dirubah atau dipindah. Keputusan tersebut diberlakukan dengan alasan bahwa pada dasarnya keberadaan benda tersebut sudah sesuai prosedur syar’i, sehingga tetap dibiarkan seperti keadaan semula dan tidak boleh diotak-atik.

Aplikasi kaidah: andaikan akses menuju rumah seseorang melewati tanah orang lain, maka bagi pemilik tanah tidak boleh menuntut agar akses tersebut ditutup karena melewati tanah miliknya. Sebab keberadaan jalan tersebut sejak dahulu—walaupun tidak ada yang tahu dengan cara apa jalan itu dibuat—menjadi pijakan dan dasar bahwa pembuatan akses jalan itu sudah sesuai ketentuan syar’i. 

Namun demikian, keberlaluan (ke-qadim-an) menjadi sia-sia dan tidak lagi berfungsi sebagai pijakan sebuah keputusan dalam dua hal: pertama, ketika ditemukan bukti kongkret dan valid yang bisa merubah status yang ada saat ini. Misal dalam contoh di atas, ternyata ditemukan bukti-bukti bahwa pembuatan akses jalan tersebut tidak sesuai prosedur syar’i. Kedua, keberadaan sesuatu yang qadim tersebut ternyata berlawanan dengan aturan syari’at, atau mengandung kemudaratan yang sangat mengganggu. Misal keberadaan selokan yang melintasi jalan umum dan mengganggu para pengguna jalan. Kasus seperti ini, meskipun sudah ada sejak dahulu tetap harus diabaikan, karena mengganggu ketertiban umum.

Baca Juga:  Kaidah Fikih: Senjata Makan Tuan

Hikmah kaidah dalam kehidupan. Yang lalu biarlah berlalu, masa lalu adalah kenangan, masa kini adalah kenyataan, dan masa depan adalah impian. Jadikan masa lalu sebagai cermin untuk melangkah ke masa depan. Fungsi spion dalam berkendara hanyalah sesekali dilihat, karena fokus dan tujuan kita berada di depan. Jangan terlalu larut dan terlena dengan masa lalu, bukalah lembaran hidup baru dengan semangat baru. Yakin dan percayalah Tuhan akan menunjukkan jalan yang terbaik baut hamba-Nya yang mau berusaha ke arah yang lebih baik.[]

Wallahu ‘alam

Bagikan Artikel ini:

About Zainol Huda

Alumnus Ma’had Aly Salafiyah Syafi’iyah Situbondo dan Dosen STAI Miftahul Ulum Tarate Sumenep.

Check Also

fatwa

Memahami Fatwa (10): Syarat-Syarat Mujtahid

Artikel ini melanjutkan pembahasan sebelumnya tentang syarat-syarat mujtahid. Uraian sebelumnya telah mengulas syarat mujtahid yang …

fatwa

Memahami Fatwa (9): Syarat-syarat Mujtahid

Dalam beberapa artikel sebelumnya telah diulas tentang kriteria seorang mufti. Para ilmuwan Islam berpandangan bahwa …