Kaidah Cabang Kedua: Misteri Sang Waktu

0
204
misteri waktu

Masih berbicara soal asal, dasar, prinsip, kaidah cabang kedua ini terus mengembangkan segala kemungkinan hal-hal yang terkait dengan isu tersebut. Lingkup kemungkinan itu dijaring salah satunya dengan kaidah berikut ini:

اَلأَصْلُ اِضَافَةُ اْلحاَدِثِ اِلى أَقْرَبِ اَوْقَاتهِ.

 (al-ashlu idlafatul hadits ila aqrabi awqatihi)

“Secara prinsip kejadian baru harus dikaitkan dengan waktu yang paling dekat”

Ketika terjadi perselisihan tentang waktu terjadinya sebuah peristiwa maka secara prinsip harus dihubungkan dengan waktu yang terdekat dengan kondisi terkini. Selama tidak ada bukti keterkaitan dengan rentan waktu yang lebih lama. Keputusan ini berlaku jika kedua belah pihak yang berselisih sama-sama setuju soal kejadian peristiwa tersebut, hanya saja mereka berselisih soal rentan waktu terjadinya, lebih jelasnya berselisih soal hari dan tanggalnya. Sehingga sang waktu menjadi misteri yang harus dipecahkan, sang waktu inilah yang menjadi kunci untuk memutuskan sebuah hukum. Menurut kaidah ini rentang waktu yang terdekat akan memenangkan dan menjadi pijakan yang harus dipedomani.

Perselisihan tentang suatu peristiwa tidak akan terlepas dari dua kondisi berikut. Pertama, berselisih soal hari dan tanggal kejadian. Kedua belah pihak sama-sama menyetujui tentang terjadinya peristiwa tertentu, namun mereka tidak sepaham dalam hal tanggal dan harinya. Kondisi ini yang menjadi cakupan kaidah ini, sehingga keputusan yang harus diambil dan dimenangkan adalah hari dan tanggal yang paling dekat. Kedua, berselisih soal terjadinya peristiwa apakah baru (hadits) atau memang ada sejak dahulu dan tidak diketahui asal mulanya (qadim). Dalam kasus kedua ini yang dibenarkan adalah pihak yang mengklaim qadim, sehingga berlaku kaidah yang telah dibahas sebelumnya, yang lalu biarkan berlalu.

Aplikasi kaidah: seorang suami telah menceraikan istrinya dengan talak bain (talak yang menutup kemungkinan suami untuk rujuk kembali) kemudian selang beberapa waktu sang suami meninggal. Lantas si janda mengklaim bahwa talak dijatuhkan oleh mendiang suaminya pada saat dia sakit keras menjelang kematian, sehingga talak ini dicurigai hanya bertujuan sebagai pelarian agar sang istri tidak mendapatkan hak waris. Sedangkan ahli waris yang lain mengklaim bahwa talak dijatuhkan ketika mendiang suaminya masih dalam kondisi sehat, sehingga talak ini memutuskan hubungan dan hak istri untuk menjadi ahli waris.

Dalam kasus di atas yang dimenangkan adalah klaim istri, karena jika dilakukan perbandingan jarak antara kondisi sakit dengan kematian dan kondisi sehat dengan kematian lebih dekat kondisi sakit dan kematian. Sehingga kecurigaan talak yang bertujuan untuk menghalangi istri dari harta warisan dapat dibenarkan. Oleh sebab itu, si janda mantan mendiang tetap memperoleh hak waris.

Contoh lain seorang ayah menjual harta anaknya karena masih berada dalam hak penguasaan (wilayah). Namun, suatu saat anak mengklaim kepada pembeli bahwa transaksi jual beli tersebut terjadi di saat dirinya sudah dewasa (baligh), sehingga jual-beli tidak sah. Sedangkan pembeli mengklaim transaksi terjadi sebelum si anak menginjak usia dewasa, sehingga status jual-beli tetap berlanjut. Dalam kasus ini yang dimenangkan adalah klaim si anak, sebab jarak antara usia dewasa dengan terjadinya jual-beli lebih dekat dibanding jarak antara usia belum dewasa dengan jual-beli.

Hikmah kaidah dalam kehidupan. Sang waktu begitu berharga, pepatah Arab mengatakan waktu bagaikan pedang, jika kita tak pandai memanfaatkan waktu dengan sebaik mungkin, maka siap-siaplah untuk “dipenggal” oleh waktu. Dalam Kitab Suci Tuhan juga menggunakan waktu sebagai sumpah untuk mengawali informasi manusia yang merugi, demi waktu sesungguhnya manusia dalam kerugian. Sang Nabi juga mengingatkan dalam sabdanya, jagalah waktu yang lima sebelum datang waktu yang lima: waktu mudamu sebelum datang usia tuamu, waktu sehatmu sebelum datang sakitmu, waktu luangmu sebelum dilanda kesibukan, waktu jayamu (kaya) sebelum terjangkit kemiskinan, dan waktu hidupmu sebelum datang kematian. Jangan sia-siakan waktumu! []

Wallahu ‘alam