Kaidah Cabang Kedua: Asal Mula Kebaruan adalah Ketiadaan

0
204

Kaidah yang bernaung dan menginduk pada kaidah kedua (al-yaqin la yuzal bis syakki) selalu berbicara soal dasar, asal, pada mulanya, pada hakikatnya, secara prinsip, dan lain-lain. Hal yang dasar dijadikan pijakan dan acuan adanya keyakinan yang bersemayam di dalamnya, sehingga tidak goyah dengan datangnya keraguan yang muncul belakangan. Di antara beberapa kaidah cabang yang menginduk kepada kaidah kedua berbunyi:

اَلأَصْلُ فِي الصِّفَاتِ اْلعَارِضَةِ اْلعَدَمُ.

 (al-ashlu fis shifat al-‘aridhah al-‘adam)

“Pada dasarnya sifat-sifat yang datang belakangan (baru) adalah tidak ada”

Sifat yang melekat pada suatu benda sebagai penanda dan ciri yang membedakan antara satu dengan yang lain dipandang dari segi ada dan tidak adanya, terdapat dua macam. Pertama, sifat ashliyah yaitu sifat dasar yang menyertai keberadaan suatu benda sejak awal (sifat alamiah). Sifat ini pada dasarnya selalu ada dan menyertai keberadaan benda tersebut.

Kedua, sifat ‘aridlah yaitu sifat yang datang kemudian, dalam arti secara alamiah suatu benda itu tidak memiliki sifat-sifat ini. Namun sifat tersebut berpotensi ada dan sesuatu itu memungkinkan untuk menerima sifat-sifat ini. Oleh karena itu, pada dasranya sifat ini tidak ada dan tidak melekat pada suatu benda sejak awal.

Dengan demikian, sifat-sifat asal yang menyertai keberadaan suatu benda merupakan hal yang diyakini keberadaannya. Begitu pula sifat-sifat yang datangnya kemudian (baru) merupakan hal yang diyakini ketiadaannya. Sementara keberadaan sifat-sifat yang baru dan hilangnya sifat-sifat asal merupakan hal yang masih meragukan. Sesuatu yang diyakini tidak bisa dikalahkan dengan sesuatu yang masih meragukan.

Aplikasi kaidah: andaikan penjual dan pembeli berselisih soal cacat yang ada pada barang komoditasnya (mabi’) setelah transaksi berlangsung, maka yang dijadikan acuan dan dimenangkan adalah klaim penjual selama belum ada bukti bahwa cacat itu terjadi sebelum transaksi. Karena cacat pada barang komoditas adalah sesuatu yang datang kemudian, sehingga dihukumi tidak ada cacat. 

Contoh lain yang senada, jika terjadi perselisihan antar pihak penyewa (musta’jir) dan penyedia jasa sewa (mu’jir) mengenai pembayaran atau pelunasan biaya sewa, maka yang dimenangkan klaim pihak penyewa bahwa biaya sewa belum dibayar atau belum lunas, karena pada dasarnya (al-ashl) tidak ada pembayaran atu pelunasan (al-‘adam). 

Hikmah kaidah dalam kehidupan. Dalam proses interaksi sosial, khusunya yang berhubungan dengan hak dan kewajiban sesama, membuat catatan dan dokumentasi atau bahkan melibatkan orang lain itu penting. Tidak ada yang bisa menjamin apa yang kita lakukan dapat melekat dalam ingatan, atau orang yang kita percaya selamanya terpercaya. Kitab Suci juga mengajarkan saat transaksi hutang-piutang hendaklah dicatat. Urgensitas keterlibatan orang lain juga bertujuan agar saling mengingatkan saat kita dilanda lupa, fatudzakkira ihdahumal ukhra! []

Wallahu ‘alam