Tag Archives: belajar islam

Kaidah Fikih: Bukti yang Valid Sama dengan Kenyataan

kaidah tentang bukti

Kaidah asal menyatakan bahwa pada prinsipnya setiap individu terbebas dari segala tanggung jawab, tuduhan, gugatan, dan segala hal yang berupa pembebanan dan ganti rugi. Hukum asal ini akan terus berlangsung secara normal, kecuali ditemukan dalam kenyataan individu tersebut telah melakukan hal-hal yang berakibat berubahnya hukum bara’ah (keterbebasan dari segala bentuk tanggung jawab). Misalnya, secara sah dan nyata seseorang telah melakukan …

Read More »

Tata Cara Berdiri dalam Shalat

berdiri dalam shalat

Ibadah shalat merupakan syiar yang sangat fundamental dalam agama Islam. Shalat menjadi garis pembeda antara muslim dan non-muslim. Shalat menjadi cermin lahiriyah dari kesalihan seseorang. Secara kasat mata, orang yang baik shalatnya, maka dapat dikatakan seluruh tingkah lakunya menjadi baik.  Jika seseorang yang tekun dan sangat menjaga shalatnya, namun berperangai dan berakhlak tidak terpuji, maka perlu diperiksa kembali tentu ada …

Read More »

Tidak Bisa Baca Fatihah Ketika Shalat, Ini Bacaan Penggantinya

bacaan pengganti al fatihah

Telah maklum, membaca surat al Fatihah merupakan bagian dari rukun shalat. Bila tidak dikerjakan, shalat menjadi batal. Problem ini bisa dialami oleh seseorang yang baru memeluk agama Islam atau mereka yang tidak terdidik ilmu agama sama sekali, meski sejak lahir menjadi penganut agama Islam. Bila demikian, apakah orang yang tidak mampu membaca surat al Fatihah apakah boleh tidak shalat atau …

Read More »

Kaidah Fikih: Menularkan Hukum

kaidah hukum yang sama

Serupa tapi tak sama, sebuah peribahasa yang menggambarkan dua entitas yang terlihat sama, tetapi memiliki hal-hal yang berbeda, ciri, karakter, dan atribut yang menyertainya. Contoh sederhana dua anak yang terlahir kembar. Mereka memiliki raut wajah yang mirip dan serupa. Cara berpakaian dan kesukaan sama, namun terkadang sifat dan karakter berbeda, yang satu cengeng, yang lain tangguh. Realiatas seperti ini juga …

Read More »

Kaidah Fikih: Sesuatu yang Gugur Tidak akan Kembali

musim gugur

Setiap hak yang telah gugur, tidak akan pernah ada lagi untuk yang kedua kalinya. Hak yang telah gugur berposisi sama dengan barang yang tidak ada. Sebuah ungkapan atau pernyataan yang kadung meluncur dari lidah seseorang akan menjadi pijakan yang berkonsekuensi hukum, andai berkaitan dengan hak dan kewajiban. Dalam akad transaksi ungkapan dan pernyataan menjadi indikator keputusan yang diambil oleh kedua …

Read More »

Kaidah Fikih: Pondasi Ambruk Bangunan Pun Roboh

kaidah fikih tentang pondasi

Kaidah ini berbicara tentang sesuatu yang keberadaannya menjadi asal dan pondasi terhadap keberadaan yang lain. Jika asal atau dasar gugur, sesuatu yang berpijak kepadanya juga gugur. Pondasi, dasar, asal, al-ashl (bahasa Arab) adalah sesuatu yang dijadikan pijakan oleh sesuatu yang lain. Sementara cabang, ranting, al-far’u (bahasa Arab) adalah sesuatu yang berpijak di atas sesuatu yang lain. Pondasi rumah adalah bangunan …

Read More »

Kaidah Fikih: Ketika Badai telah Berlalu

kaidah badai

Kaidah kali ini tentang hukum yang terhalangi pemberlakuannya karena ada rintangan. Ketika penghalang itu sudah tidak ada, hukum dapat diberlakukan kembali. Idealisme selalu menempel pada tataran konsep. Karena konsep merupakan hasil pemikiran yang ideal. Pada tataran praktik akan berhadapan dengan berbagai macam persoalan. Demikian juga dengan hukum, pada tataran konsep sangat ideal dan sempurna, namun praktik di lapangan akan mengalami …

Read More »

Kaidah Fikih: Pemakluman Terhadap Pengikut

kaidah pemakluman hukum

Kaidah ini berbicara tentang barang atau seseorang yang berposisi sebagai sebagai tabi’, akan mendapatkan toleransi atau pemakluman hukum yang tidak bisa didapatkan ketika ia berposisi sebagai matbu’. Dinamika kehidupan harus berjalan mengikuti rumus keseimbangan. Keseimbangan merupakan sunnatullah yang harus dipatuhi oleh semua makhluk apapun di muka bumi ini. Jika terdapat pihak-pihak yang melawan rumus keseimbangan dengan melakukan upaya-upaya yang bertentangan, …

Read More »

Konsultasi Syariah: Darah Haid Nempel Sulit Dihilangkan, Najiskah?

darah haid

Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh Bagaimana hukum darah haid yang menempel kuat dan tidak bisa dihilangkan di kain; sarung atau baju. Bolehkah dipakai untuk shalat. Terima kasih jawabannya. Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh. Yuni, Karyawati Surabaya Walaikum salam warahmatullahi wabarakatuh Saudari Yuni yang semoga berbahagia, berbicara tentang darah. Imam Qurthubi berkata di kalangan Ulama’ (ahli Fikih) sepakat mengatakan bahwa darah itu hukumnya haram. Haram …

Read More »

Kaidah Fikih: Menghentikan Potensi Kejelekan

haram menyimpan

Suatu barang yang haram jika dikonsumsi atau dimanfaatkan, haram pula untuk menyimpannya. Tindakan preventif sangat dibutuhkan dalam segala aspek kehidupan. Sikap sigap sebelum terjadi merupakan bentuk ikhtiar yang harus ditempuh sebelum menyerahkan sepenuhnya (tawakkal) kepada Yang Mahakuasa. Sedia payung sebelum hujan, begitu pepatah mengatakan. Tak terkecuali dalam syariat Islam, tindakan pencegahan ini menjadi salah satu dalil yang diperhitungkan dalam deretan …

Read More »

Kaidah Fikih: Menyuruh Sama dengan Melakukan

kaidah menyuruh

Menyuruh sama dengan melakukan. Memerintah hal haram sama saja dengan melakukannya. Masih seputar perbuatan terlarang atau haram dalam bahasa fikih. Senada dengan pembahasan sebelumnya, bahwa segala bentuk barang haram yang dilarang bagi seseorang untuk mengambilnya, maka memberikan kepada orang lain juga haram. Karena perbuatan menyodorkan dengan cara hibah atau yang lain dianggap sebagai bentuk membantu terhadap perbuatan haram. Alhasil, segala …

Read More »

Kaidah Fikih: Dispensasi Ada Batasnya

kaidah dispensasi hukum

Dalam kondisi sulit orang bisa menikmati dispensasi. Tetapi dispensasi ada batasnya, yakni ketika ketika sebab sulit itu telah hilang. Sebuah aturan dan hukum apapun bentuknya dilegislasikan untuk objek, situasi dan kondisi normal. Artinya, kenormalan merupakan acuan dasar dalam pembentukan sebuah hukum. Namun, dalam tataran praktik di lapangan tentu dan sudah pasti akan dijumpai situasi dan kondisi abnormal. Ke-abnormal-an mengharuskan pemberlakuan …

Read More »

Kaidah Fikih Cabang Ketiga: Lakukan Yang Ringan, Hindari Yang Berat

kaidah fikih 1

Segala bentuk mudarat memiliki level tersendiri. Ketika dikaji dari berbagai sudut pandang tentu setiap mudarat tidak berada pada derajat yang sama. Setiap mudarat pasti memiliki efek dan dampak yang berbeda satu sama lain, baik secara kualitas maupun kuantitas. Jika untuk mencegah suatu mudarat tidak menemukan solusi kecuali dengan cara melakukan mudarat lain, maka diperkenankan dengan catatan mudarat yang hendak dijadikan …

Read More »

Belajar Islam Kaffah Kepada Isa al Masih

isa almasih

“Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa”(QS. al Hujurat; 13). Ungkapan ayat ini menegaskan bahwa tingkat kesalehan seseorang tidak diukur dengan banyaknya simbol keagamaan yang melekat pada tubuh. Agama adalah keyakinan, bukan simbol. Dengan demikian beragama berarti mengerjakan segala perintah, menjauhi larangan dan berangkat dari keyakinan yang menyadari diri sebagai seorang …

Read More »

Kaidah Fikih Cabang Kedua: Dhan (Dugaan Kuat) yang Ternyata Salah

kaidah fikih praduga salah

Dalam situasi tertentu terkadang terjadi kekaburan dalam menentukan langkah yang harus diambil terkait dengan perilaku yang berhubungan dengan fikih. Situasi semacam itu mengharuskan adanya ijtihad (usaha keras untuk mencapai sesuatu yang dituju). Ijtihad di sini posisinya menempati level dhan, dugaan kuat yang mencapai 75%. Tentunya, dengan berpijak pada dhan inilah Islam mempersilahkan untuk melangsungkan dan melaksanakan hasil ijtihad tersebut. Bahkan, …

Read More »