Serupa tapi tak sama, sebuah peribahasa yang menggambarkan dua entitas yang terlihat sama, tetapi memiliki hal-hal yang berbeda, ciri, karakter, dan atribut yang menyertainya. Contoh sederhana dua anak yang terlahir kembar. Mereka memiliki raut wajah yang mirip dan serupa. Cara berpakaian dan kesukaan sama, namun terkadang sifat dan karakter berbeda, yang satu cengeng, yang lain tangguh.

Realiatas seperti ini juga terjadi dalam dunia hukum. Terkadang satu kasus secara sepintas memiliki kemiripan dengan kasus lain yang sudah mempunyai status hukum yang jelas. Atau sesuatu yang berdekatan dengan kasus yang berstatus hukum. Apakah sesuatu yang berdekatan atau mempunyai kemiripan dengan obyek hukum tertentu dapat dilabeli status hukum yang sama?

Kaidah berikut ini merupakan respons terhadap pertanyaan tadi, sebagaimana bunyi kaidah:

مَا قَارَبَ الشَّيْئَ أُعْطِيَ حُكْمُهُ

(Ma qaraba al-syai’a u’thiya humuhu)

Artinya: “Sesuatu yang mempunyai kemiripan/berdekatan dengan sesuatu yang lain, maka diberikan hukum yang sama.”

Maksud kaidah ini bahwa segala suatu yang mempunyai kemiripan dengan kasus tertentu dihukumi sama dengan kasus tersebut. Segala sesuatu yang dapat mewakili dan menggantikan posisi barang lain, dapat diposisikan sama dengan yang digantikan. Segala sesuatu yang berdekatan dan mengitari sesuatu yang lain akan diberlakukan hukum yang sama.

Aplikasi kaidah: Dalam hal zakat fitrah, jika di suatu daerah tidak memiliki makanan pokok tertentu (qutul balad), maka patokan yang diambil adalah makanan pokok daerah sekitar yang terdekat.

Tempatyang dijadikan pertemuan antara pihak pembeli dan penjual untuk melakukan serah terima barang ternyata ambruk, rusak atau sangat berisiko, sehingga tidak layak lagi untuk dijadikan tempat serah terima, maka ambil inisiatif tempat terdekat dari tempat semula.

Melakukan hubungan pada saat istri sedang haid hukumnya haram, maka bersenang-senang dengan cara bersentuhan langsung di area sekitar vagina juga dihukumi haram.

Hikmah kaidah dalam kehidupan: Petuah Sang Nabi, “Seseorang itu menurut agama teman dekatnya, maka hendaklah kalian melihat siapakah yang menjadi teman dekatnya.” (HR. Abu Daud dan Tirmidzi, No. 927). Dalam kehidupan sosial bergaul dengan orang baik akan kecipratan kebaikannya, sebaliknya bergaul dengan orang yang kurang baik di mata masyarakat dan agama juga mengakibatkan label kurang baik yang akan menimpa.

Sangatlah bijak tamsil yang diberikan Sang Nabi, “Perumpamaan teman yang baik dan buruk bagaikan penjual minyak wangi dan tukang pandai besi. Penjual minyak wangi, bisa jadi akan menghadiahkanmu minyak wangi, atau kamu membeli minyak wangi darinya, atau kamu akan kecipratan bau harum darinya. Sementara tukang pandai besi, bisa jadi ia akan membuat pakaianmu terbakar, atau kamu akan mendapat bau yang tidak sedap darinya.” (HR. Bukhari No. 2101, Muslim No. 2628). []

Wallahu a’lam Bisshawab.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.