Ada banyak cara dilakukan oleh orang-orang, kelompok dan organisasi untuk mendiskreditkan Islam. Baik dengan cara menyusup ke dalam tubuh Islam secara langsung maupun secara terang-terangan. Islamofobia menjadi gerakan massif yang dianggap efektif untuk memudarkan cahaya terang Islam. Baik melalui ucapan, tindakan dan propaganda-propaganda tulisan diberbagai media.

Sebenarnya, hal ini telah diterangkan secara jelas dalam al Qur’an. Allah berfirman, “Mereka berkehendak memadamkan agama (cahaya) Allah dengan mulut (ucapan-ucapan) mereka, dan Allah tidak menghendaki selain menyempurnakan cahaya-Nya. Walaupun orang-orang kafir tidak menyukai”. (QS. al Taubah:32)

Ibnu Katsir dalam tafsirnya menjelaskan, ayat ini memberi informasi adanya propaganda kaum kafir untu menyudutkan, mendiskreditkan dan upaya menghancurkan Islam dengan cara berdebat dan bentuk-bentuk kebohongan serta tipu daya.

Namun demikian, menurut Ibnu Katsir, betapapun upaya itu dilakukan, tak lebih seperti orang yang berusaha menghilangkan cahaya matahari dengan tiupan mulutnya. Tidak akan pernah berhasil dan tak lebih hanya usaha yang sia-sia.

Dengan demikian, sebenarnya umat Islam tidak perlu risau dengan fenomena Islamofobia yang selalu berulang. Tetapi juga tidak harus selalu diam. Mesti melakukan upaya untuk melawan gerakan orang-orang yang tidak beragama ini dengan cara yang telah diajarkan oleh Nabi. Disebut tidak beragama, karena setiap agama tidak mengajarkan untuk membenci agama yang lain.

Suatu saat Nabi mendatangi kampung ‘Aqabah di Thaif. Beliau bermaksud meminta perlindungan dan memperkenalkan Islam kepada salah satu pembesar kampung itu. Karena begitu benci kepada Nabi dengan ajaran yang dibawanya, mereka justeru melempari beliau dengan batu. Bahkan salah satu gigi beliau ada yang copot. Nabi kemudian kembali dengan wajah berdarah.

Dalam perjalanan pulang itu, beliau istirahat di Qarnul Tsa’alib, menengadahkan wajahnya ke langit dan melihat awan memayungi beliau. Pada saat itulah, beliau mendengar malaikat Jibril memanggilnya dan memberi tahu kalau Allah telah mengutus malaikat penjaga gunung.

Malaikat penjaga gunung yang diutus oleh Allah saat itu menawarkan kepada baginda Nabi akan mengangkat dua gunung untuk ditimpakan kepada penduduk Thaif yang telah menyakitinya. Yakni gunung Abi Qubaisy dan gunung yang menghadapnya.

Akan tetapi Rasulullah menolak tawaran itu. Beliau justeru berdoa kepada Allah berharap semoga Allah mengeluarkan dari tulang rusuk mereka (keturunan) yang menyembah Allah.

Sikap agung Rasulullah ini menjadi pelajaran berharga bagi kita semua selaku umat Islam suapaya bijak dalam menghadapi propaganda yang saat ini marak terjadi menimpa umat Islam. Terutama di negara yang umat Islam minoritas seperti di Amerika.

Walaupun, seperti dijelaskan oleh Ibnu Katsir di atas, fenomena Islamofobia tersebut seperti hendak memadamkan sinar matahari dengan tiupan mulut, umat Islam harus melakukan upaya semaksimal mungkin untuk melawan gerakan ini dengan cara yang bijak, dengan santun, dan bermartabat. Seingga seberapapun kuatnya gerakan Islamofobia itu pada akhirnya tak lebih sebagai “jualan produk usang yang tak pernah laku”.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.