pesantren dan corona
pesantren dan corona

Cara Pesantren Menghadapi New Normal

Pesantren bagian dari sistem pendidikan di Indonesia. Tidak bisa dipungkiri keberadaannya memberikan sumbangsih besar terhadap bangsa Indonesia. Sistem pembelajarannya yang 24 jam nonstop mencetak santri berkarakter. Sehingga jika dilakukan pembelajaran daring, tidak akan pernah efektif pembelajaran di rumah.  

Hampir empat bulan pandemi menghentikan proses pembelajaran secara tatap muka. Semua berubah menjadi online (jarak jauh). Bagi santri mampu tidak ada masalah kuota internet, namun bagi santri yang ekonomi pas-pasan, jangankan untuk ngakses internet, alat untuk mengakses saja tidak ada. Tentu, orang tua berharap pembelajaran daring tidak berlangsung lama.

Menteri Pendidikan melalui informasi virtualnya menyampaikan, pembelajaran belum bisa diadakan secara offline. Semua dikembalikan kepada pimpinan daerah masing-masing. Sehingga, ada lembaga pendidikan akan masuk pada bulan Juli di berbagai tempat. Ada juga pesantren dengan melalui arahan gubernur seperti Jawa Timur pesantren diijinkan masuk dengan syarat santri kembali bergelombang, tetap mematuhi protokol, menyediakan cuci tangan, hand sanitizer, dan sebagainya.

Dengan diijinkannya pesantren dibuka kembali, sehingga banyak santri perlahan sudah kembali ke pesantren. Santri pesantren itu berasal dari berbagai kota di Indonesia. Tentu ini menjadi rawan penularan covid-19.  Butuh antisipasi dan penangan super ekstra agar tidak terjadi penyebaran covid-19 di pesantren. Bisa saja santri yang dari zona merah, ke zona hijau. Santri yang dari zona ke zona merah.

Penulis bukan bermaksud membenturkan antara pesantren dengan corona. Pesantren sudah jelas mencetak generasi muda Islami, berkarakter dan mampu menjadi contoh dalam masyarakat. Berbeda dengan virus corona, yang keberadaannya membahayakan siapa saja, tidak pandang bulu. Jadi santri yang sedang mondok ibaratkan pohon, sekarang sedang di pupuk dan suatu saat akan berbuah. Corona tidak hanya hama, namun lebih tepatnya senjata pembunuh yang tidak tampak bagi siapa saja yang tidak mematuhi protokol kesehatan.

Baca Juga:  137 Ribu Orang Tanda Tangani Petisi Tolak Jenazah Muslim Korban Corona Dikremasi

Yang harus dilakukan pesantren adalah antisipasi terhadap wabah virus corona yang sampai detik ini belum ditemukan vaksin dalam menangkalnya. Terlihat di beberapa pesantren di Indonesia Lirboyo Kediri, Gontor Ponorogo, Tebu Ireng, Tambak Beras, An Nur Malang dan pondok lainnya santri sudah mulai kembali ke pesantren.

Jargon pesantren tangguh selalu dikampanyekan diberbagai daerah. Ini bertujuan untuk memberikan kepercayaan kepada masyarakat bahwa pesantren benar-benar siap hidup berdampingan dengan covid-19. Mulai dari sterilisasi santri ketika santri datang ke pondok, penyemprotan disenfektan, pengecekan suhu tubuh, bahkan ada yang tes rapid.

Budaya-budaya pesantren harus puasa dulu dalam beberapa hari ke depan. Bersalaman, makan bersama dalam satu wadah, minum di gelas yang sama, wudhu di kolam yang sama, dan aktifitas lainnya yang sifatnya berkumpul. Untuk menghormati takdzim kepada kyai, salaman kepada kyai dengan sebelum dan sesudah mencuci tangan. Hifdzu nafs (menjaga nyawa) lebih diutamakan dalam beragama.

Hidup di era new norma ini pesantren juga memerhatikan jumlah santri dalam satu kelas, jumlah santri dalam kamar, dan hubungan sosial di luar pesantren. Kalau masalah menjaga kebersihan tangan, santri selalu menjaga wudlu dalam setiap saat. Tinggal pesantren menyiapkan sabun di setiap sudut dan selalu memberikan informasi di papan penting untuk selalu cuci tangan.

Menjaga jarak juga bagian dari ikhtiyar untuk memutus rantai penyebaran virus covid-19. Aneh memang, jika melihat pesantren dengan budaya kebersamaan tiba-tiba harus social distancing. Dalam beberapa waktu ke depan. Tidak akan melihat kerumunan santri yang menunggu kyai mengaji, kerumunan asyik ngetel (memasak) bersama di dapur, kebersamaan tidur bersama dalam jumlah banyak.

Pesantren yang belum siap dengan segala protokol kesehatan, tidak memaksakan diri santri kembali. Berharap dengan kembali santri ke pondok pesantren ada semangat baru dalam santri untuk terus belajar keilmuan, bukan malah membahayakan santri di tengah pandemi yang setiap hari semakin meningkat kasusnya.

Bagikan Artikel ini:

About Yoyok Amirudin

Penulis adalah Dosen Fakultas Agama Islam Universitas Islam Malang

Check Also

damai di tengah perbedaan

Damai di Tengah Perbedaan

“Tuhan menciptakan kalian laki-laki dan perempuan, berbangsa-bangsa, bersuku-suku supaya kalian saling mengenal…” (Q.S. Al Hujurat: …

self management

Self Management: Cara Islami Menghadapi Masalah

Cobalah anda melihat bagaimana teman anda membahagiakan dirinya ketika dalam kesusahan. Ada yang pergi ke …