arsitektur islam
arsitektur islam

Islam Selalu Memberi Kemudahan, Tetapi Tidak untuk Kemaksiatan

Islam merupakan agama yang tidak pernah mempersulit umatnya untuk beribadah. Syariat Islam memberikan sebuah keringanan pada hal-hal yang berpotensi membuat seorang Muslim berada dalam keadaan sulit.

Banyak di antara keringanan-keringanan dari Allah untuk umatnya dan salah satunya adalah keringanan bagi para musyafir.

Menurut jumhur ulama, perjalanan lebih dari 83 km, para musyafir dapat mengqasar dan menjama’ solat empat rakaat menjadi dua rakaat. Allah SWT berfirman, “Dan apabila kamu bepergian di muka bumi, maka tidaklah mengapa kamu mengqashar sembahyang(mu)…” (QS an-Nisa [4]: 101).

Hal ini juga berlaku dalam konteks keringanan dapat menjamak dan mengqashar shalat bagi musafir.

Keringanan ibadah untuk para musyafir yang lainnya adalah dengan menjama solat. Menjama shalat ketika dalam perjalanan itu tidak hanya sewaktu dalam perjalanan saja, tetapi juga ketika singgah di suatu tempat. Selama seseorang masih dalam perjalanannya, maka ia boleh mengqashar dan menjamak shalatnya berapa lama pun ia dalam perjalanan.

Jika seseorang berniat menetap di suatu tempat selama empat hari, maka habislah masa keringanan baginya untuk mengqashar dan menjama shalat. Seseorang tersebut sudah memiliki kewajiban untuk melakukan ibudah solatnya secara utuh.

Namun adapula yang perlu kita ketahui bahwa tidak semua musafir secara umum dapat menjamak shalatnya tatkala dalam perjalanannya terdapat tujuan kemaksiatan. Patut dipahami bahwa dalam kaidah fiqih dijelaskan bahwa setiap keringanan syara’ tidak berlaku tatkala bersamaan dengan sebuah kemaksiatan.

Musafir yang melakukan maksiat terbagi menjadi tiga kelompok. Kelompok pertama yakni orang yang sejak awal bepergian bertujuan melakukan maksiat. 

Kedua, orang yang mengganti tujuan bepergian ke arah maksiat setelah awalnya bertujuan untuk melakukan ketaatan, seperti musafir yang bertujuan merampas harta di jalan dan berpaling dari tujuan awal yakni melaksanakan ketaatan. 

Ketiga, kelompok yang bepergian dengan tujuan ketaatan, tapi di tengah perjalanan ia melakukan kemaksiatan, besertaan terus-menerusnya tujuannya yang berupa melakukan ketaatan

Tiga kelompok musyafir seperti ini, tidak mendapatkan keringanan dalam perjalanan yang ia tempuh untuk melaksanakan shalat dengan cara dijamak ataupun diqashar, sampai ia sadar dan bertobat atas kemaksiatan yang hendak ia lakukan.

Logika hukum di atas dapat ditarik suatu semangat penting tentang esensi Islam. Pada prinsipnya agama Islam adalah yang mudah dan memudahkan. Tidak ada satu pun ajaran Islam yang memberatkan. Bahkan ketika kondisi beratpun selalu ada jalan kemudahan.

Baca Juga:  Meraih Dua Pahala Syahid di Ramadhan Tahun Ini

Namun, hal terpenting di tengah jalan kemudahan, Islam tidak mentolerir keburukan. Tidak ada kemudahan untuk meraih keburukan. Dan tidak berlaku dispensasi kemudahan untuk melakukan keburukan.

Bagikan Artikel ini:

About Triyanto S

Avatar of Triyanto S

Check Also

keutamaan puasa tasyu'a

Menuju Puasa Panca Indra dan Batin

Puasa adalah menahan diri dari lapar dan haus serta hal-hal yang mampu membatalkannya mulai dari …

keragaman

Pelajaran Berharga dari Rasulullah : Jika Sesama Manusia Kenapa Tidak Dihormati Apapun Agamanya

Kerap sekali umat saat ini begitu ingin menunjukkan marwah Islam dengan muka sangar dan berapi-api. …