cahaya shalat
cahaya shalat

Rahasia Shalat : Kenapa Shalat Dikatakan sebagai Cahaya ?

Pasti ada rahasia tersembunyi sehingga Allah memanggil langsung Nabi Muhammad untuk menerima perintah shalat. Tidak seperti biasanya, wahyu yang turun kepada baginda Nabi melalui perantara malaikat Jibril. Namun ada yang beda untuk perintah shalat fardhu. Allah memanggil beliau secara langsung.

Pemanggilan itu terjadi tepatnya pada tanggal 27 bulan Rajab, yaitu terjadinya peristiwa fenomenal isra’ dan mi’raj. Meskipun ada perselisihan pendapat tentang tanggal dan bulan terjadinya, namun yang jelas peristiwa tersebut nyata dan fakta, bukan fiksi dan imajinasi.

Jalaluddin al Rumi merekam dialog murid yang bertanya kepada gurunya: apakah ada jalan lain untuk mendekatkan diri kepada Allah selain shalat? Dialog tersebut ia tulis dalam kitabnya Fihi ma Fihi. Jawabannya, tidak ada jalan lain untuk mendekatkan diri kepada-Nya selain dengan media shalat. Yakni, shalat yang benar-benar shalat. Bukan hanya sekedar bacaan dan gerakan saja. Tetapi, shalat dengan wujud shalat.

Wujud shalat yang ditulis oleh Jalaluddin al Rumi memastikan adanya dialog antara hamba dengan Rab. Bentuk pengabdian seorang hamba kepada Allah dengan sesungguhnya. Wujud shalat yang sebenarnya adalah cahaya. Dan shalat dengan wujud sebenarnya bila cahaya itu telah menyatu dengan kita.

Dalam hadis shahih riwayat Imam Muslim, Nabi bersabda, “Shalat adalah cahaya”.

Jadi yang dimaksud wujud shalat adalah cahaya. Semakin banyak melakukan shalat dengan wujudnya (shalat secara sempurna dan khusyu’), nur seseorang semakin bertambah terang. Bisa dilihat di dunia maupun di akhirat.

Di dunia, sinar itu tampak dari paras wajahnya yang kelihatan sejuk, teduh, menyenangkan bila dipandang dan bercahaya. Cahaya itu bukan putihnya warna kulit, namun kilau yang terpancar. Nur itu juga tampak meskipun kulit wajahnya hitam legam. Wajah seperti ini jika dipandang akan mengingatkan kita pada Allah dan akhirat.

Baca Juga:  Kemiskinan yang Mendekatkan pada Kekufuran

Beda, orang yang tidak shalat wajahnya akan terlihat padam, kusam dan muram sekalipun wajahnya putih bersih. Wajah seperti ini tidak mengingatkan kita pada akhirat.

Ini ciri cahaya yang bisa dilihat. Yang tak terlihat namun bisa dirasakan adalah nur atau cahaya itu akan menerangi hati dan bathin. Hal ini sebagaimana dikatakan oleh Ibnu Rajab al Hanbali dalam kitabnya Jami’ al Ulum wa al Hikam. Tulisnya, shalat bagi orang mukmin di dunia adalah cahaya untuk hati dan mata batinnya. Dengan shalat hatinya akan terang sehingga teranglah mata batinnya.

Imam Nawawi dalam kitabnya Syarh al Nawawi ala Muslim menjelaskan, shalat adalah cahaya. Artinya, shalat bisa mencegah kemaksiatan, kekejian, kedzaliman, dan kemungkaran. Shalat akan menuntun seseorang pada kebenaran seperti cahaya yang digunakan untuk menerangi.

Shalat, terutama shalat malam, menjadi cahaya di alam kubur. Sehingga di dalam kuburnya penuh cahaya yang terang-benderang. Tidak gelap dan kuburnya menjadi indah.

Imam Nawawi melanjutkan, shalat di akhirat kelak adalah cahaya bagi orang mukmin. Cahaya yang akan meneranginya dalam kegelapan hari kiamat dan di jembatan shirathal mustaqim.

Rasulullah bersabda, “Sungguh umatku pada hari kiamat akan dipanggil dalam keadaan putih bersih wajah dan kakinya karena wudhu. Barang siapa mampu memanjangkan cahayanya, maka lakukanlah”. (HR. Bukhari).

Inilah esensi shalat yang sesungguhnya. Shalat dengan wujudnya yang diperintahkan secara khusus oleh Allah kepada Nabi Muhammad. Oleh karena itu, seharusnya kita melakukannya dengan benar.

Sebagai penutup, puisi Gus Mus sepatutnya menyegarkan kita semua untuk shalat dengan wujud shalat yang sebenarnya. Kata Gus Mus:

“Shalat kita rasanya lebih buruk dari senam ibu-ibu. Lebih cepat dari pada menghirup kopi panas dan lebih ramai dari pada lamunan seribu anak pemuda”.

Bagikan Artikel
Best Automated Bot Traffic

About Faizatul Ummah

Faizatul Ummah
Alumni Pondok Pesantren Salafiyah Syafi'iyah Sukorejo