kaidah fikih 1
kaidah fikih 1

Kaidah Fikih Cabang Ketiga: Lakukan Yang Ringan, Hindari Yang Berat

Segala bentuk mudarat memiliki level tersendiri. Ketika dikaji dari berbagai sudut pandang tentu setiap mudarat tidak berada pada derajat yang sama. Setiap mudarat pasti memiliki efek dan dampak yang berbeda satu sama lain, baik secara kualitas maupun kuantitas.

Jika untuk mencegah suatu mudarat tidak menemukan solusi kecuali dengan cara melakukan mudarat lain, maka diperkenankan dengan catatan mudarat yang hendak dijadikan solusi levelnya lebih ringan. Solusi inilah yang menjadi perhatian dan objek kaidah berikut ini:

الَضَّرَرُاْلاَشَدُّ يُزَالُ بِالضَّرَرِ اْلاَخَفِّ.

 (al-dharar al-asyadd yuzalu bi al-dharar al-akhaff)

“Kemudaratan yang berat boleh dicegah dengan cara melakukan kemudaratan yang lebih ringan”

Sebagaimana dipaparkan sebelumnya dalam pembahasan kaidah cabang ketiga tentang ketidakbolehan mencegah mudarat dengan cara menimbulkan mudarat baru yang setara, kaidah ini berfungsi sebagai tindak lanjut dari kaidah tersebut. Dengan kata lain, mudarat boleh dicegah dengan cara melakukan mudarat lain, asalkan levelnya lebih ringan. Oleh karena itu, secara syar’i diperkenankan berbuat sesuatu yang sebenarnya mudarat demi mencegah mudarat yang lebih berat dampaknya.  

Aplikasi kaidah: perceraian adalah sesuatu yang berdampak negatif bagi hubungan keluarga, khusunya dampak yang paling nyata adalah bagi anak. Bahkan, perceraian merupakan sesuatu yang halal, namun paling dibenci oleh Allah. Akan tetapi, perceraian menjadi solusi di tengah badai bahtera rumah tangga yang seandainya tetap dipertahankan akan menimbulkan kekacauan rumah tangga (broken home) yang lebih besar dan meluas. Perceraian menjadi pilihan terakhir demi menghindari efek negatif yang lebih besar dan menyakitkan.

Seorang muslim jika tidak mampu menutup aurat ketika hendak melaksanakan shalat, maka ia harus tetap melakukan shalat meskipun tidak menutup aurat. Karena meninggalkan shalat itu lebih besar mudaratnya dari pada sekedar tak menutup aurat dalam shalat.

Baca Juga:  Refleksi 75 Tahun RI : Belajar dari Kisah Nasionalisme Para Nabi

Sejarah mencatat bahwa Rasulullah Saw. menerima beberapa persyaratan yang diajukan kaum kafir Quraisy dalam perjanjian Hudaibiyah, walaupun jelas-jelas banyak merugikan kaum muslimin. Namun, beliau tetap menerima persyaratan itu demi menghindari terjadinya mudarat yang lebih besar, yaitu terjadinya peperangan dan terbunuhnya kaum muslimin.

Seorang presiden boleh melakukan boikot dan pembatasan akses jaringan internet demi menghindari terjadinya perpecahan yang mengancam keutuhan, kesatuan dan persatuan bangsa.

Hikmah kaidah dalam kehidupan. Problematika kehidupan selalu hadir dan mengiringi perjalanan hidup manusia. Terkadang manusia dihadapkan pada pilihan-pilihan yang sama-sama pahit dan sulit. Dalam situasi semacam ini pandailah mempertimbangkan dan memilih yang paling rendah tingkat kesulitannya dan lebih kecil resikonya. Luaskan sudut pandang agar tak keliru dalam menimbang! []

Wallahu ‘alam

Bagikan Artikel ini:

About Zainol Huda

Alumnus Ma’had Aly Salafiyah Syafi’iyah Situbondo dan Dosen STAI Miftahul Ulum Tarate Sumenep.

Check Also

fatwa

Memahami Fatwa (10): Syarat-Syarat Mujtahid

Artikel ini melanjutkan pembahasan sebelumnya tentang syarat-syarat mujtahid. Uraian sebelumnya telah mengulas syarat mujtahid yang …

fatwa

Memahami Fatwa (9): Syarat-syarat Mujtahid

Dalam beberapa artikel sebelumnya telah diulas tentang kriteria seorang mufti. Para ilmuwan Islam berpandangan bahwa …