kaidah fikih
kaidah fikih

Kaidah Fikih Cabang Ketiga: Mencegah Mudarat, Bukan Menimbulkan Mudarat Baru

Kaidah induk ketiga menyatakan bahwa segala bentuk kemudaratan harus dihindari dan dicegah jangan sampai terjadi. Kalaupun sudah terjadi harus ada upaya untuk menghilangkan dan memberantasnya. Namun, bukan berarti bebas-lepas bertindak semaunya dalam rangka pencegahan terhadap kemudaratan.

Harapannya, pencegahan kemudaratan yang dilakukan haruslah mendatangkan kemaslahatan dan manfaat yang dapat dirasakan mulai lingkup kecil hingga lingkup yang sangat luas. Kaidah cabang ketiga ini menjadi barometer dan sebagai kontrol bagi kaidah al-dlarar yuzal (kemudaratan harus dihilangkan). Kaidah tersebut berbunyi:

الَضَّرَرُ لاَ يُزَالُ بِمِثْلِهِ.

 (al-dharar la yuzalu bimitslih)

“Kemudaratan tidak boleh dicegah dengan cara menimbulkan kemudaratan lain yang setara”

Oleh karena itu, segala bentuk upaya pencegahan dan pemberantasan terhadap mudarat jangan sampai menimbulkan mudarat baru yang setara, apalagi mudarat yang lebih besar. Sebab, jika menimbulkan mudarat baru berarti secara hakiki bukan menghilangkan atau mencegah, tetapi hanya memindahkan satu mudarat ke mudarat yang lain.

Hal tersebut tidak diperkenankan dalam syariat Islam. Untuk menghilangkan mudarat yang menimpa seseorang tidak boleh dengan cara menimpakan mudarat yang sama kepada orang lain. Karena semua manusia adalah makhluk Allah yang memiliki hak yang sama di hadapan-Nya.

Aplikasi kaidah: sebidang sawah yang tergenang banjir dan mengancam kegagalan panen tanamannya, dalam upaya penyelamatan tidak boleh mengalihkan genangan banjir tersebut ke sawah orang lain, sehingga menimbulkan genangan banjir baru di sawah orang tersebut.

Pemilik tanah yang disewakan ketika sudah jatuh tempo, tidak boleh secara sembarangan menebang tanaman yang sedang berbuah milik penyewa (musta’jir, orang yang menyewa) yang berada di atas tanahnya. Namun, pemilik tanah (mu’jir, orang yang menyewakan) boleh meminta upah standar atau dengan cara membeli tanaman tersebut dengan harga pasar.Sebab mudarat yang ditanggung mu’jir akibat tanaman yang berada di atas tanahnya tidak boleh dicegah dengan cara menimpakan mudarat kepada musta’jir dengan menebang dan merusak tanamannya.

Baca Juga:  Air Apa Saja yang Layak Dipakai Bersesuci?

Dalam situasi darurat bencana di mana akses dan suplai makanan sangat terbatas, tidak boleh bagi korban yang sangat lapar mencuri makanan milik korban lain dalam kondisi yang sama.

Dalam dunia politik yang tak kenal mana kawan dan mana lawan, sering dijumpai kasus orang tertentu yang menjadi tumbal politik. Dalam rangka menyelematkan diri, harus tega membuat tumbal orang lain agar dirinya tetap aman.

Hikmah kaidah dalam kehidupan. Bunuhlah sifat egoisme yang bercokol dalam dirimu! Jangan memikirkan diri sendiri, ingin menang sendiri, mendahulukan kepentingan pribadi, tak pernah memikirkan nasib orang lain. Hidup pasti membutuhkan bantuan dan partisipasi orang lain.[]

Wallahu ‘alam

Bagikan Artikel ini:

About Zainol Huda

Alumnus Ma’had Aly Salafiyah Syafi’iyah Situbondo dan Dosen STAI Miftahul Ulum Tarate Sumenep.

Check Also

fatwa

Memahami Fatwa (10): Syarat-Syarat Mujtahid

Artikel ini melanjutkan pembahasan sebelumnya tentang syarat-syarat mujtahid. Uraian sebelumnya telah mengulas syarat mujtahid yang …

fatwa

Memahami Fatwa (9): Syarat-syarat Mujtahid

Dalam beberapa artikel sebelumnya telah diulas tentang kriteria seorang mufti. Para ilmuwan Islam berpandangan bahwa …