Kaidah Fikih: Pengikut Harus Ikut

0
694
pengikut harus ikut

Dalam sebuah transaksi apapun, yang menjadi objek transaksi adakalanya benda atau barang yang mempunyai bagian yang dapat dipisahkan. Kadangkala satu kesatuan yang tak terpisah dan benar-benar menyatu.

Ragam objek transaksi ini memunculkan status hukum yang berbeda terkait bagian-bagian tersebut. Apakah bagian itu menjadi include dalam transaksi tanpa disebutkan secara detail ataukah harus ditegaskan dalam akad?

Kaidah berikut menjadi pijakan dalam menjawab pertanyaan ini, sebagaimana di bawah ini:

اَلتَّابِعُ تَابِعٌ.

(at-tabi’u tabiun)

Artinya: “Sesuatu yang ikut harus mengikuti.”

Maksud kaidah ini bahwa segala sesuatu yang keberadaannya ikut bersama barang lain maka status hukumnya sama dengan yang diikuti (matbu’). Status yang diberlakukan terhadap induk yang diikuti juga berlaku sama terhadap yang mengikuti.

Keterikutan sesuatu terhadap sesuatu yang lain dapat digambarkan dalam tiga bentuk. Pertama, memang menjadi bagian yang tidak dapat dipisahkan, seperti kulit dengan binatang ternak, bangunan dengan temboknya. Kedua, dapat dipisahkan secara mandiri, namun menjadi keharusan yang wajib ada sebagai satu paket, seperti kunci dan gemboknya, keris dan gagang juga warangkanya. Ketiga, memang menjadi lahan yang mesti ditempati, seperti pohon dan tanahnya. 

Aplikasi kaidah: anak hewan yang berada dalam kandungan induknya tidak butuh disembelih ketika induknya sudah disembelih sesuai aturan syar’i, karena sembelihan janin status hukumnya mengikuti sembelihan induknya.

Ketika membeli sebuah mobil, semua kelengkapan yang menjadi bagian dari mobil include dalam akad, tanpa harus disebutkan oleh kedua belah pihak, seperti kursi mobil, ban, setir dan lain-lain.

Ketika seseorang mengaku bahwa keris yang ada di tangannya adalah milik orang lain, maka warangka dan pegangan juga include dalam ikrar tersebut.

Perkembangan dan hal baru yang terjadi pada hewan yang menjadi objek jual beli (mabi’), sebelum terjadinya serah terima, menjadi milik pembeli, misal bertambah gemuk atau malah hamil. Karena status pertambahan itu mengikuti hewan yang sudah diperjual-belikan. Demikian juga jual beli yang dikembalikan karena ada cacat, jika terjadi perkembangan dan hal baru, maka diikutkan mabi’ untuk dikembalikan pada penjual.

Hikmah kaidah dalam kehidupan. Pahami status dan posisi kita dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. Sebagai rakyat tentu harus mentaati instruksi pemerintah, sebagai warga harus mengikuti aturan RT/RW dan kepala dusun, kepala desa, dan seterusnya.

Sebagai penganut suatu agama tentu harus mengikuti himbauan tokoh agama. Sebagai pengikut tentu mengikuti arahan pemimpin, bukan malah bertindak sebagai pemimpin. Konsep sadar diri akan status dan posisi akan menciptakan kehidupan yang harmoni. []

Wallahu ‘alam