kaidah fikih kondisi dinamis
kaidah fikih kondisi dinamis

Kaidah Fikih: Faktor Kesengajaan Menjadi Tolok Ukur

Agama Islam begitu detail dan hati-hati dalam menghargai hak sesama manusia. Di satu sisi Islam sangat menghargai dan menjunjung tinggi kepemilikan harta dan jiwa orang lain. Namun, di sisi lain Islam tetap memperhatikan secara proporsional terhadap hak-hak pribadi masing-masing manusia. Dengan demikian, Islam tidak serta-merta dan semena-mena membebankan tanggung jawab kepada seseorang yang terlibat dalam aksi kerusakan, baik harta maupun jiwa manusia.

Dalam penjelasan kaidah-kaidah sebelumnya, setidaknya ada tiga kelompok yang terlibat dalam sebuah kasus kerusakan; pihak yang mempunyai gagasan, ide, inisiatif (al-amir), pihak eksekutor, pelaku di lapangan (al-mubasyir), pihak yang menjadi perantara terjadinya kasusu tersebut (al-mutasabbib). Ketiga pihak ini yang paling bertanggung jawab adalah pelaku, baik sengaja atau tidak sengaja ia tetap harus bertanggung jawab terhadap kerusakan yang terjadi. Akan tetapi, pihak yang menjadi perantara tidak dikenakan tanggung jawab kecuali ada unsur kesengajaan, sebagaimana kaidah fikih berikut ini:

اَلْمُتَسَبِّبْ لاَ يَضْمَنُ اِلَّا بِالتَّعَمُّدِ.

 (Al-mutasabbib la yadlmanu illa bi al-ta’ammud)

Artinya: “Perantara tidak dikenakan tanggung jawab, kecuali ada unsur kesengajaan”

Maksud kaidah ini bahwa pihak yang menjadi perantara terjadinya kasus yang mengakibatkan kerusakan harta, anggota tubuh, atau jiwa, secara hukum syariat tidak bertanggung jawab atas kejadian tersebut, kecuali ada unsur kesengajaan. Karena perantara bukanlah penyebab satu-satunya yang membuat kerusakan, sehingga tidak sepantasnya dikenakan tanggung jawab, terkecuali memang sejak awal ada unsur kesengajaan.

Dimaksud dengan sengaja dalam kaidah ini adalah ada niat dan tujuan tertentu yang dapat ditimbukan akibat perbuatannya, bukan efek beruntun yang berkemungkinan terjadi. Misalnya, dengan membakar petasan Si Bolang hendak menakut-nakuti domba milik tetangganya, tetapi di luar dugaan akibat ketakutan domba tersebut lari membentur kaca rumah milik tetangganya. Maka Si Bolang tetap bertanggung jawab terhadap kerusakan kaca rumah tersebut, meskipun tidak berniat merusak kaca. Tetapi dengan berniat menakut-nakuti domba saja sudah cukup untuk dikatakan ada unsur kesengajaan. (Muhammad Mushthafa al-Zuhaili, Al-Qawaid al-Fiqhiyyah wa Tathbiqatuha fi al-Mazahib al-Arba’, hal. 568., Ahmad bin Syekh Muhammad al-Zarqa’, Syarh al-Qawaid al-Fiqhiyyah, hal. 455).

Baca Juga:  Kaidah Fikih Cabang Ketiga: Lakukan Yang Ringan, Hindari Yang Berat

Dari kaidah ini dan kaidah sebelumnya yang membahas tentang tanggung jawab dapat disimpulkan bahwa asas tanggung jawab dalam Islam berdasarkan pada al-ta’addi, melampaui batas, melanggar aturan. Alta’addi dapat terwujud dalam dua hal. Pertama, pada pihak pelaku langsung yang telah melanggar hak-hak orang lain. Kedua, pada pihak perantara yang melanggar batas-batas ketentuan syariat, sehingga menyebabkan kemudaratan bagi orang lain. (Ibrahim Muhammad Mahmud al-Hariri, Al-Madkhal ila al-Qawaid al-Fiqhiyyah al-Kulliyah, hal. 156).

Aplikasi kaidah: para pedagang yang membuka lapak di pinggir jalan dengan cara mengambil ruas jalan, tanpa seizin pihak yang berwenang berarti telah melanggar aturan. Jika keberadaannya membuat jalan menjadi sempit dan mengakibatkan kemudaratan bagi pengguna jalan umum, sehingga terjadi kecelakaan, maka sebenarnya pedagang tersebut ikut bertanggung jawab terhadap terjadinya kasus kecelakaan yang terkait dengan sempitnya ruas jalan.

Andai kata Pak Dedy menyerahkan sebuah pisau tajam kepada anak tetangga yang masih belum cukup umur saat mengembalikan pisau yang dipinjamnya, lalu pisau tersebut terjatuh saat dibawa si anak dan melukai tubuhnya, maka Pak Dedy bertanggung jawab atas kejadian tersebut. (Muhammad Mushthafa al-Zuhaili, Al-Qawaid al-Fiqhiyyah wa Tathbiqatuha fi al-Mazahib al-Arba’, hal. 568., Ahmad bin Syekh Muhammad al-Zarqa’, Syarh al-Qawaid al-Fiqhiyyah, hal. 455-456).

Hikmah kaidah dalam kehidupan: pikirkan secara matang setiap tindakan dan langkah yang akan kita lakukan. Jangan hanya berpikir buat keuntungan pribadi, namun pikirkan kerugian-kerugian dan kemudaratan yang dirasakan oleh orang lain akibat dari tindakan dan langkah yang kita lakukan. Karena sejatinya kita ikut menanggung dosa sosial atas kesulitan yang mereka rasakan akibat tidak langsung dari tindakan dan langkah kita. []

Baca Juga:  Haramkah Memotong Jenggot ?

Wallahu a’lam Bisshawab.

Referensi utama:

Ibrahim Muhammad Mahmud al-Hariri, Al-Madkhal ila al-Qawaid al-Fiqhiyyah al-Kulliyah, hal. 155.

Ahmad bin Syekh Muhammad al-Zarqa’, Syarh al-Qawaid al-Fiqhiyyah, hal. 455.

Muhammad Mushthafa al-Zuhaili, Al-Qawaid al-Fiqhiyyah wa Tathbiqatuha fi al-Mazahib al-Arba’, hal. 568.

Bagikan Artikel ini:

About Zainol Huda

Alumnus Ma’had Aly Salafiyah Syafi’iyah Situbondo dan Dosen STAI Miftahul Ulum Tarate Sumenep.

Check Also

tahiyyatal masjid

Fikih Shalat Sunah (4): Shalat Menghormati Masjid

Salah satu unsur penting dalam institusi agama adalah tempat ibadah. Tempat ibadah menjadi simbol agama …

tindakan hewan

Kaidah Fikih: Menyikapi Tindak-Tanduk Hewan

Objek yang menjadi perhatian dalam hukum adalah perilaku manusia (fi’i al-mukallaf). Di luar perilaku tidak …