Ulama Panutan

Jangan Sekedar Ikut-ikutan, Ini Tolok Ukur Ulama yang Patut dijadikan Panutan

Di Indonesia, hanya ‘bermodalkan’ jubah dan angka followers medsos, sudah bisa dianggap sebagai orang yang dijadikan panutan (uswah)dan diberi gelar ustadz dan semacamnya. Begitu mudah dan ‘murah’ menyandang sebagai pendakwah. Bahkan, ada seseorang yang hampir setiap hari mengolok-ngolok golongan lain dengan perkataan yang kasar, tetapi ia justru memiliki pengikut dan simpatisan banyak.

Anehnya lagi, seseorang yang memiliki track record tidak baik, justru dijadikan sebagai panutan dan dipuja-puja. Apakah ini mencerminkan bahwa dalam memilih panutan, hanya umat hanya sekedar ikut-ikutan? Entahlah. Terlepas dari itu, tulisan ini akan membahas dan mengupas terkait tolok ukur seseorang patut dijadikan sebagai panutan dan layak untuk diikuti.

Tolok ukur ini menjadi sangat penting karena berkaitan dengan hajat hidup orang banyak. Ketika umat salah dalam memilih teladan dan meneladani seseorang, maka akan berakibat pada kerusakan dan kerugian dalam aspek kehidupan berbangsa, beragama bahkan sampai di alam baka. Dengan demikian, memilih seseorang untuk dijadikan sebagai teladan tidak boleh hanya sekedar ikut-ikutan, apalagi asal-asalan. Sebab, keteladanan adalah cara mendidik, membimbing dengan menggunakan contoh yang baik sesuai dengan nilai-nilai Islam yang diridhoi oleh Allah Swt.

Tolok Ukur

Memilih teladanan, sekalipun itu adalah tokoh agama, tetap perlu mengedepankan beberapa hal (tolok ukur) karena tidak semua orang atau tokoh agama sekalipun dapat melenceng sehingga harus dijauhi. Sebab, keteladanan itu nantinya yang akan menjadi magnet bagi pengikutnya untuk mengikuti dan melaksanakan apa yang diinginkan oleh yang dijadikan panutan. Sehingga, sekali lagi, penting bagi umat untuk selektif dalam menjadikan seseorang sebagai panutannya.

Setidaknya ada beberapa tolok ukur seseorang dapat dijadikan sebagai panutan. Tentunya tolok ukur di sini ditinjau dalam perspektif nilai-nilai Islam. Pertama, memiliki aqidah yang lurus. Tokoh agama, ustadz dan sebutan sejenis lainnya, pada dasarnya adalah landasan spiritual, moral dan etika daam hidup dan kehidupan umat manusia. Oleh karena itu, mereka harus memiliki aqidah yang lurus.

Baca Juga:  Argumen Agama: Mencegah Lebih Baik dari Mengobati

Aqidah adalah pondasi utama yang ditegakkan dalam ajaran Islam. Dan syariat Islam menggendaki umatnya agar memiliki aqidah yang lurus. Dalam kitab Al-Wajiz fi ‘Aqidatis Salafish Shalih Ahlis Sunnag wa Jama’ah karya Syaikh ‘Abdullah bin ‘Abdul Hamid al-Atsari dijelaskan bahwa penguatan penanaman aqidah diperlukan agar umat tidak mudah terbawa arus aqidah yang ‘sesat’.

Tak dapat dipungkiri pula bahwa saat ini telah banyak aliran-aliran yang menyimpang dan pemikiran-pemikiran yang sesat. Ulama atau tokoh agama yang menjadi panutan harus memiliki aqidah yang lurus sehingga ia dapat menjernihkan aqidah umat dan menyatukan serta mengokohkan kekuatan umat di bawah landasan aqidah yang benar. Hal ini sebagaimana ditegaskan oleh Allah sebagai berikut:

Dan inilah jalan-Ku yang lurus, maka ikutilah dia! Dan janganlah kamu mengikuti jalan-jalan (yang lain) karena jalan-jalan itu mencerai-beraikan kamu dari jalan-Nya. Yang demikian itu diperintahkan Allah dan kepadamu agar bertakwa.” (QS. Al-An’am: 153).

Kedua, memiliki akhlak karimah. Jika kita mengupas tentang panutan, maka sesungguhnya kita tidak bisa melepaskan diri dari Rasulullah Saw. Sebab, Rasulullah adalah panutan (uswah) yang terbaik dan label tersebut bukan dari manusia, melainkan wahyu Allah yang mengatakannya. Dan Rasulullah dijadikan sebagai teladan oleh umat Islam di seluruh dunia, diantaranya karena beliau memiliki akhlak karimah, rendah hati, lembut dan menyejukkan.

Di dalam Kitab Musnadz Tirmidzi pada hadis ke 2002, Nabi Muhammad Saw bersabda:

إنَّ أثقَلَ ما وُضِع في ميزانِ المؤمِنِ يومَ القيامةِ خُلُقٌ حسَنٌ وإنَّ اللهَ يُبغِضُ الفاحشَ البذيءَ

Artinya: “Sesungguhnya perkara yang lebih berat di timbangan amal bagi seorang Mu’min adalah akhlak yang baik. Dan Allah tidak menyukai orang yang berbicara keji dan kotor” (HR. At Tirmidzi no. 2002).

Baca Juga:  Mau Iman, Aman atau Amanah?

Dengan demikian, jika ada da’i, kyai, ulama, habib dan gelar sejenis lainnya, namun ia gemar berbicara keji dan kotor, bahkan mendoakan sesama muslim dengan doa yang jelek-jelek dan hina, maka patut dipertimbangkan untuk dijadikan sebagai panutan.

Ketiga, taat aturan (hukum). Meskipun ia adalah seorang ulama besar yang memiliki keilmuan yang mumpuni sekalipun, ketika ia hidup dalam suatu negara, maka ia wajib menaati hukum yang berlaku di negara tersebut. Apalagi hukum tersebut untuk kepentingan bersama dan tidak bertentangan dengan agama. Sikap seenaknya saja, merasa hebat dan kebal hukum sehingga berlaku semena-mena, tidak taat hukum, maka ulama yang demikian itu juga patut dipertanyakan integritas dan pemahaman keagamaannya.

Sebagaimana firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

 يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا أَطِيعُوا اللَّهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ وَأُولِي الْأَمْرِ مِنكُمْ

Artinya: “Hai orang-orang yang beriman taatilah Allah dan taatilah Rasul-(Nya) dan ulil amri di antara kalian.” (QS. An-Nisa: 59).

Selama perintah pemerintah berdasarkan hukum yang berlaku dan tidak menyelisihi Alquran dan hadis, maka umat Islam, baik orang awam maupun orang alim sekalipun, harus menaati aturan tersebut. Dalam hadis yang cukup masyhur, Rasulullah bersabda:

Wajib bagi seorang manusia untuk selalu mendengarkan dan taat kepada pemimpin kaum Muslimin dalam hal-hal yang disukainya atau dibencinya selama tidak diperintahkan berbuat maksiat kepada Allah, maka jika dia diperintahkan untuk berbuat maksiat kepada Allah, jangan dia dengar dan jangan dia taat.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Bagikan Artikel
Best Automated Bot Traffic

About Muhammad Najib, S.Th.I., M.Ag

Avatar
Penulis Buku Konsep Khilafah dalam Alquran Perspektif Ahmadiyah dan Hizb Tahrir