kaidah fikih
kaidah fikih

Kaidah Fikih: Yang Tersembunyi Menjadi Tampak

Tak ada yang mampu menyelam dan memahami hati dan pikiran seseorang. Pikiran, niat, bisikan hati hanya diketahui oleh pemiliknya, dia dan Tuhan. Perilaku dan tindakan yang tampak terkadang tak mewakili apa yang terbersit dalam hati. Namun demikian, setiap tindakan mempunyai motif tersendiri yang bisa terbaca melalui analisis terhadap indikator-indikator tertentu.

Seorang sosiolog berkebangsaan Jerman, Max Weber membagi tipe tindakan sosial menjadi empat macam. Pertama, rasionalitas instrumental, yaitu tindakan yang dilakukan berdasarkan tujuan sang aktor dan dialah sendiri yang mengupayakan untuk mencapai tujuan tersebut. Kedua, rasionalitas nilai, yakni tindakan yang didasarkan pada nilai-nilai yang diyakini aktor secara personal. Ketiga, tindakan afektif, yaitu tindakan yang ditentukan oleh kondisi emosional si pelaku. Keempat, tindakan tradisional, yaitu tindakan yang didasarkan atas kebiasaan-kebiasaan atau tradisi yang sudah ada di lingkungan sekitarnya.

Adagium fikih menyatakan, nahnu nahkumu bidh dhawahir (kami memutuskan hukum berdasarkan kondisi lahir). Fikih menilai dari aspek yang tampak, aspek luar saja. Pada dasarnya fikih tidak memiliki kepedulian dan tidak berurusan dengan yang tersembunyi, aspek batin. Namun, keberadaan sesuatu yang tersembunyi jika menguap ke permukaan, dan tampak melalui indikasi perilaku dan tindakan ataupun kondisi yang mengitari, dapat dijadikan potret yang akan direkam dan ditangkap oleh fikih, sebagaimana kaidah berikut ini:

دَلِيْلُ الشَّيْئِ فِي اْلاُمُوْرِ اْلبَاطِنَةِ يَقُوْمُ مَقَامَ الظَّاهِرِ.

(dalilus syai’i fil umuril bathinah yaqumu maqamaz dhahir)

Artinya: “Indikator adanya sesuatu yang tersembunyi menempati posisi sesuatu yang tampak.”

Maksud kaidah ini bahwa adanya indikator kuat yang dapat menjadi penanda terhadap keberadaan sesuatu yang tersembunyi dapat diposisikan sebagai sesuatu yang tampak, menjadi dhahir. Sehingga, indikator tersebut dapat dijadikan sebagai pijakan hukum.

Baca Juga:  Kaidah Fikih Induk Kelima : Berpijak di atas Tradisi

Aplikasi kaidah: dalam konteks transaksi jual beli adanya saling rela dari kedua belah pihak menjadi syarat penentu sahnya transaksi. Namun, sifat saling rela tak dapat dijangkau pancaindera, karena letaknya tersembunyi dalam hati dan pikiran, lalu dibuatlah indikator yang dapat mewakili sesuatu yang tersembunyi tersebut berupa ungkapan ijab dan kabul dari kedua belah pihak yang melakukan transaksi. Dengan demikian, ijab dan kabul menjadi penentu sah dan tidaknya jual beli.

Seorang pejabat negara dengan gaji yang sudah maklum memiliki sejumlah kekayaan yang terbilang mewah, semisal mempunyai koleksi mobil mewah dengan harga ratusan juta rupiah, membangun rumah pribadi di beberapa tempat dengan anggaran miliyaran rupiah. Padahal sebelum menjadi pejabat ia diketahui tidak memiliki kekayaan berupa harta warisan atau sumber pendapatan lain yang jelas omzetnya. Indikator kekayaan yang tak jelas sumbernya tersebut dapat dijadikan pijakan bahwa ia telah melakukan penyalah gunaan wewenang dan malakukan tindak pidana korupsi.

Jika seorang pembeli telah melihat dan mengetahui cacat yang ada pada objek transaksi (mabi’), namun ia masih melanjutkan tawaran dan lobi-lobi pembeliannya, berarti ia sudah tidak ada masalah (rela) dengan cacat yang ada. Berlanjutnya tawaran dan lobi-lobi menjadi indikator adanya kerelaan dalam hati.

Hikmah kaidah dalam kehidupan: jika kita mau membaca setiap keadaan dan tanda-tanda Tuhan yang terdapat pada alam dan dalam diri manusia sendiri, akan semakin tampak kebesaran dan misteri Tuhan yang tersembunyi di balik setiap peristiwa. []

Wallahu a’lam Bisshawab.

Referensi Utama:

Ahmad bin Syekh Muhammad al-Zarqa’, Syarh al-Qawaid al-Fiqhiyyah, (Damaskus: Dar al-Qalam, Cet. II, tt.), 345-346.

Muhammad Mushthafa al-Zuhaili, Al-Qawaid al-Fiqhiyyah wa Tathbiqatuha fi al-Mazahib al-Arba’ah (Beirut: Dar al-Fikr, Cet. III, 2009), 576-578.

Baca Juga:  Kaidah Fikih: Satu Obyek, Beda Status

Ibrahim Muhammad Mahmud al-Hariri, Al-Madkhal ila al-Qawaid al-Fiqhiyyah al-Kulliyah, hal. 161-162.

Bagikan Artikel ini:

About Zainol Huda

Alumnus Ma’had Aly Salafiyah Syafi’iyah Situbondo dan Dosen STAI Miftahul Ulum Tarate Sumenep.

Check Also

harus berdoa

Mengapa Harus Berdoa, Jika Takdir Telah Ditetapkan?

Pada tahun 1998 jagat pertelevisian Indonesia dihebohkan dengan lirik sebuah lagu yang dilantunkan oleh aktris …

kaidah ungkapan

Kaidah Fikih: Keterbatasan Sebuah Pengakuan

Kodrat alam menyatakan bahwa perjalanan kehidupan dunia adalah pertarungan dua kutub yang berlawanan, min-plus. Kehidupan …