Fikih Kurban
Kurban

Fikih Kurban Lintas Madhab (4): Hewan Kurban untuk Berapa Orang?

Berkurban bukan hanya semata ibadah, ia lebih dari itu. Ibadah sekaligus melatih diri untuk berbagi. Pada saat penyembelihan hewan kurban ada ketakwaan sekaligus kepedulian kepada yang liyan. Itulah alasannya kenapa Nabi sebagaimana diriwayatkan dalam hadits-haditsnya tidak pernah absen berkurban. Juga, kenapa beliau meninggalkan jejak-jejak sunnah beragam tentang berapa orang yang bisa terwakili oleh seekor hewan kurban.

Tidak lain tujuannya supaya semua umat Islam memiliki kesempatan melakukan ibadah kurban yang oleh mayoritas ulama dihukumi sunnah muakkadah, sunnah yang mendekati wajib karena Nabi istiqamah mengerjakan.

Maka, tidak heran kalau kemudian kita melihat bentangan rahmat dalam perbedaan pendapat ulama madhab. Sebagai bukti kemudahan agama Islam dan pengharapan Baginda Nabi supaya umatnya peduli untuk berkurban.

Perbedaan para ulama tentang satu ekor hewan kurban bisa mewakili berapa orang, salah satunya direkam dalam tulisan Ibnu Rusyd dalam karya fikihnya Bidayatul Mujtahid wa Nihayatul Miqtashid.

Imam Malik berpendapat, seseorang boleh berkurban kambing, sapi atau unta untuk dirinya dan untuk keluarga yang nafkahnya menjadi tanggungannya secara syariat. Di sini terlihat Imam Malik tidak membatasi jumlah anggota keluarga.

Menurut Imam Syafi’i, Imam Abu Hanifah dan segolongan ulama, satu ekor unta bisa untuk tujuh orang, demikian juga seekor sapi. Sementara seekor kambing hanya untuk satu orang.

Khusus kambing, mayoritas ulama sepakat, seekor kambing hanya bisa untuk satu orang, kecuali menurut Imam Malik yang memperbolehkan berkurban seekor kambing untuk dirinya dan untuk keluarga yang nafkahnya menjadi tanggungannya. Seperti telah dijelaskan baru saja.

Pendapat Imam Malik ini bukan dalam konteks patungan, sekalipun hanya seorang saja yang membeli kambing tersebut tetap bisa dijadikan kurban keroyokan satu keluarga. Namun, menurut Imam Abu Hanifah dan Imam Tsauri hukumnya makruh.

Baca Juga:  Hukum Perempuan Shalat Jum'at

Imam Malik mendalilkan pendapatnya pada hadits Nabi riwayat Aisyah. Suatu ketika Aisyah berkata: “Ketika kami berada di Mina, kami mendapat kiriman daging sapi. Kami bertanya: ‘Apa ini’? Para sahabat menjawab: “Rasulullah berkurban untuk istri-istrinya”.

Perbedaan pendapat ulama tersebut terjadi karena ada kontradiksi antara hukum asal kurban dan qiyas.

Hukum asal kurban mengatakan, satu hewan kurban hanya untuk satu orang. Karenanya, ulama sepakat melarang patungan kambing untuk kurban, karena kambing hanya mewakili satu orang saja.

Hal ini karena perintah untuk berkurban tidak terbagi (untuk kolektif, tapi perorangan). Ketika sekelompok orang patungan membeli seekor hewan kurban, maka sebutan orang yang berkurban (mudhahhi) tidak ada pada mereka. Kecuali kalau ada dalil yang membolehkan.

Tetapi, kenyataannya atsar para sahabat ada yang berbeda dengan hukum asal kurban. Ada banyak informasi tentang praktik kurban sahabat satu ekor unta atau sapi untuk tujuh ekor. Ini kemudian yang dijadikan dalil dan bertentangan dengan hukum asal. Perbedaan pendapat antara ulama yang konsisten dengan hukum asal dan para ulama yang mengikuti tradisi berkurban para sahabat tidak bisa dihindari.

Dari sahabat Jabir, ia berkata, “Kami berkurban unta bersama Nabi pada Amul Hudaibiyah untuk tujuh orang “.

Dalam beberapa hadits Rasulullah seringkali berkurban seekor unta untuk tujuh orang, dan seekor sapi juga untuk tujuh orang.

Imam Syafi’i dan Imam Abu Hanifah kemudian menganalogikan (qiyas) kurban dengan hadiah atau sedekah untuk mayit. Sedangkan Imam Malik lebih mengunggulkan hukum asal kurban dari pada qiyas terhadap atsar sahabat.

Inilah sumber perbedaan pendapat ulama madhab di atas.

Namun perlu diketahui, dalam konteks patungan kurban semua ulama dengan segala perbedaan yang telah dijelaskan sepakat maksimal hanya tujuh orang, sekalipun ada riwayat dari Rofi’ bin Khodij, Ibnu Abbas, dan lain-lain mengatakan unta untuk sepuluh orang. Karena riwayat-riwayat tersebut menurut para ulama tidak shahih. Salah satunya dikatakan oleh Al Thahawi.

Baca Juga:  Keutamaan dan Tata Cara Puasa Sunnah Enam Hari Setelah Ramadhan

 

Bagikan Artikel ini:

About Faizatul Ummah

Alumni Pondok Pesantren Salafiyah Syafi'iyah Sukorejo

Check Also

puasa dzulhijjah

Istri Puasa Sunnah 10 Hari Pertama Bulan Dzulhijjah Tanpa Ijin Suami, Inilah Pendapat Ulama Madzhab

Bulan Dzulhijjah merupakan salah satu bulan yang dimuliakan tentang kemuliaan bulan Dzulhijjah disebutkan dalam al …

Pernikahan beda agama

Pernikahan Beda Agama dalam Perspektif Islam dan Negara

Pernikahan beda agama kembali menjadi polemik dan perbincangan hangat publik Indonesia. Topik ini semakin hangat …