mandi janabah
mandi janabah

Fikih Muslimah (3): Mencicil Mandi Janabah

Mandi janabah adalah mandi wajib untuk menghilangkan hadas besar. Hukumnya wajib. Mandi janabah tidak ubahnya mandi keramas biasa, bedanya hanya kalau mandi janabah terikat pada niat dan keharusan meratakan air ke seluruh anggota badan.

Sebagaimana ditulis oleh Syaikh Salim bin Sumair al Hadhrami dalam salah satu karya fikihnya, Safinatu al Naja, ada dua rukun janabah yang tidak boleh ditinggalkan. Yaitu, niat dan meratakan air ke seluruh tubuh.

Bagi orang yang junub karena telah melakukan hubungan badan dan keluar mani niatnya adalah “Saya berniat mandi untuk menghilangkan hadas besar sebab  junub”. Sedangkan bagi perempuan yang telah selesai haid atau nifas niatnya “Saya berniat mandi untuk menghilangkan hadas besar karena haid atau nifas”. Niat dilakukan bersamaan dengan sampainya air terhadap anggota badan, bagian yang mana saja.

Apabila dikaji lebih jauh, ada pembahasan yang masih tersisa dari rukun mandi janabah yang kedua, yakni meratakan air ke seluruh tubuh. Apakah harus dilakukan sekaligus, atau bisa dilakukan secara bertahap dan ada jeda waktu?

Misalnya, mandi hanya membasahi kepala dan rambut dulu, selang beberapa jam kemudian mandi kembali dan hanya meratakan air pada bagian tubuh selain kepala dan rambut. Dengan kata lain bolehkah mencicil mandi janabah?

Mandi janabah dalam kondisi tertentu berat untuk dilakukan. Terutama apabila junub atau haid dan nifas tuntas pada malam hari sebelum shubuh. Ditambah misalnya cuca dingin yang ekstrim. Tapi bagaimanapun ia tetap wajib mandi untuk bisa melaksanakan shalat shubuh.

Dalam pembahasan thaharah (bersuci) ada istilah muwalah (membasuh berturut-turut tanpa jeda waktu). Kalau muwalah ini menjadi maka mencicil wudhu atau mandi besar tidak boleh. Tapi kalau hukumnya tidak wajib, semisal hanya sunnah, maka mencicil wudhu atau mandi janabah boleh. Untuk itu perlu melihat pendapat ulama fikih tentang hal ini.

Baca Juga:  Puasa Tapi Tidak Shalat, Bagaimana Hukumnya?

Ternyata, ulama madhab berbeda pendapat tentang muwalah dalam konteks mandi janabah. Penjelasan tentang hal ini bisa dibaca dalam Al Mausu’ah al Fiqhiyyah al Kuwaitiyyah (31/210). Disini tertulis, ulama fikih beda pendapat tentang muwalah dalam mandi janabah. Ada yang berpendapat wajib dan sebagian ada yang mengatakan sunnah.

Madhab Syafi’i, Hanafi dan Hanbali mengatakan muwalah dalam mandi janabah hukumnya sunnah berdasarkan hadis fi’li (perbuatan Nabi). Walaupun demikian, madhab Hanbali harus berniat lagi disaat mandi berikutnya apabila anggota badan yang dibasuh sebelumnya telah kering. Sedangkan menurut madhab Maliki hukumnya wajib.

Sampai disini sudah bisa ditarik kesimpulan. Menurut Madhab Maliki tidak boleh mencicil mandi janabah, tidak sah. Sebab muwalah dalam mandi janabah hukumnya wajib. Adapun menurut tiga madhab yang lain, Syafi’i, Hanafi dan Hanbali boleh mencicil mandi janabah sebab muwalah dalam mandi wajib ini hukumnya sunnah.

Dengan demikian, seandainya ingin mencicil mandi janabah sah-sah saja meskipun anggota yang dibasuh pertama kali telah kering dan tak perlu dibasuh kembali, cukup melanjutkan membasahi anggota yang sebelumnya tidak dibasuh. Hanya, menurut madhab Hanbali, kalau anggota yang pertama dibasuh telah kering wajib berniat kembali pada mandi yang kedua atau yang ketiga, kemudian melanjutkan membasahi anggota yang belum dibasuh.

Bagikan Artikel ini:

About Faizatul Ummah

Alumni Pondok Pesantren Salafiyah Syafi'iyah Sukorejo

Check Also

hari santri NKRI

Maulid Nabi, Hari Santri dan NKRI

Sederhana menjadi tanda khas kaum santri. Memakai sarung, songkok miring, dan sandal jepit. Busana yang …

toleransi sunnah nabi

Ulama Salaf Semangat Merayakan Maulid, Generasi Kini Semangat Berdebat Hujjah Maulid

Menurut pendapat yang masyhur, Rasulullah dilahirkan pada hari Senin 12 Rabi’ul Awal, Tahun Gajah. Bertepatan …