memilih pemimpin
pemimpin

Fikih Politik (3): Hukum Memilih Pemimpin dalam Islam

Dalam Islam, keberadaan seorang pemimpin adalah suatu keharusan. Dalam term fikih disebut “wajib bil aqli aw bis syar’i”. Dari sudut pandang dalil akal dan dalil agama, keberadaan pemimpin adalah niscaya.

Tentang kewajiban memilih pemimpin seringkali dilontarkan oleh Nabi. Tidak sedikit hadits yang membicarakan akan hal itu.

Dari Abu Hurairah, Nabi berkata: “Jika ada tiga orang bepergian, hendaknya mereka mengangkat salah seorang diantara mereka menjadi pemimpinnya “. (HR. Abu Daud)

Tausiyah Nabi dalam hadits ini sangat jelas, betapa pentingnya mengangkat seorang pemimpin. Dalam komunitas yang sangat kecil saja beliau memerintahkan untuk mengangkat seorang pemimpin, apalagi dalam komunitas besar seperti negara.

Pada hadits yang lain Nabi bersabda: “Tidak halal (dibenarkan) bagi tiga orang yang berdiam disuatu tempat, kecuali apabila mereka mengangkat salah satu diantara mereka sebagai pemimpin” (HR. Abu Daud)

Imam al Mawardi dalam kitabnya Ahkamus Sulthaniyah menulis, kepemimpinan adalah diskursus dan ikhtiar untuk melanjutkan estafet  kenabian. Berfungsi untuk menjaga agama dan mengatur urusan duniawi. Maka, bagi masyarakat yang tinggal dalam suatu negara mengangkat seorang pemimpin hukumnya wajib berdasarkan ijma’ ulama. Karena baik dalil aqli dan naqli sama-sama mewajibkan adanya seorang pemimpin.

Masdar Farid Mas’udi dalam bukunya Agama Keadilan menjelaskan, yang dimaksud dengan aqli adalah pertimbangan nalar, sementara syar’i adalah pertimbangan nurani. Dalam hal ini, ulama Ahlussunah memiliki pertimbangan yang lebih bijak dibanding Mu’tazilah. Karena belum tentu apa yang dibenarkan oleh nalar diterima oleh nurani. Sementara apa yang menurut nurani benar, mesti dibenarkan atau sekurang-kurangnya tidak ditentang oleh nalar. Tapi, ujung dari perdebatan antara Mu’tazilah dan Ahlussunah sama-sama berkesimpulan; nasbul imam (pengangkatan pemimpin) adalah wajib.

Baca Juga:  Kaidah Fikih Cabang Kedua: Makna Sebuah Ungkapan

Secara nalar, kewajiban nasbul imam karena masyarakat manapun pasti membutuhkan suasana stabil, damai dan aman. Sebagaimana maklum, karakter dan kepentingan masing-masing individu berbeda, yang kuat bisa menindas yang lemah untuk mewujudkan kepentingannya. Karenanya, pemimpin sangat dibutuhkan untuk mengatur dan menciptakan suasana yang stabil. Tanpa seorang pemimpin suasana aman nan damai mustahil terwujud. Akal sehat pasti menerima kenyataan ini.

Secara syar’i, Tuhan telah menurunkan seperangkat aturan melalui Rasul untuk mewujudkan kemaslahatan manusia. Diantaranya adalah ketaatan kepada Ulil Amri (pemimpin). Pemimpin bertugas mengatur stabilitas masyarakat lahir dan batin. Baik melalui aturan yang sifatnya ta’abbudi (ibadah) maupun ghairu ta’abbudi (non ibadah). Intinya, mengangkat seorang pemimpin adalah cara Tuhan untuk menjamin terwujudnya kemaslahatan bersama bagi masyarakat.

Imam Ghazali dalam kitabnya Nasihatul Muluk menulis, rasa aman akan tercipta hanya dengan siasat politik seorang pemimpin. Maka dari itu, seorang pemimpin mesti menggunakan siasat politik yang dilaksanakan dengan cara yang adil. Seorang pemimpin adalah wakil Allah di muka bumi.

Imam Ghazali kemudian menetapkan standar siapa yang layak diangkat menjadi pemimpin. Ada empat syarat yang harus dimiliki oleh seorang pemimpin; pertama, najdat, memiliki kekuatan dan wibawa. Kedua, kifayah, memiliki kecakapan untuk menyelesaikan segala persoalan. Ketiga, wara’. Dan keempat, memiliki ilmu pengetahuan, utamanya ilmu politik.

Dengan demikian, kewajiban memilih seorang pemimpin harus diimbangi dengan kriteria siapa yang akan dipilih menjadi pemimpin. Sosok pemimpin ideal adalah mereka yang memilki kualitas, intelektual dan moral.

Sudah cukup jelas, berdasar hadits-hadits Nabi dan kesepakatan ulama, mengangkat seorang pemimpin hukumnya wajib. Dan, yang paling layak menjadi seorang pemimpin adalah mereka yang memiliki kualifikasi seperti disebutkan oleh Imam Ghazali.

Baca Juga:  Berbondong-bondong Shalat Berjamaah Saat Ramadan, Apakah Anak Kecil dapat Memutus Shaf?

 

Bagikan Artikel ini:

About Faizatul Ummah

Alumni Pondok Pesantren Salafiyah Syafi'iyah Sukorejo

Check Also

kriteria pemimpin

Fikih Politik (1): Kriteria Pemimpin dalam Islam

Tahun politik aromanya telah tercium. Pilpres 2024 mulai menjadi obrolan utama. Di media massa, di …

Fikih Kurban

Fikih Kurban Lintas Madhab (4): Hewan Kurban untuk Berapa Orang?

Berkurban bukan hanya semata ibadah, ia lebih dari itu. Ibadah sekaligus melatih diri untuk berbagi. …