islam formalitas
islam formalitas

Hanya Islam Formalitas Belaka

Islam nampak meriah dalam berbagai kehidupan. Adzan di mana-mana dan masjid pun berteberan. Jilbab menjadi cukup populer dikenakan dari orang awam hingga selebritis. Panorama kesalehan ditampilkan di ruang publik dan media sosial. Cukupkah itu menjadi parameter kokohnya Islam?

Berislam saja tidak cukup. Pondasi keimanan memiliki peran penting untuk membedakan seseorang hanya berislam atau sedang pura-pura Islam. Islam hanya tampilan dan aksesoris belaka, tetapi iman belum masuk dalam hati seseorang. Islam hanya ditegaskan dengan syahadat tetapi keyakinan belum sepenuhnya kokoh dalam hati.

Persoalan ini sejatinya sudah pernah terjadi pada masa Rasulullah. Al-Quran merekamnya dalam Surat Al-Hujurat ayat 14 tentang kedatangan seorang Badui yang menyatakan diri telah berislam dan mengucapkan syahadat sebagai formalitas berislam. Berislam bukan karena ada ketukan hati sebagaimana keimanan seorang Umar bin Khattab yang memiliki hati keras namun bisa tersentuh ayat-ayat Tuhan.

Sekumpulan orang Badui mendatangi Rasulullah untuk mengikrarkan diri menjadi Islam. Konon, krisis ekonomi menimpa mereka karena penghasilan yang kian menurun. Mereka menyadari Islam merupakan agama yang memiliki kepedulian terhadap orang-orang miskin. Mereka bersepakat untuk masuk Islam dan mengucapkan syahadat.

Allah Maha Tahu sekecil apapun bahkan niat paling dalam dari hati seseorang. Jibril menemui Rasulullah dengan mengabarkan akan datangnya segerombolan orang badui yang ingin masuk Islam dengan berbagai motifnya. Kisah ini terekam dalam Al-Quran sebagai gambaran dan pelajaran bagi umat.

“Orang-orang Arab Badui itu berkata: “Kami Telah beriman”. Katakanlah: “Kamu belum beriman, tapi Katakanlah ‘kami Telah tunduk’, Karena iman itu belum masuk ke dalam hatimu; dan jika kamu taat kepada Allah dan Rasul-Nya, dia tidak akan mengurangi sedikitpun pahala amalanmu; Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS : Al-Hujurat : 14).

Allah memberikan teguran kepada Badui tentu kepada kita semua tentang cara berislam yang sesungguhnya. Berislam dimulai dengan keimanan, bukan Islam formalitas belaka. Bukan Islam hanya tampilan dan pengucapan saja. Bukan Islam aksesoris yang instan. Islam butuh keimanan.

Islam mempunyai tingkatan. Berislam adalah tampilan dhahir dan fisik yang bisa dilihat dan dipamerkan. Beriman adalah keteguhan hati yang hanya mempercayai Allah dan Rasulnya dan tanpa ragu berjuang sungguh-sungguh harta dan jiwa. Berislam bukan untuk motif mendapatkan harta dan kekuasaan. Berislam untuk berjuang dengan penuh ketaatan untuk Allah dan Rasul.

Islam formalitas belaka sama halnya dengan Islam orang badui tersebut. Islam hanya pengakuan dalam lisan bukan keteguhan dalam hati. Islam hanya ingin dilihat dan ditampilkan bukan diyakini dalam Tindakan dan perbuatan. Islam yang hanya ingin diakui sebagai bagian dari kelompok sosial, bukan penghayatan spiritual.

Tentu saja kita masih banyak menyaksikan Islam formalitas belaka. Seolah cukup berislam dengan tampilan, tetapi melupakan keimanan. Seolah memperjuangkan Islam, tetapi sebenarnya mempunyai kepentingan politik dan ekonomi. Islam model itu adalah berislam ala badui yang pernah ditegor oleh Allah dalam Al-Quran. Ingin hidup dengan memperjuangkan Islam, bukan berjuang untuk menghidupkan Islam.

Bagikan Artikel ini:

About Novi Nurul Ainy

Check Also

sirah nabi

Manfaat Majelis Maulid Nabi yang Jarang Dipahami

Nabi Muhammad hanyalah seorang manusia biasa yang dutus oleh Allah untuk membenarkan dan menyempurnakan agama-agama …

bekerja adalah bentuk jihad

Siklus Aktifitas Manusia itu Ibadah, Termasuk Bekerja adalah bentuk Jihad

Islam mendudukan manusia sebagai hamba yang diciptakan untuk beribadah kepada Allah. Secara fitrah berarti manusia …

escortescort