narasi thagut
narasi thagut

Meluruskan Narasi Thagut dalam Aksi Teror (1) : Rentetan Aksi Teror dengan Korban Aparat yang Dianggap Musuh

Cerita penangkapan Densus 88 Antiteror Polri terhadap pemuda berinisial IA di Malang menyisakan berbagai pelajaran penting. Salah satunya adalah keyakinan tersangka tentang aparat polisi yang dianggap sebagai thagut. IA telah berencana untuk melakukan serangan terhadap fasilitas milik thagut, yakni polisi dengan menggunakan fisik maupun senjata api atau senjata tajam.

Narasi tentang thagut terhadap aparat kepolisian tentu bukan kali ini terjadi. Narasi ini kerap diyakini oleh pelaku teror untuk melakukan aksi kekerasan. Tentu thagut tidak berdiri sendiri sebagai sebuah pemahaman. Namun, istilah mampu meradikalisasi seseorang bahkan anak muda untuk menyerang aparat kepolisian yang dianggap sebagai musuh.

Rentetan Aksi Teror kepada Aparat Di Balik Narasi Thagut

Tentu masih segar dalam ingatan kita tentang sosok ZA (25) tahun yang melakukan aksi nekat menyerang Mabes Polri (31/3/2021).  Zazkia Nampak begitu berani memasuki markas itu seorang diri dengan pura-pura menanyakan arah kantor pos. Ia kemudian melakukan penyerangan dengan senjata yang dibawanya. Dalam surat wasiat yang viral ia berpesan kepada keluarga termasuk kepada mamanya agar berhenti bekerja menjadi Dawis yang membantu kepentingan pemerintah thogut.

Tepat pada peringatan hari Lahir Pancasila (1/6/2020), Kantor Kepolisian Sektor Daha Selatan, Kabupaten Hulu Sungai Selatan, Kalimantan Selatan diserang pelaku yang membawa atribut ISIS. Pelaku melancarkan aksinya dengan sebuah samurai yang merenggut satu korban dari anggota kepolisian setempat.

Pada tahun 2019, di bulan Ramadan, ledakan tak terduga terjadi. Seorang remaja, RA (23) meledakkan diri di pos Polisi Kartasura, Sukoharjo, Jawa Tengah (3/6/2019). Siapa sangka, ia sudah berbai’at ke Pimpinan ISIS, Abu Bakar al Baghdadi sejak tahun 2018 silam. Tak selang waktu yang lana, pada sabtu (17/8/2019) seorang pemuda berinisial IM (30) menyerang anggota kepolisian Polsek Wonokromo, Surabaya dengan celurit. Pelaku berpura-pura membuat laporan pengaduan. Namun, saat petugas mengambil kertas, pelaku mengeluarkan senjatanya dari dalam tas dan melompat menyerangnya. Pelaku meyakini pemahaman jihad versi dirinya dari internet dan menganggap menyerang polisi sebagai thogut adalah mendapatkan pahala.

Baca Juga:  Nyawa Seorang Muslim Lebih Mulia Dari Apapun

Pun tak butuh waktu yang panjang, Polrestabes Medan dikejutkan dengan serangan yang relatif besar, bom bunuh diri. Sekitar 08.45 WIB, Rabu (13/11/2019) seorang pria dengan atribut ojek online berjalan ke lapangan parkir dengan alasan untuk mengurus SKCK. Pelaku inisial RMN (24) berstatus pelajar/mahasiswa. RMN diduga melilitkan bom itu di tubuhnya. Potongan tubuhnya berceceran di halaman Mapolrestabes Medan.

Istilah thagut juga pernah muncul dalam aksi teror yang diteriakkan pelaku sebelum sebelum menyerang polisi di Banyumas pada 11 April 2017. Pada tahun yang sama, pelaku teror juga menyerang  polisi di sekitar Masjid Falatehah, Blok M, Jakarta pada 30 Juni 2017 lalu.

Narasi-narasi teroris ini sungguh sangat membahayakan. Istilah thagut dimanipulasi sebagai penanam kebencian para pemuda untuk melancarkan aksinya secara brutal terhadap aparat kepolisian. Tentu hal memerlukan pemahaman yang jernih. Karena dalam beberapa kasus, istilah ini tidak membutuhkan mentor khusus. Anak remaja yang membaca konten di internet dengan bahan serupa akan mengalami radikalisasi dan beraksi secara brutal.

Tentu ada manipulasi yang secara besar-besaran dilakukan kelompok teroris untuk mencuci otak para pemuda dengan narasi thagut. Thagut memang istilah dalam Islam yang disebutkan pula dalam al-Quran. Sebagaimana jihad juga bagian dari ajaran Islam yang terdapat dalam al-Quran. Namun, sekali lagi kelompok teroris telah memanipulasi istilah ini untuk kepentingan kekerasan.

Lalu, bagaimana pemahaman thagut yang sebenarnya?

Bagikan Artikel ini:

About redaksi

Avatar of redaksi

Check Also

ACT menyalurkan zakat

ACT Bukan Bagian dari Organisasi Pengelola Zakat

Jakarta – Aksi Cepat Tanggap (ACT) ternyata bukan bagian dari organisasi pengelola zakat. Penegasan disampaikkan …

Asrorun Niam

Kasus ACT, MUI: Perlu Kehati-hatian Ganda Kelola Zakat

Jakarta –  Mengelola dana zakat diperlukan kehati-hatian ganda oleh lembaga amil zakat (LAZ). Ini penting …