mahasiswi taliban
mahasiswi taliban

Haruskah Memisahkan Laki-laki dan Perempuan dalam Majelis Ilmu?

Taliban, penguasa baru Afghanistan melalui Menteri Pendidikan Tinggi Abdul Baqi Haqqani mengeluarkan dekrit, mahasiswi dapat melanjutkan studi di universitas dengan satu syarat harus terpisah ruangan dari mahasiswa. Keputusan ini tampaknya menghindari apa yang disebut “ikhtilath” dalam fikih. Ikhtilath atau pembauran antar lain jenis dalam kondisi tertentu memang diharamkan. Akan tetapi, apakah keharaman tersebut juga berlaku dalam ruang publik seperti majelis ilmu?

Sebelum membahas hukum fikihnya, perlu disampaikan bahwa Tuhan menciptakan manusi, laki-laki dan perempuan, untuk bersama-sama dalam kehidupan. Keduanya memiliki kesempatan yang sama untuk menikmati kemanfaatan kehidupan. Kehidupan dunia tidak didesain oleh Tuhan hanya menguntungkan satu pihak dan merugikan pihak lain. Laki-laki dan perempuan hanya berbeda kelamin, bukan kesempatan. Hak dan kewajiban masing-masing telah diatur dengan adil dalam hukum Islam.

Termasuk aturan dalam ruang publik seperti berbaurnya laki-laki dan perempuan untuk suatu hajat tidak boleh sembarangan melakukan klaim hukum haram dan halal.

Mengenai aturan perempuan dalam ruang publik, ulama-ulama madzhab dalam kitab-kitab klasik mereka telah mengangkat tema terkait hukum aktivitas perempuan di ruang publik, soal aurat dan  pembauran antar lain jenis (ikhtilath) bukan mahram. Aurat menjadi illat (alasan hukum) utama, boleh tidaknya laki-laki dan perempuan berkumpul dalam satu area kehidupan tertentu.

Dalam kitab Sunan Abi Daud (4/543) dimuat satu hadis riwayat Hamzah bin Abi Usaid yang menceritakan Nabi melarang percampuran (ikhtilath) laki-laki dan perempuan di jalan. Beliau memerintahkan kaum hawa untuk berjalan di tepian jalan demi menghindari ikhtilath tersebut.

Dari hadis ini, jelas Nabi melarang ikhtilath lain jenis meskipun itu terjadi di ruang publik dan umum terjadi, yaitu di jalan. Namun demikian, jangan terburu-buru mengambil kesimpulan semua ikhtilath di ruang publik terlarang. Sebab, kita harus melihat dan membaca dengan teliti konteks yang mengitari hadis ini.

Baca Juga:  Taliban Mulai Haramkan Mencukur Jenggot, Langgar Hukum Islam

Untuk itu, perlu melihat beragam pendapat ulama madzhab tentang ikhtila, apakah mutlak dilarang atau ada batas-batas tertentu?

Dalam Al Mausu’ah al Fiqhiyyah al Kuwaitiyyah (2/290) ditulis mengenai hal ini. Laki-laki dan perempuan bukan mahram haram berbaur apabila terjadi khalwat (bersepi-sepi) yang menimbulkan syahwat sehingga rawan terjadi fitnah dan zina. Kedua, apabila perempuan tersebut tidak sopan, baik dalam pakaian maupun tingkah laku. Dan ketiga, terjadi persentuhan anggota badan.

Sedangkan ikhtilath karena suatu hajat (kebutuhan) yang disyariatkan hukumnya boleh. Seperti perempuan keluar rumah untuk shalat jamaah dan shalat hari raya. Bahkan sebagian ulama membolehkan perempuan melakukan ibadah haji disertai saudara atau teman laki-laki yang bisa dipercaya. Perempuan juga boleh melakukan muamalah dengan laki-laki seperti jual beli dan lain-lain.

Pendapat yang sama disampaikan oleh Imam Nawawi dalam kitabnya Al Majmu’Syarh al Muhaddzab (4/350), pembauran laki-laki dan perempuan bukan mahram dibolehkan dengan menjaga kaidah syariat dan dilakukan di ruang terbuka yang ramai, bukan di tempat sepi.

Sampai disini telah jelas, bahwa pembauran antar lain jenis bukan mahram tidak mutlak haram. Ada klasifikasi seperti telah dijelaskan. Dengan demikian, apa yang diputuskan oleh Taliban tentang syarat mahasiswi bisa melanjutkan studi haris terpisah ruang dengan mahasiswa merupakan kebijakan yang sangat egois.

Walaupun ada penegasan kebijakan berikutnya yang mewajibkan setiap lembaga pendidikan untuk menyediakan dua ruang, satu untuk mahasiswa dan satunya untuk mahasiswi. Tetapi, kalau menyatakan pembauran mahasiswa dan mahasiswi adalah mutlak haram merupakan keputusan yang tidak berdasar. Sebab ulama-ulama madhab membolehkan ikhtilath laki-laki dan perempuan bukan mahram di ruang publik, di area yang ramai seperti di sekolah dan majlis ilmu yang lain.

Bagikan Artikel ini:

About Faizatul Ummah

Alumni Pondok Pesantren Salafiyah Syafi'iyah Sukorejo

Check Also

hari santri NKRI

Maulid Nabi, Hari Santri dan NKRI

Sederhana menjadi tanda khas kaum santri. Memakai sarung, songkok miring, dan sandal jepit. Busana yang …

toleransi sunnah nabi

Ulama Salaf Semangat Merayakan Maulid, Generasi Kini Semangat Berdebat Hujjah Maulid

Menurut pendapat yang masyhur, Rasulullah dilahirkan pada hari Senin 12 Rabi’ul Awal, Tahun Gajah. Bertepatan …