Komjen Boy Rafli Amar
Komjen Boy Rafli Amar

BNPT Tanggapi Positif Peringatan Jepang Terkait Potensi Aksi Terorisme di Tempat Ibadah

Jakarta – Jepang mengeluarkan peringatan potensi ancaman terorisme di Indonesia dan lima negara ASEAN yaitu Malaysia, Filipina, Singapura, Thailand, dan Myanmar. Untuk itu, Jepang mengimbau warganya agar menjauh dari fasilitas keagamaan yang dianggap mereka berisiko tinggi menjadi target serangan teror di negara-negara tersebut.

Menaggapi peringatan itu, Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) menjelaskan telah melakukan kewaspadaan dan langkah-langkah antipasi dari ancaman terorisme. Tidak hanya di rumah ibadah, tetapi di seluruh tempat yang dinilai potensial.

“Salah satu program BNPT adalah kesiapsiagaan nasional yang artinya menguatkan pemahaman ideologi Pancasila kepada masyarakat rentan dan juga masyarakat secara umum, meningkatkan kemampuan aparatur agar tidak terpapar paham radikal terorisme, melakukan perlindungan terhadap obejek vital, fasilitas umum, termasuk di dalamnya rumah ibadah,mengembangkan kajian terorisme secara komprehensif, juga pemetaan daerah rawan radikal terorisme,” papar Kepala Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) Komjen Pol. Drs. Boy Rafli Amr, MH, dalam keterangan resmi, Rabu (15/9/2021).

Kendati demikian, Boy mengaku maklum dengan kekhawatiran Jepang itu. Ia menjelaskan bahwa pemerintah Indonesia selama ini telah melakukan pencegahan terorisme, penegakan hukum, dan kerja sama intenasional sesuai mandat Undang-Undang No 5 Tahun 2018.

Boy Rafli mengimbau perlu meningkatkan kewaspadaan bersama terhadap seluruh ancaman aksi teror, kapan pun dan dimana pun.

“Perlunya kewaspadaan bersama, karena jaringan terorisme terus berupaya untuk melaksanakan aksinya di ruang publik,” katanya.

Selain kesiapsiagaan nasional, lanjut Boy, BNPT juga melakukan program kontra radikalisasi, dan deradikalisasi. Pencegahan melalui kontra radikalisasi merupakan upaya untuk menghentikan penyebaran paham radikal terorisme. BNPT melaksanakan kontra ideologi, kontra narasi, serta kontra propaganda kepada orang atau kelompok orang yang rentan terpapar paham radikal terorisme secara langsung atau tidak langsung.

Baca Juga:  Ingin Lengserkan Netanyahu, Partai Islam dan Ultra Kanan Yahudi Bersatu

Melalui deradikalisasi, BNPT bersama K/L terkait berupaya untuk menghilangkan atau mengurangi, serta membalikkan pemahaman radikal terorisme yang telah terjadi, sehingga tersangka, terdakwa, terpidana, narapidana, mantan narapidana, dan orang atau kelompok orang yang sudah terpapar dapat kembali ke masyarakat.

“Pencegahan ini melibatkan seluruh komponen bangsa. Tidak hanya dilaksanakan BNPT dan K/L terkait, tetapi juga masyarakat, baik akademisi, praktisi, tokoh agama, tokoh masyarakat yang bermitra dengan BNPT,” tuturnya.

Selain itu, lanjut Booy, preventive justice (pencegahan melalui penegakan hukum) telah dilakukan. Sejak bulan Januari 2021 sampai September 2021 sebanyak 320 orang lebih telah ditindak oleh Densus 88. Secara kuantitas, aksi teror di Indonesia berkurang.

Kerja sama dengan entitas internasional juga telah dilakukan BNPT, baik bersama negara sahabat, maupun organisasi kawasan dan internasional. Hal ini dilakukan dalam rangka melindungi Indonesia dari ancaman terorisme global.

“Melalui upaya ini, artinya BNPT melakukan penanggulangan dari hulu ke hilir,” jelas Boy Rafli.

Bagikan Artikel ini:

About redaksi

Avatar of redaksi

Check Also

pwnu dki jakarta menyalurkan keasiswa kepada santri

Peringati Hari Santri, PWNU DKI Jakarta Salurkan Beasiswa 200 Santri

JAKARTA  – Akar historis Hari Santri adalah tercetusnya Resolusi Jihad yang dikeluarkan oleh KH Hasyim …

Pondok pesantren

Pesantren Berperan Besar Sebarkan Ajaran Islam ke Seantero Nusantara

Jakarta – Pesantren berperan besar dalam memperkuat pendidikan Islam dan generasi bangsa. Melalui pesantren juga, …