fatwa online

Hati-hati Terhadap Fatwa Online

Media internet tidak lebih hanya media sebagaimana mimbar keagamaan. Apapun medianya memberi fatwa itu bukan persoalan mudah. Terpenting bukan medianya, tetapi sanad dan sandaran keilmuannya.


Era digital saat ini, banyak kalangan yang memanfaatkan media untuk memproduksi dan mengkonsumsi pengetahuan keagaman. Mulai dari yang awam sampai yang memang memiliki kapasitas keilmuan hukum Islam yang memadai tampil memukau dan memberikan ilmu-ilmu keislaman.  

Patut disyukuri karena ruang media di Indonesia banyak menampilkan media-media online yang memberikan fatwa, nasihat, dan lain-lain tentang berbagai problem keagamaan, salah satunya fikih. Menjamurlah ustad media sosial (medsos) yang mudah memberikan fatwa.

Fenomena ini, sebagaimana teknologi itu sendiri, membawa akibat positif dan negatif. Positif karena arus keilmuan berjalan semakin cepat. Dengan catatan tidak ada upaya saling menjelekkan apalagi kafir-mengkafirkan aliran atau firqah tertentu. Sedangkan dampak negatifnya adalah sangat membahayakan karena tidak adanya filter dan lembaga legitimate yang menaunginya.

Sebenarnya mau media online atau mimbar langsung itu hanya persoalan media. Persoalan subtansinya bahwa ustad, kiayi, ulama dan mufti tetap membutuhkan keilmuan yang memadai ketika memberikan nasehat, pengajaran atau bahkan fatwa. Sayangnya, media online terlalu menggoda buat siapapun untuk menjadi populer walaupun dengan ilmu memadai.

Khusus hukum fikih, maraknya fatwa online di media online menyisakan kekhawatiran terjadinya kesemrawutan model pemahaman keagamaan. Referensinya tidak jelas, ikut madzhab yang mana dan kitabnya apa?

Banyak sekali ustadz dan ulama di medsos memberikan fatwa tentang hukum yang kadang membuat gaduh. Tanpa referensi pun hukum langsung dikeluarkan. Nabi saja ketika ditanya masalah hukum ketika belum mendapatkan wahyu, belia akan mengatakan : la adri (saya tidak tahu), sehingga turunlah wahyu. Nabi pun akan menjanjikan sesuatu yang tidak diketahui: datanglah besok saya akan memberikan jawaban. Nabi masih menunggu wahyu.

Baca Juga:  Jagalah Bangsamu dari Api Neraka

Itulah, bentuk kehati-hatian Nabi yang juga diwariskan dan diteladani oleh sahabat dan para ulama salaf. Tidak sembarangan memberikan fatwa dan hukum jika memang belum ada sandaran. Karena kehati-hatian itulah, ulama banyak bersanad ilmu dengan ulama yang memiliki kejelasan sanad dan kematangan ilmunya.  

Menurut para ulama klasik, kalau taraf keilmuannya belum sampai pada level mujtahid harus mengikuti salah satu empat madzhab yang telah disepakati. Maka problem utama fatwa online adalah keabsahan status putusan hukum produk online tersebut.

Tidak Gampang Menjadi Pemberi Fatwa

Syekh Muhammad Nawawi al-Bantani di dalam kitabnya, al Tsimaru al Yani’ah Syarah Riyadlu al Badi’ah, menyatakan bahwa orang yang tidak memiliki kapasitas sebagai mujtahid mutlak, wajib untuk bertaklid pada salah satu empat madzhab, yakni, madhab Syafi’i, Maliki, Hanafi dan Hanbali. Dan tidak diperbolehkan untuk bertaklid kepada selain mereka,  walaupun dari kalangan pembesar sahabat, karena madzhab mereka tidak tercatat dan tidak diakui.

Sementara menurut Imam Badruddin, Muhammad bin Bahadir bin Abdillah al Zarkasi di dalam kitabnya, al Bahru al Muhith, menyatakan bahwa umat Islam terbagi menjadi tiga kelompok besar; Mujtahid, orang yang berilmu atau ulama namun belum mencapai taraf Mujtahid dan orang awam. Untuk orang awam, mayoritas ulama menyatakan kebolehannya untuk meminta fatwa, dan wajib untuk bertaklid dalam cabang-cabang syariat secara keseluruhan. Artinya, dalam memutuskan hukum harus berdasar pada pendapat madzhab yang dianutnya.

Lebih tegas Imam Abdurrahman bin Muhammad bin Husain bin ‘Amr Ba’alawi di dalam kitabnya Bughyah al Mustarsyidin, menyatakan bahwa sekalipun ada seseorang yang pandai dan cerdas, banyak mempelajari kitab-kitab karangan ulama klasik (ulama salaf), baik Tafsir, Hadits, maupun ilmu fikih, kemudian menghukumi suatu masalah dengan pendapatnya sendiri, maka orang semacam ini adalah sesat dan menyesatkan, menyimpang jauh dari pokok agama yang benar dan tidak sesuai dengan ajaran Rasulullah.

Baca Juga:  Apakah Wabah Mengugurkan Shalat Jum'at? Ini Faktor Udzur Shalat Jumat

Seseorang yang belum memenuhi kriteria mujtahid harus mengkaji hukum berdasar kitab-kitab ulama terdahulu yang yang notabene adalah para ilmuan yang kepakarannya diakui oleh mayoritas ulama. Selain empat imam mujtahid, tidak boleh merumuskan atau membuat keputusan berdasar pemahaman agama dari hasil ijtihadnya sendiri. Lebih-lebih beralasan menggali hukum (beristinbath) langsung kepada al-Qur’an dan Hadis dengan pemahaman sendiri, padahal tidak memenuhi kriteria syarat-syarat berijtihad yang sudah populer dikalangan para pakar. Produk hukum model ini sangat berbahaya bila diikuti karena bukan hasil ijtihad, hanya reke-reka saja.

Masih menurut Imam Abdurrahman bin Muhammad bin Husain bin ‘Amr Ba’alawi, orang yang mengklaim berijtihad langsung, menggali hukum langsung dari al-Qur’an dan Hadis  wajib bertaubat dan kembali kepada jalan kebenaran dan masyarakat wajib menolak ajakan mereka yang bathil.

Apabila kitab-kitab karya ulama terdahulu dikesampingkan (tidak dipakai), maka dengan apa seseorang memahami agama ini untuk pedoman hidup? Padahal ia tidak bertemu langsung dengan Nabi Muhammad, juga tidak bertemu dengan para sahabat Nabi, jika kebetulan ia memiliki sebuah kitab karya ulama terdahulu, lalu ia mempelajarinya sendiri, kemudian dalam proses memahami kitab tersebut ia salah pemahaman, maka kepada siapa ia akan minta petunjuk untuk membenarkan pemahamannya?.

Perlu dipahami, kitab-kitab karya para Imam empat madhab dan para ulama yang mengikuti mereka, sumbernya adalah al- Qur’an dan Sunnah. Dengan proses yang rumit dan panjang para imam mujtahid kemudian merumuskan hukum fiqih. Imam al-Syaikhani dan Imam al-Fakhrur Razi menyatakan “Orang-orang zaman sekarang ini ibarat perkumpulan banyak orang, hanya saja tidak ada mujtahid di dalamnya”.

Syaikh Ibnu Hajar mengutip fatwa dari sebagian para pakar Ushuluddin: “Sesungguhnya setelah kurun masa Imam Syafi’i, tidak ditemukan lagi seorangpun yang mencapai derajat mujtahid mustaqil (mujtahid yang menggali langsung dari al-Qur’an da hadis).

Baca Juga:  Siapa Bilang Sistem Demokrasi tidak Islami?

Contoh terdekat , Imam al- Suyuthi yang dikenal luas ilmunya dan mengusai berbagai bidang ilmu, beliau berijtihad dengan nisbi (mengikuti pendapat Imam Syafi’i), tidak sebagai mujtahid mustaqil, kenapa beliau tidak berani? padahal kitab-kitab karya beliau sangat banyak, tidak kurang 500 kitab.

Perlu Ketelitian dalam Menerima Fatwa

Sesunguhnya orang-orang yang menggali hukum sendiri seperti layaknya seorang mujtahid mustaqil dan menganggap hasil ijtihad mereka benar, hal itu tidak diperbolehkan, walaupun mereka memastikan bahwa mereka adalah seorang mujtahid mustaqil, seperti layaknya mujtahid terdahulu.

Berdasar pemaparan tersebut di atas, dapat diketahui bahwa orang yang memutuskan sebuah hukum syari’at tanpa mengikuti empat madzhab yang berlaku adalah tidak sah, dan tidak boleh diikuti walaupun ia memiliki potensi sebagai mujtahid. Apalagi kalau orang tersebut tidak mampu memahami kitab-kitab karya imam mujtahid dan pengikutnya.

Dengan demikian masyarakat harus tahu bahwa saat ini perkembangan media online dalam memberikan fatwa-fatwa sangat banyak. Perlu ketelitian untuk menentukan pilihan, apalagi bila tidak disertai referensi yang jelas.

Fatwa-fatwa yang berseliweran dan berceceran di google hendaklah dikaji ulang dan ditanyakan kembali pada ahlinya. Perlu ada koreksi ulang, mulai dari ulamanya, keilmuannya, apakah benar-benar menguasai ilmu keagamaan secara sempurna ataukah hanya bermodal ilmu yang pas-pasan.

Ini penting untuk mengontrol mereka supaya tidak semena-mena memberikan fatwa kepada masyarakat. Intinya masyarakat pengguna media online harus selektif dalam mengakses informasi terkait hukum Islam supaya tidak terjebak pada fatwa sesat sehingga ikut sesat.

Wallahhu a’lam.

Bagikan Artikel ini:

About Faizatul Ummah

Alumni Pondok Pesantren Salafiyah Syafi'iyah Sukorejo

Check Also

salah kiblat

Setelah Shalat Baru Menyadari Ternyata Salah Arah Kiblat?

Titah-Nya: “Maka hadapkanlah wajahmu ke arah Masjidil Haram” (al Baqarah: 145) Yang dimaksud adalah menghadap …

Allah mengabulkan doa

Cara Allah Mengabulkan Doa Hambanya

Apakah semua doa hamba kepada Rabbnya akan dikabulkan? Kita harus yakin bahwa doa yang kita …