Sanad ilmu agama
Pentingnya Sanad Keilmuan

Keistimewaan Sanad Ilmu Agama di Era Ledakan Informasi

Ledakan informasi menjadi keniscayaan seiring meluasnya digitalisasi. Generasi milenial atau zilenial semakin terlatih dalam mengakses literatur ilmu pengetahuan, termasuk ilmu agama. Tidak hanya itu, mereka ikut terlibat dalam hiruk pikuk literasi keagamaan yang menuntut pertanggungjawaban “jari jemari” kelak di akhirat. Meskipun dunianya literasi digital, tanpa sanad, siapa pun bisa berbicara agama semau dirinya.

Jika kitab-kitab agama (baca: Islam) dianggap sakral maka menyentuhnya harus melalui perantara kyai (al-Allamah) atau minimal Santri yang berarti Sastri atau pembaca kitab suci. Wajar orang awam tidak menyentuhnya langsung mengingat membutuhkan koridor yang bersumber dari keyakinan (aqidah) dan berakhir pada perbuatan.

Apa batasan sebuah ilmu disebut ilmu agama?. Ilmu agama adalah ilmu yang bermanfaat untuk agama, baik hukum pencariannya fardlu ain atau fardlu kifayah. Imam Syafi’i mendefinisikan ilmu adalah apa yang bermanfaat. Bermanfaat ukuran nilainya mendekatkan pemiliknya kepada Allah Swt dan Rasul-Nya. Semakin bertambah ilmu bertambah kezuhudan atau cahaya Allah yang masuk ke dalam hatinya sehingga akal dan perbuatan tersinari. Tidak relevan jika disebut ilmu untuk ilmu, sebab ilmu untuk amal. Termasuk dalam hal ini adalah ilmu agama yang seluruh umat Islam harus memahaminya atau memiliki sanad pemahamannya.

Berbicara sanad ilmu agama tidak jauh berbeda dengan berbicara asal usul ilmu agama itu sendiri. Jika sumber ilmu pertama adalah Allah maka sumber turunannya adalah malaikat Jibril kemudian Nabi Muhammad Saw, generasi Sahabat berlanjut hingga umat saat ini. Segala yang disandarkan kepada Rasulullah Saw, terutama al-Qur’an dan hadis perlu dikonfirmasi sanadnya sebagai bukti keaslian alias tidak palsu atau mengada-ada.

Al-Qur’an yang sudah tersebar luas dari generasi ke generasi  (mutawatir) dan sudah berharokat sebagaimana kitab-kitab Sunnah yang datang berikutnya masih  diperlukan sanad sebagai penjaga akurasi bacaan al-Qur’an dan keaslian Sunnah. Tidak menutup kemungkinan ada orang atau penerbit yang salah atau sengaja membuat kesalahan sebagaimana dalam ilmu al-Quran dan Sunnah dikenal dengan tahrif (distorsi) dan tadlis (penipuan).

Baca Juga:  Buya Husein, Gus Mus dan Islam Yang Saya Kenal

Dari segi subtansi (makna), sanad bagian dari hubungan pengetahuan  sekaligus akhlak periwayatnya dengan Nabi Saw. Dalam agama, Aqidah, ilmu dan akhlak tidak bisa dipisahkan dan menentukan kejelasan sanad seseorang. Ketika terjadi fitnah (konflik politik) di zaman Sahabat Nabi muncul periwayat-periwayat yang dipengaruhi oleh kelompok masing-masing sehingga muncul ilmu tersendiri untuk menverifikasi kebenaran periwayat ujaran dan haliyah Nabi Saw dengan penuh hati-hati.

Tradisi sanad di era mutaqoddimin (salaf) atau abad I-III H ini berkembang di abad setelahnya menjadi tradisi ijazah di era muta’akhirin (khalaf). Tidak hanya al-Qur’an dan Sunnah yang ditanyakan sanadnya, kitab karya Ulama juga disanadkan, bahkan do’a dan wirid diminta ijazahnya. Pada perkembangannya, muncul selisih (distorsi) pemahaman tentang tujuan ijazah itu sendiri. Periwayatan kitab dengan mendengar atau membaca di depan guru yang mulanya sebagai periwayatan paling tinggi dan tidak membutuhkan ijazah berubah tidak final dan masih membutuhkan ijazah.

Ketika seorang guru meriwayatkan isi kitabnya secara tidak lengkap, pemberian ijazah dianggap menggantikan kelengkapannya. Padahal cara pengijazahan  seperti ini belum cukup disebut tahammul (izin mengambil dan meneruskannya kepada orang lain).  Syekh Omer Hasyim menyebut Jumhur Ulama membolehkan ijazah (pemberian izin periwayatan), bahkan al-Qadli Abu al-Walid al-Baji mengklaim kebolehan itu sudah ijma’ (kesepakatan ulama). Namun Ibnu Shalah membantah kebolehan itu dengan mengutip riwayat al-Rabi’ dari Imam Syafi’i yang melarang tegas periwayatan melalui ijazah dengan menyatakan;

لَوْ جَازَتِ الإِجَازَةُ لَبَطَلتِ الرِّحْلَةُ

“Seandainya ijazah itu boleh, maka batalahlah rihlah (percuma mengembara cari riwayat/ilmu)”.

Namun kemudian Ibnu Shalah mengakui kenyataan di masyarakat berkata lain bahwa justru praktek ijazah yang berlaku. Persoalannya, ada seorang guru memberikan ijazah meskipun tidak memiliki sanad. Al-Qur’an dan hadis lebih membutuhkan sanad dibanding kitab-kitab keilmuan seperti aqidah, fikih, bahasa dan sebagainya. Tanpa ada sanad maka tidak mungkin ada ijazah. Misalnya sanad nahwu ke Imam Sibawaih, sanad Ushul Fikih ke Imam Syafi’i atau sanad keilmuan Nabi melalui jalur Imam Ali bin Abi Thalib yang disebut oleh Nabi sebagai pintunya ilmu (بَابُ العِلْمِ). Faktor politik kekhilafahan di masa Sahabat dan Tabi’in yang tidak simpatik kepada Ahlul Bait membuat ilmu Sayidina Ali tidak tersampaikan menurut kapasitasnya sebagai Mahaguru, Perawi Sunnah, Mufti, Qadli (Hakim), Khalifah bahkan kerabat dan menantu Rasulullah Saw. Namun Allah menghendaki dunia thariqah Sufi sebagai pelestari sanad muttasshil (bersambung) kepada Nabi melalui Sayidina Ali.

Baca Juga:  Sains dan Teknologi dalam Al Qur'an, Warisan Islam yang Terlupakan

Di era ledakan pengetahuan, metode ijazah dengan beragam bentuknya masih digunakan. Meskipun tidak memberikan faedah ilmu, setidaknya memberikan keberkahan dan uswah (keteladanan). Adakalanya ijazah diberikan dari orang tertentu untuk riwayat tertentu dan ini diperbolehkan oleh Jumhur Ulama, adakalanya dari orang tertentu untuk riwayat yang tidak tertentu yang juga diperbolehkan oleh Jumhur, dan adakalanya ijazah untuk riwayat yang tidak tentu dengan menegaskan keumumannya (ijazah ammah) yang diperselisihkan status hukumnya oleh para ulama (muta’akhirin).

Adapun ijazah untuk periwayat atau kitab yang tidak tentu dan tidak dikenal maka ijazah itu sia-sia (bathil) sebagaimana pengijazahan kepada orang yang tidak ada dan mengijazahkan riwayat kitab yang tidak pernah didengar sama sekali. Adapun pemberian ijazah atas dasar kelayakan orang yang diberi ijazah (Ijazah al-Mujaz) maka boleh-boleh saja dan bahkan harus diamalkan sebagai amanah meskipun ada sebagian Ulama melarangnya.

Prof. Ibrahim al-Asymawi Guru Besar Ilmu Hadis Univ. al-Azhar mengusulan adanya penamaan “Ijazah Dirayah (Pemahaman)” yang tidak mensyaratkan kepemilikan sanad yang bersambung kepada penulisnya. Sebab hukum asal ijazah adalah membaca atau mendengarkan dari guru. Menurutnya, para pengguna metode ijazah zaman sekarang kebanyakan memiliki motif memperbanyak murid dengan berbohong dan tadlis (penyamaran). Fenomena lain juga menunjukkan kecenderungan pemberian ijazah kitab tanpa ada uji pemahaman atau ijazah al-Qur’an tanpa uji ke-tartil-an bacaaan. Padahal Imam Qiro’at seperti Imam Ashim sendiri tidak akan memberikan ijazah atau sanad kepada muridnya kecuali benar-benar tartil yaitu membaguskan bacaan dan waqaf-ibtida (makna).

Tradisi sanad dan ijazah di era ledakan pengetahuan saat ini benar-benar diuji kualitasnya. Tidak jauh berbeda dengan perumpamaan orang yang memiliki ijazah doktoral tetapi tidak menunjukkan dirinya pintar (doktor). Namun demikian, sanad dan ijazah merupakan ciri khas dan keutamaan umat Islam yang tidak dimiliki oleh umat lain.

Baca Juga:  Salafi-Wahabi Dan Terorisme ( 3 ) : Dari Pembantaian, Perusakan Situs Islam Hingga Teror terhadap Jamaah Haji

Metode ijazah yang diikuti oleh mayoritas periwayat atau pencari ilmu saat ini adalah agar mata rantai sanad bisa dipertahankan hingga akhir zaman. Syekh Ali Shalih merupakan diantara ulama al-Azhar Mesir yang memberikan ijazah kitab usai pengajian virtual. Hal ini bagian dari respon perkembangan teknologi yang tidak bisa dihindari. Selain pengajian virtual, adaptasi perkembangan juga nampak dari adanya platform-platform baru seperti Sanadmedia, Turos dan sebagainya.

Bagikan Artikel ini:

About Ribut Nurhuda

Avatar of Ribut Nurhuda
Penasehat PCI NU Sudan

Check Also

prasangka

Cara Ulama Salaf Melawan Prasangka Buruk

Prof. Jamal Faruq seorang ulama al-Azhar Mesir mengutip pernyataan Syekh Abderrahman Habankah al-Maidani bahwa diharamkannya …

fikih peradaban

Indonesia dan Peran Fikih Peradaban

“Islam adalah kekuatan spiritual, intelektual, emosional dan material peradaban”, tulis ulama Mesir Abdel Mun’im al-Qi’iy …