Azan Dengan Menyelipkan Lafaz 'hayya Alal Jihad' Viral Di Media Sosial
Azan Dengan Menyelipkan Lafaz 'hayya Alal Jihad' Viral Di Media Sosial

“Hayya ‘Alal Jihad” : Bukti Kegagalan dalam Memahami Jihad di Era Milenial

Masyarakat kembali dihebohkan dengan pengumandangan azan Hayya Alal Jihad yang dilakukan oleh pendukung Imam Besar FPI Habib Rizieq Shihab beredar luas di media sosial.

Tentu hal ini mengundang banyak respon dari berbagai pihak, baik dari kalangan masyarakat hingga kalangan ulama dan habaib.

Aksi mengumandangkan adzan seperti ini viral setelah Polda Metro Jaya melayangkan surat panggilan pemeriksaan kepada Imam Besar FPI Habib Rizieq Shihab terkait kasus dugaan pelangggaran protokol kesehatan.

Dalam narasi di video tersebut tertulis seruan itu merupakan respons beberapa warga atas pemanggilan Habib Rizieq Shuhab oleh polisi terkait kasus kerumunan di Petamburan. Menurut Pimpinan Majelis Ilmu dan Dzikir Ar-Raudoh Solo Jawa Tengah ini menyebut bahwa mengubah lafaz azan seperti itu bertentangan dengan ajaran Nabi Muhammad SAW.

Di lain hal, aksi pengumandangan adzan seperti ini merupakan bukti kegagalan seseorang dalam memaknai Jihad di era milenial seperti saat ini. Memang tak dapat dipungkiri, Islam dapat berkembang pesat seperti ini tak lepas dari perjuangan Nabi Muhammad SAW dan orang-orang yang rela mengorbankan jiwa demi tegaknya Islam di muka bumi ini.

Jihad juga merupakan perintah Allah swt yang bersifat mutlak yang selalu dikaitkan antara iman dan jihad.

Akan tetapi jihad disini bukan berarti harus mengangkat senjata, melakukan aksi terorisme, melakukan pembunuhan, melakukan tindakan anarkisme. Jihad di era damai dan era milenial ini bisa dimaknai melakukan jihad dengan perbuatan solih.

Jihad ekonomi dengan meminimalisir riba dan perniagaan batil, jihad dengan pemikiran dan karya nyata, dan bahkan yang paling besar yakni jihad menahan hawa nafsu. Sebagaimana sabda Rasulullah SAW :

أفضلُ الْمُؤْمِنينَ إسْلاماً مَنْ سَلِمَ المُسْلِمُونَ مِنْ لِسانِهِ وَيَدِه وأفْضَلُ المُؤْمِنينَ إيمَاناً أحْسَنُهُمْ خُلُقاً وأفْضَلُ المُهاجِرِينَ مَنْ هَجَرَ مَا نَهى اللَّهُ تَعَالَى عَنْهُ وأفضلُ الجهادِ منْ جاهَدَ نَفْسَهُ فِي ذاتِ اللَّهِ عزّ وجَل

Baca Juga:  Mengenang Hijrah: Strategi Ilahi untuk Menyelematkan Umat

Mukmin yang paling utama keislamannya adalah umat Islam yang selamat dari keburukan lisan dan tangannya. Mukmin paling utama keimanannya adalah yang paling baik perilakunya. Muhajirin paling utama adalah orang yang meninggalkan larangan Allah. Jihad paling utama adalah jihad melawan nafsu sendiri karena Allah.(HR. Ahmad, Sunan al-Tirmidzi, Sunan Abi dawud, dan Shahih Ibn Hibban.)

Dari hadist tersebut tampak bahwa perang melawan musuh atau penjajah yang tampak itu dikategorikan sebagai perang kecil yaitu perang yang mudah kita selesaikan dan kita tangani. Sedangkan perang melawan hawa nafsu atau musuh yang tidak tampak dikategorikan sebagai perang besar yakni perang yang sangat berat dan sulit untuk diatasi dan diselesaikan.

Sebagai hamba Allah dan warga negara yang baik, sudah seharusnya kita melakukan yang terbaik buat bangsa ini. Selain itu, kita juga berjuang untuk bangsa ini dengan sebaik-baiknya, dan berupaya untuk memerangi tindakan-tindakan kotor dan keji pada diri kita.

Bagikan Artikel
Best Automated Bot Traffic

About Ahmad Cahyo

Avatar
Mahasiswa Program S2 PTIQ Jakarta