kisah nabi

Hijrah Nabi Bukan Di Bulan Muharram

Dalam anggapan sebagian umat Islam, hijrahnya Nabi dari Makkah ke Madinah, peristiwa paling penting dalam sejarah kenabian ini terjadi pada bulan Muharram. Bulan pertama dalam kalender Hijriyah. Asumsi ini mungkin didasarkan pada penempatan bulan Muharram sebagai pembuka tahun Hijriyah.

Untuk mengetahui secara jelas kapan sebenarnya peristiwa hijrah dan apakah ada hubungan yang bertali temali dengan bukan Muharram, perlu untuk mengulas sedikit sejarah hijrahnya Nabi sebagai momentum dan titik berangkat perkembangan agama Islam.

Bila membaca sejarah, awal kali hijrahnya Nabi dan para sahabat dimulai dari Aqabah. Dari sini, gerakan massal sahabat dari Makkah ke Madinah dimulai secara bertahap dan bergelombang.

Pada tanggal 12 Dzulhijjah, tepatnya pada tahun ke-13 setelah kenabian, sebanyak tujuh puluh tiga dan dua orang perempuan penduduk Yatsrib (Madinah) berkumpul di Mina. Rombongan ini bergabung dengan rombongan besar kaum musyrik Khajraj datang ke Makkah untuk melakukan ritual ibadah haji mengelilingi Ka’bah.

Setelah selesai haji, secara diam-diam tanpa diketahui rombongan besar kaum musyrik Khajraj, mereka menemui Nabi di Aqabah. Disini mereka mengikrarkan janji setia (bai’at) kepada Nabi. Peristiwa inilah yang kemudian populer dengan istilah “Bai’at al ‘Aqabah al Kubra”.

Ditemani Abbas bin Abdul Muthalib, pamannya, yang saat itu belum memeluk Islam, Nabi menemui mereka pada tengah malam. Suasana saat itu begitu mencekam sebab kaum kafir Quraisy menekan umat Islam dengan hebatnya. Setelah bertemu Nabi rombongan itupun berbai’at. Ada lima poin penting dalam Bai’at Aqabah Kubra ini.

Pertama, Taat dan setia dalam perkara yang disenangi atau tidak disenangi.

Kedua, tetap akan berinfaq, baik dalam keadaan luang atau sempit.

Ketiga, tetap melakukan amar ma’ruf nahi mungkar.

Keempat, selalu berada di jalan Allah walau banyak orang yang mencela.

Kelima, melindungi Nabi ketika datang ke Yatsrib sebagaimana mereka melindungi diri sendiri, istri dan anak-anak mereka.

Pagi esok harinya, tanggal 13 Dzulhijjah tahun yang sama, pertemuan rahasia itu ternyata terendus pihak Quraisy. Al Mubarak Furi dalam kitabnya al Rahiq al Makhtum menulis, pagi harinya para petinggi dan tokoh Quraisy Makkah menemui para pemimpin rombongan dari Yatsrib. Menanyakan apakah benar telah terjadi pertemuan rahasia di Aqabah untuk berbai’at kepada Nabi?.

Namun karena tidak ada bukti, sebab memang tetua rombongan Yatsrib tidak mengetahui hal itu, para petinggi dan tokoh Quraisy percaya kepada keterangan mereka bahwa memang tidak terjadi apapun pada malam sebelumnya. Sebab semua rombongan dari Yatsrib beristirahat di tenda karena akan pulang ke Yatsrib pada tanggal 13 Dzulhijjah.

Sejak Bai’at Aqabah al Qubra inilah Nabi mengijinkan umat Islam di Makkah untuk hijrah ke Yatsrib yang dikemudian hari berganti nama menjadi Madinah.

Dua bulan setelah Bai’at Aqabah al Qubra, tepatnya pada tanggal 26 Shafar, di Makkah digelar pertemuan Akbar yang dihadiri oleh seluruh perwakilan kabilah Quraisy se kota Makkah. Ihwal pertemuan ini untuk merespon gerakan dakwah Nabi dan para sahabatnya yang semakin gencar dan cepat serta adanya arus hijrah umat Islam dari Makkah ke Madinah.

Puncak kekesalan kaum Quraisy Makkah terjadi pada malam tanggal 27 Shafar. Sebelas algojo mereka siapkan untuk melakukan pengepungan terhadap rumah Nabi dan membunuhnya. Namun Allah melindungi Nabi dari rencana jahat ini. Nabi bersama Abu Bakar berhasil ke luar dari kota Makkah menuju gua Tsur.

Dari sinilah kemudian peristiwa hijrahnya Nabi beserta para sahabatnya berlangsung. Jadi peristiwa hijrahnya Nabi bukan pada bulan Muharram. Prosesnya berlangsung sejak bulan Dzulhijjah. Puncaknya terjadi pada tanggal 27 Shafar pasca pengepungan rumah baginda Nabi.

Bagikan Artikel ini:

About Khotibul Umam

Alumni Pondok Pesantren Sidogiri

Check Also

sirah nabi

Pesan Nabi Menyambut Ramadan

Bulan Ramadan, atau di Indonesia familiar dengan sebutan Bulan Puasa, merupakan anugerah yang diberikan Allah …

imam ahmad bin hanbal

Teladan Imam Ahmad bin Hanbal; Menasehati dengan Bijak, Bukan Menginjak

Sumpah, “demi masa”, manusia berada dalam kerugian. Begitulah Allah mengingatkan dalam al Qur’an. Kecuali mereka …