shalat sunnah malam nisfu sya'ban

Amalan Nisfu Sya’ban (Bagian II) : Hukum dan Tata Cara Shalat Sunnah Malam Nisfu Sya’ban

Memeriahkan bulan Sya’ban dengan shalat sunnah malam nisfu Sya’ban. Bagaimana hukum dan tata cara shalat sunnah tersebut?


Banyak orang mengatakan, shalat wajib itu pilar agama. Ternyata, perkataan itu benar. (HR: Baihaqi: 2678). Kesimpulannya. Shalat ditinggalkan, agamanya terancam roboh.

Sebuah pilar akan semakin kokoh bila ditopang dengan bahan yang kuat. Begitu juga shalat. Shalat wajib penopangnya ya shalat sunnah. Lalu bagaimana dengan shalat sunnah malam nisfu Sya’ban? Adakah landasannya?

Melihat Pijakan Hukum

Bila hadits riwayat Ibnu Majah dianggap dhaif, maka lupakanlah sejenak hadits itu. Hadits lain yang menggambarkan keutamaan nisfu Sya’ban adalah :

عن معاذ بن جبل ، عن النبي صلى الله عليه وسلم قال : ” يطلع الله إلى خلقه في ليلة النصف من شعبان فيغفر لجميع خلقه إلا لمشرك أو مشاحن

Dari Muadz Ibn Jabal dari Nabi Muhammad saw. Beliau bersabda: pada malam nisfu sya’ban Allah memperhatikan makhluknya, maka Allah akan memberikan ampunan kepada semua makhlukNya kecuali orang musyrik dan orang bermusuhan. (HR: Ibnu Hibban:5743) (Ket: Hadits hasan dan shahih).

Semua orang pasti sepakat bahwa antara orang yang memohon ampunan (beristighfar) dengan orang yang tidak beristighfar itu berbeda. Jika disebut berbeda, maka tentu perhatian Allah juga berbeda.

Artinya,  bunyi teks hadits “Allah memperhatikan makhluknya, maka Allah akan memberikan ampunan” itu khusus bagi yang meminta ampunan sebagai bentuk qiyam al-lail pada malam nisfu sya’ban yang disebut dalam hadit riwayat Ibnu Majah.

Sejatinya qiyam al-lail dimaksudkan untuk segala aktifitas kebaikan dalam rangka menghidupkan malam nisfu sya’ban dengan kegiatan positif. Kalau begini maksudnya, maka qiyam al-lail tidak hanya tertentu kepada shalat, puasa atau lainnya, beristighfar pun juga bisa disebut qiyam al-lail.

Baca Juga:  Dimensi Kemanusiaan dalam Penetapan Hukum Islam

Istighfar itu meminta sesuatu kepada Allah. Pengertian semacam ini tidak ada bedanya dengan pengertian doa yang juga meminta sesuatu kepada allah. Istighfar bagian dari doa. Artinya, pada malam nisfu sya’ban perbanyaklah istighfar atau berdoa kepada Allah.

Zakariyya al-Anshari, Al-Syarbini, Ibnu Hajar al-haitami, al-Bujairami, al-Ramli, Abu Suja’, Zainuddin al-Malibari sepakat mengatakan bahwa doa itu pengertian etimologis dari pada shalat. Bila narasi ini diterima, maka selayaknya pula “ “berqiyamullaillah pada malam nisfu sya’ban(berdoalah) atau shalatlah pada malam nisfu sya’ban” juga bisa diterima.

Sabda Nabi

إذا كانت ليلة النصف من شعبان ، فقوموا ليلها وصوموا نهارها

Bila malam nisfu sya’ban telah tiba, maka berqiyamullaillah pada malam harinya, dan berpuasalah pada siang harinya.( HR.Ibnu Majah: 1384).

Tata Cara Shalat Sunnah Malam Nisfu Sya’ban

Sekali lagi penulis tegaskan bahwa, dhaif dari sisi sanad tidak lalu membuat isi (matan) sebuah hadits menjadi dhaif pula. Hadits riwayat IBnu Majah isinya bisa kia jadikan landasan berlaku dalam sebuah amalan ibadah. Termasuk pula shalat pada malam nisfu sya’ban.

Bagaimana cara shalat nisfu sya’ban? Al-Ghazali dalam kitab monumentalnya “Ihya’ Ulum al-Din” bahwa shalat nisfu sya’ban itu berjumlah seratus rakaat, setiap dua rakaat satu salam. Setiap rakaatnya setelah baca alfatihah membaca surat al-Ikhlash sebelas  kali. 1/203

Niat shalat nisfu sya’ban

اصلي سنة ركعتين لله تعالى

Usholli sunnatan rok’ataini lillahi ta’ala

Saya niat shalat sunnah dua rakaat karena semata mata Allah

Bila narasi ini dianggap serampangan, dan akidah pembaca tetap bersikukuh tidak sudi amalkan hadits dhaif, maka ada baiknya pembaca ikuti saran dari seorang Ulama’ besar Abdul Hamid Ibn Muhammad Ali Ibn Abdul Qadir al-Quds al-Makk. Bagi beliau shalat 100 rakaat itu bid’ah lebih baik shalat Tasbih di malam Nisfu sya’ban. (Kanz al-najah Wa al-Surur, 174).

Baca Juga:  Joget Tik Tok Dalam Sorotan Fikih

Bila shalat 110 rakaat atau shalat tasbih terlalu memberatkan, maka ada opsi yang bisa pembaca lakukan pada malam nisfu Sya’ban. Apa itu? Yaitu membaca

حم (1) وَالْكِتَابِ الْمُبِينِ (2) إِنَّا أَنْزَلْنَاهُ فِي لَيْلَةٍ مُبَارَكَةٍ إِنَّا كُنَّا مُنْذِرِينَ (3) فِيهَا يُفْرَقُ كُلُّ أَمْرٍ حَكِيمٍ (4) أَمْرًا مِنْ عِنْدِنَا إِنَّا كُنَّا مُرْسِلِينَ (5) رَحْمَةً مِنْ رَبِّكَ إِنَّهُ هُوَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ (6) رَبِّ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَمَا بَيْنَهُمَا إِنْ كُنْتُمْ مُوقِنِينَ (7) لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ يُحْيِي وَيُمِيتُ رَبُّكُمْ وَرَبُّ آبَائِكُمُ الْأَوَّلِينَ

Menurut al-Syarji barang siapa yang membaca ayat ini, mulai tanggal 1 hingga 15 sya’ban 30 kali, lalu diikuti dengan berdzikir kepada Allah dan bershalawat kepada Rasulullah kemudian berdoa sesuai kebutuhannya, maka besar kemungkinan doa itu terkabul. (Al-Fawaid Fi al-Shalat Wa al-‘Awaid, 59).

Sekali lagi, jangan menunggu dalil untuk melakukan kebaikan, maka kita akan tertinggal kereta. Di saat orang lain sudah menggunung deposito pahala ibadahnya, kita masih sibuk berdebat apakah shahih atau dhaif?!

Wallahu a’lam

Bagikan Artikel

About Abdul Walid

Abdul Walid
Alumni Ma’had Aly Pondok Pesantren Salafiyah Syafiiyah Sukorejo Situbondo