memandikan jenazah
memandikan jenazah

Hukum Non Muslim Memandikan Mayat Muslim

Beberapa waktu yang lalu, di Pematang Siantar sempat heboh. Empat nakes disangkakan telah melakukan penistaan agama. Musababnya adalah karena empat Nakes yang kesemuanya laki-laki dan non muslim memandikan mayat perempuan muslimah yang meninggal karena Covid-19.

Keempat petugas kesehatan tersebut dilaporkan oleh suami almarhumah, Fauzi Munte, ke pihak berwajib dengan tuduhan kasus penistaan agama. Menurut suami korban, tindakan rumah sakit tidak sesuai syariat Islam karena yang memandikan istrinya bukan mahram.

Lalu, bagaimana sesungguhnya fikih memandang hal ini, apakah memang ada larangan non muslim memandikan mayat muslim?

Dalam Fathu al Mu’in ada penjelasan sah hukumnya non muslim yang memandikan janazah muslim. Kata yakfi (cukup) yang dipakai dalam kitab ini artinya adalah sah. Jadi kasus yang terjadi di Pematang Siantar sebenarnya tidak ada problem secara fikih. Apalagi kasus tersebut terjadi di masa Pandemi Covid dimana ada standar operasi khusus untuk penanganan janazah yang meninggal sebab Covid-19.

Lebih detail, Syaikh Abu Bakar Syatha menjelaskan hukum sahnya non muslim memandikan mayat muslim dalam kitabnya I’anatu al Thalibin yang mensyarahi kitab Fathu al Mu’in. Menurutnya, tujuan memandikan janazah itu untuk membersihkan, jadi tidak perlu niat dari orang yang memandikan. Keterangan serupa juga bisa dibaca di Mughni al Muhtaj yang dengan tegas mengatakan non muslim boleh merawat mayat muslim selain menshalatkan.

Dalam kitab al Mahalli juga dijelaskan, ada dua pendapat tentang apakah dalam memandikan janazah butuh niat atau tidak? Menurut pendapat yang ashah (paling benar), dalam memandikan janazah tidak disyaratkan adanya niat dari orang yang memandikan. Karena tujuan sebenarnya dari memandikan janazah adalah nadhafah (membersihkan). Untuk mewujudkan nadhafah ini tidak perlu niat. Sedangkan pendapat yang lain mengatakan butuh niat dari orang yang memandikan.

Baca Juga:  PP Muhammadiyah: Bila Masih Darurat Corona Salat Ied di Masjid di Lapangan Lebih Baik Ditiadakan

Bila merujuk pendapat pertama, karena tidak butuh niat, maka boleh dilakukan oleh muslim atau non muslim. Namun bila berdasar pendapat yang kedua wajib muslim yang memandikan sebab niat hanya boleh dilakukan oleh muslim (ahli al niat). Non muslim bukan ahlu al niat dalam ibadah.

Kembali pada soal kasus di Pematang Siantar, secara fikih sah-sah saja apa yang dilakukan oleh empat Nakes tersebut. Apalagi pada kondisi Pandemi seperti sekarang ini yang mengharuskan untuk mematuhi protokol kesehatan. Dalam istilah fikih disebut dharurat. Pada kondisi ini berlaku hukum yang berbeda. Yang tak boleh disaat normal bisa boleh disaat dharurat.

Dengan demikian, disaat normal saja ada dua pendapat dalam fikih antara yang membolehkan non muslim memandikan mayat muslim dan yang tidak membolehkan, apalagi disituasi Covid-19 dan yang meninggal juga karena terpapar Virus Corona. Karena itu, “Terlalu jauh kelirunya melaporkan empat Nakes sebagai penista agama”.

Bagikan Artikel
Best Automated Bot Traffic

About Faizatul Ummah

Faizatul Ummah
Alumni Pondok Pesantren Salafiyah Syafi'iyah Sukorejo