Khutbah Idul Adha Hijriyah di Masjid Istiqlal
Khutbah Idul Adha Hijriyah di Masjid Istiqlal

Ibadah Haji Potret Perjalanan Manusia Dalam Ketundukkan Kepada Allah SWT

Jakarta – Ibadah haji merupakan potret dari perjalanan hidup manusia yang sangat dinamis yang muaranya adalah ketundukan kepada Allah SWT. Hal itu diucapkan Ketua Badan Wakaf Indonesia (BWI) Muhammad Nuh saat menyampaikan Khutbah Idul Adha 1443 Hijriyah di Masjid Istiqlal, Minggu (10/7/2022).

“Ibadah haji sejatinya adalah ibadah yang sangat dinamis atau penuh dengan pergerakan. Itu bisa dilihat dari rangkaian haji dari seperti tawaf, sa’i, wukuf, hingga mabit yang mengharuskan jamaah berpindah dari satu titik ke titik lainya,” kata M Nuh dalam khutbah Idul Adha yang juga disiarkan melalui kanal resmi YouTube Masjid Istiqlal.

Ia menambahkan, ketika ibadah haji setiap jamaah haji melakukan pergerakan sehingga terjadi pergumulan dan interaksi fisik antar jamaah. Dalam proses ini, menurutnya seseorang akan mengalami benturan untuk saling membantu atau memilih berjalan masing-masing dalam berhaji.

“Semangat ta’awun atau saling membantu dan ego sentris seringkali berbenturan dalam proses ibadah haji. Dan itulah realitas dalam kehidupan. Antara ingin membantu dan kepentingan diri sendiri,” kata M Nuh.

Menurutnya, filosofi kompetisi atau Musabaqoh sangat berbeda dengan kolaborasi atau Muawanah. Dalam kompetisi menurutnya kemenangan diraih hanya dengan jalan mengalahkan yang lain. Namun dalam kolaborasi, setiap orang dapat menjadi pemenang tanpa harus saling mengalahkan. Melainkan mencapai kesuksesan dan kemenangan secara bersama-sama. Karena itu menurut Muhammad Nuh untuk mencapai kemenangan, semangat kekitaan atau kolaborasi perlu dikedepankan dibanding ego masing-masing.

“Yakinlah kekuatan dan kedahsyatan itu akan diperoleh dalam bingkai ke kitaan. Kekuatan hanya bisa dibangun melalui prinsip mutualitas positif. Karena memang ada mutualitas negatif yaitu saling merusak dan saling menjatuhkan,” tuturnya.

Mutualitas positif yang bisa dibangun atas dasar kedekatan, , lanjutnya, bukan atas dasar kerenggangan. Inklusif bukan eksklusif . Kesuburan sosial bukan kegersangan sosial. Kesantunan bukan kecongkakan. Apresiasi atas prestasi bukan cibiran.

“Saling memberi bukan saling mengambil atau mencuri. Membangun jiwa kedermawanan atau filantropis, semangat saling memberi bukan kepelitian. Itu bisa dijadikan sebagai mesin untuk merekatkan hubungan di dalam masyarakat,” katanya.

Ia mengungkapkan bahwa Indonesia berdiri dengan semangat kekitaan dan gotong royong yang dirintis oleh para pendiri bangsa. Karena itu menurutnya tugas generasi penerus adalah untuk semakin memperbanyak ruang persamaan dan merawatnya dengan baik.

Bagikan Artikel ini:

About redaksi

Check Also

Ratusan eks anggota NII Garut kembali baca dua kalimat syahadat dan ikrar setia kembali ke NKRI

Tobat, Ratusan Eks NII Garut Baca Syahadat Lagi dan Ikrar Setia Kepada NKRI

Garut – Ratusan eks pengikut Negara Islam Indonesia (NII) di Garut, Jawa Barat, melakukan pertobatan …

penceramah radikal

Jangan Heran Sudah Diprediksi Nabi, Sering Bikin Gaduh dengan Fatwa tanpa Ilmu

Terkadang kita susah membedakan antara ulama yang fasih ilmu fikih dengan hanya penceramah. Banyak pula …

escortescort