kurban dan filantropi islam
kurban

Idul Adha dan Momentum Memulihkan Kembali Filantropi Islam

Idul Adha telah menyapa seluruh masyarakat muslim dunia. Gegap gempita perayaan membahana terutama di tanah suci Makkah yang berlangsung pelaksanaan Haji. Idul Adha bukan sekedar memiliki dimensi spiritual, tetapi juga ada aspek sosial tentang solidaritas dan dan semangat filantropi.

Islam adalah agama dengan ajaran filantropi yang sangat beragam. Salah satuny adalah ibadah kurban. Terlihat enteng bagi masyarakat Indonesia untuk melakukan pengorbanan uang dan kurban. Momentum Idul Adha adalah momentum perayaan besarnya filantropi dalam Islam.

Negara Indonesia merupakan ladang basah untuk urusan sedekah. Pasalnya, Indonesia dikenal dengan masyarakat yang paling dermawan. Banyak gerakan donasi yang berhasil meraup jutaan hingga milyaran dengan menggugah kesedihan, peristiwa tragis hingga hal emosional lainnya. Mengetuk hati para dermawan menjadi kesuksesan lembaga donasi.

Namun sayangnya, kebaikan hati para dermawan banyak di manfaatkan dari berbagai kalangan terutama mereka yang memiliki lembaga-lembaga sosial. Sebut saja Aksi Cepat Tanggap (ACT) yang baru-baru ini tengah menjadi sorotan publik karena kasus penyimpangan dana yang banyak dilakukan oleh para petingginya.

Terbukti dari gaji para petingginya hingga sempat bernilai fantastis, yakni gaji Dewan Pembina ACT yang dijabat Ahyudin mendapatkan gaji 250 juta per bulan. Disusul dengan Senior Vice President (SVP) Rp 150 juta per bulan, VP Rp 80 juta per bulan, direktur eksekutif Rp 50 juta per bulan, dan direktur Rp 30 juta per bulan. Jelas gaji ini sepadan dengan gaji bos BUMN.

Lantas bagaimana bisa ACT menarik minat para dermawan? Salah satu langkah ACT menarik minat para dermawan dengan menggunakan jasa influencer serta ulasan yang menarik dari konten media masa yang mereka buat. Tak sedikit konten yang mereka buat bernada sedih dan terkesan tragis. Ibaratnya mereka sedang melakukan kapitalisasi kesedihan untuk menggugah para dermawan.

Salah satu kasus yang kini sudah terbukti ialah ketika ACT  menggalang dana untuk korban kecelakaan yang menimpa satu keluarga yang ada di daerah Yogyakarta. Selang beberapa hari setelah kecelakaan, keluarga Bapak Suharno beserta istri dan anaknya didatangi oleh pengurus ACT yang berada di cabang Bantul. Kala itu pengurus ACT menyodorkan berkas penggalangan donasi untuk Suharno dan keluarganya yang bisa digunakan mereka untuk berobat.

Bukan hanya menandatangani berkas donasi yang disodorkan ACT, namun Suharno juga diminta oleh ACT untuk berfoto saat sedang menangis. Foto tersebut kemudian dipasang beserta foto rontgen kakinya yang patah di media sosial guna mendapatkan bantuan oleh para dermawan. Supaya Foto terlihat lebih tragis, dalam foto tersebut tertulis “Satu Keluarga Terlindas Truk, Bantu Adik Rizal dan Orang Tuanya Sembuh”.

Setelah sebulan berselang, tim ACT Bantul kembali menyambangi rumah Suharno dengan membawa uang tunai sebesar 3 juta rupiah, bahan kebutuhan pokok, satu kruk kaki, dan kasur senilai sekitar Rp 3 juta. Padahal donasi yang terkumpul mencapai Rp 412,207 juta dari target Rp 520 juta.

Ulasan menarik lainnya dari konten media sosial milik ACT adalah peran dari influencernya yang datang dari kalangan artis dan juga pemuka agama. Mereka banyak berkolaborasi dengan pemuka agama dan para artis nasional maupun daerah untuk kasus-kasus bencana alam atau musibah yang terjadi kepada seseorang, seperti keluarga Suharno.

Mereka menyadari adanya potensi besar dalam filantropi Islam tersebut karenanya, mereka juga melirik level wilayah yang lebih kecil, bahkan mereka sering juga membuat program besar dengan memanfaatkan isu-isu lokalitas,  seperti isu wakaf al-Quran di satu wilayah yang terpencil.

Keterlibatan pedakwah dan artis nasional banyak digunakan ACT untuk bencana-bencana besar seperti musibah yang dialami oleh Palestina. Isu sebesar ini jelas perlu sosok yang cukup mumpuni untuk mengemban tugas dalam kampanye mereka, namun pemilihan tersebut jelas disandarkan pada titik daya tarik di tengah umat. Selain itu, mereka biasanya juga banyak memasang bendera, spanduk, hingga flyer di tempat kejadian. Cara seperti itu bagus untuk publikasi dan konten yang diunggah.

Kasus ACT menyadarkan kita bahwa, untuk menjadi seorang dermawan juga harus mampu untuk memilah di tempat seperti apa uang kita dermakan dan percayakan, bukan hanya melihat banyaknya konten yang mereka buat namun wujud nyata dari para korban. Karena terbukti, banyaknya lembaga-lembaga yang justru memanfaatkan kedermawanan kita untuk urusan perekonomian mereka, hingga untuk urusan politik.

Penyelewengan dana yang dilakukan oleh oknum ACT tentu akan meninggalkan luka yang berbekas yang tentunya akan sulit untuk di sembuhkan. Namun, penyelewengan yang dilakukan ACT bukan berarti kesalahan besar seluruh lembaga filantropi. ACT hanya bagian oknum yang mengkapitalisasi kesedihan atas nama filantropi.

Memulihkan Filantropi

Filantropi dalam Islam memiliki nilai penting yang menjadikan agama ini dikenal sebagai agama yang ramah terhadap rakyat bawah. Banyak sekali mekanisme yang mengatur filantropi dalam Islam dimulai dari yang wajib seperti zakat hingga ibadah sunnah lainnya seperti sedekah, infak dan wakaf.

Pada prinsipnya, filantropi adalah upaya untuk saling membantu dan meringankan beban orang yang tidak mampu. Dalam al-Quran ditegaskan : ”Dan orang-orang yang beriman, lelaki dan perempuan, sebahagian mereka (adalah) menjadi penolong bagi sebahagian yang lain. Mereka menyuruh (mengerjakan) yang makruf, mencegah dari yang mungkar, mendirikan shalat, menunaikan zakat, dan mereka taat kepada Allah dan Rasul-Nya. Mereka itu akan diberi rahmat oleh Allah; sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” (QS. At-Taubah [9]: 71).

Prinsip filantropi adalah menolong mereka yang membutuhkan. Semangat ini tentu harus memiliki mekanisme yang baik dan benar agar tidak mudah disalahgunakan dengan mengkapitalisasi kesedihan orang lain. Negara mempunyai peran penting untuk menata dan memformulasi mekanisme yang berlaku.

Dalam konteks negara saat ini, butuh pengawasan dan legalitas dari negara untuk mengawasi dan mengaudit lembaga filantropi. Bukan melakukan intervensi, tetapi negara wajib menutup celah penyelewengan dana umat atas nama kedermawanan harus dilakukan sebagai bentuk perlindungan negara terhadap dana umat.

Pasca kasus ACT, filantropi tidak boleh mati. Filantropi adalah bagian dari ruh ajaran Islam yang harus terus dirawat dengan mekanisme yang benar. Negara berperan penting untuk melakukan perizinan, pengawasan dan penataan lembaga yang ada.

Bagikan Artikel ini:

About Imam Santoso

Check Also

al-quran

Barat Harus Belajar Menghormati Kitab Suci

Peristiwa pembakaran al-Quran di Swedia beberapa waktu terakhir menarik banyak perhatian dunia internasional, terutama masyarakat …

tahun baru imlek

Mengenal Tahun Baru Imlek dan Bagaimana Hukumnya Mengucapkan Selamat?

Perayaan Imlek merupakan hari pertama bulan pertama pada penanggalan China atau masyarakat Tionghoa atau kerap …

escortescort