daging kurban kepada non muslim
daging kurban kepada non muslim

Jangan Egois; Dhuafa Non Muslim Juga Berhak Terhadap Daging Kurban

Memang, ulama berbeda pendapat tentang boleh tidaknya distribusi daging kurban terhadap non muslim. Kalangan ulama madhab fikih memiliki pendapat yang tidak tunggal mengenai hukum memberikan daging kurban kepada non muslim.

Ibnu Hajar al Haitami dari kelompok madhab Syafi’i melarang secara mutlak; kurban sunnah maupun kurban wajib; non muslim fakir apalagi kaya. Namun menurut Imam Abu Hanifah, Hasan Basri dan Abu Tsaur boleh membagikan daging kurban kepada dhuafa non muslim dzimmi sebagai rukhshah (dispensasi).

Imam Malik tidak setuju dengan pendapat ini. Menurutnya, tidak boleh membagikan daging kurban kepada non muslim sekalipun dzimmi. Kalau hanya untuk membangun toleransi beragama, kata Imam Malik cukup mengundang non muslim dalam perjamuan hidangan daging kurban, tak perlu memberikan dagingnya kepada mereka. Sebab, hal itu sama saja memberikan ruang keabsahan dalam peribadatan mereka.

Pendapat jalan tengah disampaikan oleh Al Bajuri dan Imam Nawawi. Mereka berdua berpendapat boleh memberikan sebagian daging kurban kepada dhuafa (fakir dan miskin) non muslim dzimmi. Tapi ini khusus untuk kurban sunnah, tidak untuk kurban wajib.

Pendapat al Bajuri dan Imam Nawawi ini, menurut saya, sangat pas diterapkan di Indonesia. Di negara ini ada banyak agama yang dianut oleh masyarakatnya. Muslim sebagai mayoritas bisa memberikan keteladanan persaudaraan kebangsaan dengan distribusi daging kurban kepada non muslim mengikuti pendapat jalan tengah Al Bajuri dan Imam Nawawi.

Kurban adalah ibadah yang mengandung dua dimensi; spiritual dan sosial sekaligus. Karena itu, sejatinya kurban dibagikan kepada khalayak, tak terkecuali, melampaui batas-batas sosial, agama dan keyakinan. Kurban tak mengenal sekat agama dan keyakinan karena agama juga melarang membiarkan tetangga hanya mencium bau wangi makanan yang kita masak.

Baca Juga:  Kaidah Fikih: Menyuruh Sama dengan Melakukan

Menghormati tetangga dan berbagi makanan dengan mereka, terutama yang fakir miskin, merupakan risalah kenabian yang diteladankan oleh Nabi kita. Karenanya, berbagai sebagian daging kurban dengan mereka merupakan upaya membumikan Islam yang rahmatan lil ‘alamin. Agama Islam sebagai rahmat dan kasih sayang kepada semua makhluk di dunia.

Bagikan Artikel ini:

About Faizatul Ummah

Alumni Pondok Pesantren Salafiyah Syafi'iyah Sukorejo

Check Also

samsudin jadab

Tinggalkan Perdukunan Menuju Kewarasan Beragama

Kasus Samsudin Jadab. Inilah fenomena perdukunan bertopeng agama. Agama dieksploitasi demi kepentingan “menipu kewarasan” berpikir …

tafsir surat al-ahzab

Tafsir Surat Al Ahzab Ayat 59: Perintah Memakai Jilbab Sebagai Penanda Identitas Muslimah

Allah berfirman, “Wahai Nabi, katakanlah kepada istri-istrimu, anak-anak perempuanmu dan istri-istri orang yang mukmin, “Hendaklah …