filantropi Islam
ACT menyalurkan zakat

Mengembalikan Marwah Kepercayaan Lembaga Filantropi Islam Pasca Kasus ACT

Adanya dugaan penyelewengan dana umat oleh lembaga filantropi Aksi Cepat Tnggap (ACT) masih menjadi perbincangan hangat. Berawal dari temuan Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan (PPATK) yang menemukan adanya indikasi beberapa masalah dalam aliran dana ACT baik untuk kepentingan pribadi maupun aktifitas lainnya yang melanggar hukum.

PPATK telah melaporkan dugaan tersebut ke Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) dan Detasemen Khusus (Densus) 88 Antiteror. Pendalaman dugaan ini sudah dilakukan sejak lama oleh PPATK, sehingga mereka juga telah memiliki hasil analisis yang bisa didalami lebih lanjut oleh aparat berwenang.

Tak hanya indikasi yang mencurigakan untuk kepentingan organisasi teroris saja, ternyata pendiri sekaligus mantan Presiden ACT (Ahyudin) juga diduga menyelewengkan dana untuk kepentingan pribadi mulai dari membeli rumah dan perabotannya hingga transfer belasan miliar ke keluarganya.

Tak berhenti di situ saja, majalah Tempo juga mengungkap adanya kampanye berlebihan yang dilakukan ACT selama kepemimpinan Ahyudin. Salah satunya yakni donasi untuk pembangunan Musala di Australia yang dalam kampanyenya menggunakan narasi “Surau Pertama di Sydney”. Namun sayangnya, sejumlah pendiri komunitas Surau Sydney Australia mengungkap, mereka tak menerima donasi secara utuh.

Dari total donasi sebesar Rp3,018 miliar yang terkumpul, mereka hanya mendapatkan Rp.2,311 miliar saja. Jika ditotal, terjadi pemotongan dana donasi sekitar 23 persen. Jelas pemotongan donasi tersebut dinilai terlalu besar dan tidak masuk akal.

Apabila merujuk pada Peraturan Pemerintah Nomor 10 Tahun 1980 tentang Pelaksanaan Pengumpulan Sumbangan, pemotongan maksimal untuk donasi sosial hanya 10 persen saja. Sedangkan zakat, infak, dan sedekah maksimal 12,5 persen. Potongan itu merupakan hak bagi pengelola sumbangan. Jadi pelanggaran nyata telah dilakukan oleh pihak ACT dalam jumlah besaran sumbangan donasi. Mereka jelas melanggar kesepakatan tentang jatah hak yang telah diregulasi dalam aturan tersebut.

Dalam Islam, istilah filantropi merujuk pada tradisi-tradisi zakat, infak, sedekah, dan wakaf. Dan kemudian sistem filantropi dirumuskan dengan bersandar pada al-Quran dan hadits mengenai ketentuan terperincinya. Seperti dalam al-Quran surat al-Hasyra ayat 7, Allah berfirman, “Apa saja harta rampasan (fai-i) yang diberikan Allah kepada Rasul-Nya (dari harta benda) yang berasal dari penduduk kota-kota maka adalah untuk Allah, untuk Rasul, kaum kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin dan orang-orang yang dalam perjalanan, supaya harta itu jangan beredar di antara orang-orang kaya saja di antara kamu. Apa yang diberikan Rasul kepadamu, maka terimalah. Dan apa yang dilarangnya bagimu, maka tinggalkanlah. Dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah amat keras hukumannya.”

Dalam al-Quran banyak disebutkan tentang kedermawanan dan hak-hak untuk fakir miskin yang mebutuhkan baik dalam bentuk zakat, sedekah, infak, wakaf dan lainnya. Secara umum prosedur filantropi ialah dengan mendistribusikan harta kepada mereka yang membutuhkan agar tidak hanya berkutat pada orang-orang kaya saja, namun lebih kepada membantu mereka yang membutuhkan melalui kesadaran dan niat baik dari orang-orang yang dermawan.

Filantropi pada hakikatnya adalah bagian dari ibadah maaliyyah ijtimaiyyah, yaitu ibadah di bidang harta yang memiliki fungsi sosial yang sangat krusial. Oleh karena itu, filantropi dalam Islam harusnya dijadikan sebagai gaya hidup bagi seorang Muslim.

Apabila ACT atau lembaga kemanusiaan lainnya yang menggunakan atau mengatasnamakan Islam mampu memegang teguh nilai kemanusiaan yang diatur dalam Islam, maka lembaga-lembaga kemanusiaan semacam ini justru tidak akan merugikan orang lain justru malah akan berorientasi pada kesejahteraan publik.

Lembaga filantropi apapun yang mengatasnamakan Islam, jika orientasinya adalah kepentingan perutnya sendiri, maka ia jelas hanyalah agen-agen yang memperdagangkan agamanya demi kepentingan sendiri. Dan lembaga filantropi Islam semacam ini tidak hanya akan membawa reputasi yang baik bagi lembaganya, melainkan juga terhadap agama Islam itu sendiri.

Tentu kejadian ACT telah menampar tidak hanya ACT tetapi lembaga filantropi keislaman lainnya. Ada kekhawatiran yang mendalam dari masyarakat tentang penyalahgunaan harta yang mereka hibahkan untuk kepentingan pribadi atau kepentingan lainnya yang melanggar hukum. Perlu segera ada Tindakan tegas dan segera menjernihkan persoalan.

Persoalan ACT bukan sekedar tentang memberikan sangsi tegas, tetapi mengembalikan marwah lembaga filantropi Islam dan kepercayaan umat. Masyarakat harus diedukasi untuk memberikan donasi, hibah dan sumbangannya kepada lembaga yang kredibel dan tidak khawatir dengan penyalahgunaan dana. Kasus ACT bukan mengeneralisir keseluruhan tetapi mal praktek dalam filantropi Islam.

 

Bagikan Artikel ini:

About Imam Santoso

Check Also

al-quran

Barat Harus Belajar Menghormati Kitab Suci

Peristiwa pembakaran al-Quran di Swedia beberapa waktu terakhir menarik banyak perhatian dunia internasional, terutama masyarakat …

tahun baru imlek

Mengenal Tahun Baru Imlek dan Bagaimana Hukumnya Mengucapkan Selamat?

Perayaan Imlek merupakan hari pertama bulan pertama pada penanggalan China atau masyarakat Tionghoa atau kerap …

escortescort