0.67273600 1519297424 830 556

Ilham Habibie: ICMI Harus Lahirkan Pemimpin Bangsa

JAKARTA – Ikatan Cendikiawan Muslim Indonesia (ICMI) dalam beberapa dekade telah turut berkontribusi membangun bangsa Indonesia, pada era Al Marhum Mantan Presiden BJ. Habibie ratusan mahasiswa yang bersekolah baik dalam dan luar negeri diberikan beasiswa, bukan saja yang mempelajari ilmu tekhnologi namun juga yang mempelajari ilmu agama.

Menuju 100 tahun Indonesia, ICMI tentu harus menyesuaiakan dengan tantangan yang selalu berubah sehingga sumbangsih ICMI bagi bangsa dapat terus berjalan sesuai dengan perkembangan yang ada, sehingga ICMI akan menjadi mitra strategis bagi pemerintah.

Namun, seiring berjalannya waktu, ada perubahan peradaban, seperti perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi (IPTEK). Hal tersebut membuat ICMI terus berbenah diri dalam membangun bangsa yang mengandalkan teknologi dan inovasi. Wakil Ketua Umum ICMI Ilham Habibie menekankan, peranan ICMI yang kolaboratif dengan perkembangan zaman dapat memberikan masukan strategis dan kritis bagi pemerintah.

“ICMI dalam kurun waktu tiga dekade mesti melahirkan calon pemimpin bangsa dari berbagai tingkatan, dekat dengan masyarakat dan inspiratif dalam memberikan motivasi bagi kaum muda yang saat ini masuk dalam era informasi teknologi digital,” kata Ilham dalam webinar yang diselenggarakan Forum Dialog Nusantara (FDN) dari Perpustakaan Habibie Ainun, dikutip dari laman republika.co.id Rabu (17/11).

Oleh karena itu, Ilham mengajak kader ICMI untuk bahu membahu saling mendukung dalam kiprah membangun bangsa dengan menguasai IPTEK dan Inovasi. Dalam webinar itu, Dirjen Bimas Islam Kemenag RI Prof Kamaruddin Amin juga memberi penekanan pada kebersamaan anak bangsa, toleransi antar umat beragama dan sesitivitas menghadapai perubahan .

“Tentu saja di era medsos yang tak terbatas, mestinya kita tidak termakan berita hoaks yang dapat meretakkan kesatuan hidup berbangsa,” ujar dia.

Baca Juga:  WNI Eks ISIS: Kalau Jawabannya Pulang ke Indonesia, Alhamdulillah!

Sementara itu, dari perspektif keislaman, Prof Nasaruddin Umar memberikan aksentuasi khusus mengenai dialog antarumat beragama di Indonesia sebagai negara yang multietnis, multiagama dan golongan. Menurut dia, keberagaman pemikiran antara golongan harus dikemas dalam seni kehidupan bersama sebagai umat, baik dalam pemikiran maupun tindakan nyata.

Rektor Unika Atmajaya A Prasetyantko mengatakan, organisasi manapun di Indonesia masih di bawah bayang-bayang kekuatan atau kekuasaan negara sehingga tidak mempunyai pilihan lain selain menjadi bermitra dengan negara. “Tentu saja ini dalam arti positif, yaitu memberikan pemikiran yang solutif bukan saja kritis tetapi ada jalan keluarnya. Apalagi di zaman teknologi dan inovasi yang sudah masuk mendalam ke setiap sendi kehidupan bernegara,” ucap dia.

Bagikan Artikel ini:

About redaksi

Avatar of redaksi

Check Also

undangan non muslim

Fikih Toleransi (6): Menghadiri Undangan Non Muslim

Toleransi yang sejatinya merupakan ajaran Islam mulai menipis, bahkan dianggap bukan ajaran Islam. Ini terjadi …

toleransi

Khutbah Jumat – Islam dan Toleransi

Khutbah Pertama اَلْحَمْدُ لله الَذِيْ أَرْسَلَ رَسُوْلَهُ رَحْمَةً لِلْعَالَمِيْنَ وَهَدَانَا إلَى صِرَاطِ الْمُسْتَقِيْمِ صِرَاطِ الَذِيْنَ …