jamaah islamiyah
jamaah islamiyah

Transformasi Jamaah Islamiyah : Dari Aksi Teror Hingga Strategi Tamkin dan Taqiyah

Penangkapan 3 orang tersangka kasus terorisme yang berafiliasi dengan Jamaah Islamiyah (JI) beberapa waktu lalu menggemparkan publik. Apa yang menjadi heboh karena dua di antaranya berstatus tokoh publik yang banyak dikenal masyarakat. Dan salah satu di antaranya adalah anggota Komisi Fatwa MUI sebagai lembaga keagamaan di Indonesia.

Tak ayal, penangkapan ini bagi kelompok pendukungnya muncul narasi kriminalisasi ulama. Ada pula teori yang berkembang liar tentang konspirasi terorisme yang hanya menyasar umat Islam. Isu-isu ini memang tidak produktif dan harus diberikan narasi alternatif yang tepat agar masyarakat tidak teracuni narasi kelompok teror yang seolah sedang memperjuangkan agama.

Pertama, yang harus dipahami oleh masyarakat bahwa organisasi teror yang bernama JI merupakan aktor yang mendalangi sekian banyak aksi terorisme yang mengerikan di negeri ini sebelum kemunculan ISIS. Kedua, organisasi ini masih ada dan terus melakukan gerakan bawah tanah dalam mempersiapkan gerakan cita membangun negara Islam di Asia tenggara.

Kenapa Islam selalu dibawa-bawa dalam kegiatan terorisme? Apakah penanggulangan terorisme sangat phobia terhadap Islam? Tentu ini yang seringkali dijadikan narasi bagi mereka yang seolah membela Islam. Padahal, dari awal gerakan terorisme sudah mengatasnamakan Islam dengan nama organisasi Jamaah Islamiyah yang muncul pada akhir 1980-an sebagai kelanjutan dari gerakan Negara Islam Indonesia (NII).

Perbedaan mencolok antara gerakan dan cita NII, JI memperluas jangkauan perjuangannya hingga ke Asia Tenggara. Dan akhirnya pada tingkat global, gerakan JI mempunyai kesamaan visi dengan kelompok organisasi teror, Al-Qaeda. Dari hubungan inilah yang menyebabkan JI semakin berani dan mendapatkan sumber dana untuk meningkatkan perjuangannya.

Pada tahun 2000 hingga tahun 2010 teror yang terjadi di Indonesia merupakan bagian dari pangung arena kelompok JI dalam melakukan perjuangan melalui rangkain bom dan teror lainnya di berbagai daerah. JI menjadi organisasi yang menakutkan dan menjadi momok tidak hanya persoalan keamanan, tetapi kedaulatan bangsa.

Baca Juga:  Menyikapi LGBT: Perlu Metode Dakwah, Bukan Asal Amarah

Tahun 2014, panggung teror direbut oleh kelompok ISIS dengan jaringan yang sangat beragam di Indonesia. Aktifis JI sebagian menata kembali perjuangannya, sebagian lain memilih bergabung dengan gerakan teror yang dipandang lebih ekstrem ini. Panggung teror dari tahun 2014 hingga saat ini banyak dilakukan oleh para militant dan simpatisan ISIS yang hingga kini masih tersisa.

Strategi Tamkin dan Siasat Taqiyah

Lalu kemana JI? JI tidak melemah dan mati. JI terus melakukan aktifitas dengan strategi ‘tamkin” atau penguasaan wilayah dan siasat “taqiyah” atau berpura-pura dengan masuk ke berbagai lini kehidupan masyarakat. Berbagai lembaga masyarakat termasuk keagamaan hingga pemerintahan menjadi sasaran infiltrasi dalam rangka penguasaan wilayah dan penguatan jaringan. Maka tidak mengherankan jika kemudian ada penangkapan terduga teroris dari kalangan aparat pemerintah dan ASN hingga yang baru-baru ini mereka yang berstatus “ulama”. Itulah bagian dari strategi tamkin dan taqiyah yang dimainkan dalam merebut hati masyarakat.

Peleburan aktifitas JI dalam masyarakat dalam berbagai bentuk bisa dalam bentuk lembaga pendidikan hingga lembaga pendanaan masyarakat. Terbongkarnya Lembaga Amil Zakat Abdurrahman bin Auf yang dilakukan oleh aparat saat ini adalah bagian kecil dari strategi JI yang terbongkar.

Jika mereka tidak memahami pola JI yang sedang melakukan transformasi ini mereka akan mengatakan kenapa aparat mengawasi kotak amal dan badan amil zakat? Kenapa pemerintah anti Islam? Kenapa aparat menangkap ulama? Kenapa pemerintah melakukan kriminalisasi ulama?

Narasi ini kerap dilontarkan bagi mereka yang memang betul-betul tidak paham gerakan JI atau memang pura-pura tidak paham tetapi dalam rangka menyesatkan narasi penanggulangan teror. Keduanya sangat tipis dan sangat berbahaya dalam mengaburkan situasi dan informasi di tengah masyarakat.

Baca Juga:  Kutukan Nabi Terhadap Orang yang Berfatwa Seenaknya

Penangkapan 3 orang tersangka yang nota bene sering dikatakan ulama sejatinya adalah bukti pola strategi mereka yang lebih inklusif dalam rangka menyiapkan perjuangan yang lebih besar. Hal ini menjadi bukti bahwa JI sedang mengalami transformasi gerakan yang menyasar secara halus di tengah masyarakat dan kelembagaan masyarakat.

Artinya, JI tidak hanya bisa dilihat dalam aspek aksi teror semata, tetapi gerakan ideologisasi di tengah masyarakat untuk merebut hati masyarakat. Tentu saja watak dan cita-citanya masih sama untuk membangun negara berdasarkan perjuangan mereka. Gerakan infiltrasi dalam isu kemanusiaan, keagamaan, pendidikan hingga pemerintahan adalah bagian dari mereka melakukan strategi tamkin dengan siasat taqiyah.

Jika demikian bukan salah lembaganya atau organisasi yang disusupi anggota JI, tetapi pada proses rekrutmen yang harus dievaluasi. Jika tidak, mungkin akan ada kejadian-kejadian lain lembaga keagamaan, lembaga pendidikan atau apapun yang disusupi lalu dilakukan penindakan. Saat itu terjadi, kita semua akan paham dan tidak ada lagi narasi kriminalisasi.

Bagikan Artikel ini:

About Islam Kaffah

Check Also

shalat ghaib korban bencana

Shalat Ghaib untuk Korban Bencana

Pada tanggal 4 Desember 2021 telah terjadi peningkatan aktifitas vulkanik di gunung semeru. Hal itu …

amarah

Amarah yang Merusak dan Tips Menyembuhkan

Marah merupakan salah satu perbuatan yang merugikan diri sendiri dan orang lain. Orang yang tak …