Serangan September
Serangan September

Imam Besar New York Jadikan Serangan 11/9 Sebagai Landasan Dakwah dan Buktikan Terorisme Bukan Islam

New York – Hari ini, 20 tahun lalu, serangan teroris menghantam kota New York. Menara kembar WTC diserang dengan ditabrak pesawat udara yang lebih dulul dibajak. Mantan gedung tertinggi di dunia itu pun roboh dan hancur dengan menewaskan ribuan penghuninya.

Akibat teror ini umat Muslim menjadi sasaran kemarahan warga setempat. Pasalnya, para pelaku teror disinyalir dari kelompok militan Islam Al-Qaeda.

Kondisi itu mencekam itu kembali diceritakan Imam Besar New York Islamic Centre Imam Shamsi Ali. Pagi itu, Imam Shamsi tengah menuju tempat kerjanya di PTRI, PBB. Ia mengaku sangat merasakan dampaknya, bukan secara fisik, namun berupa cacian.

“Sangat menyedihkan… sangat mencekam,” cerita Shamsi Ali mengenang mengerikan itu.

Dua pesawat menabrakkan Gedung Twin Towers World Trade Centre New York. North Tower yang pertama ditabrak pada 08:46 waktu setempat dan South Tower pada pukul 09:03. Serangan di dua gedung ini menewaskan lebih dari 2.600 orang.

Dua momen yang sering diceritakan dan selalu diingat Shamsi Ali, yang saat ini menjadi direktur Jamaica Muslim Centre, adalah ketika mendengar cacian supir taksi yang tak tahu dirinya Muslim, dan pelukan oleh tetangga Katolik yang menyadarkannya akan hal yang menurutnya sangat penting.

Ketika berjalan kaki pulang ke rumahnya dari Manhattan ke Queen yang cukup jauh, ada taksi yang mau berhenti dan mengantarnya. Supir taksi, yang tidak mengetahui dirinya Muslim, bersedia mengantarnya dengan senang hati.

“Namun ketika di mobil, dia mulai mencaci maki Islam dan orang Islam,” ungkap Imam Shamsi.

Saat itu telah santer diberitakan kelompok ekstremis Al-Qaeda yang bertanggung jawab. Ketika tiba di rumah, tetangganya, suami istri yang sudah sepuh, bergegas menghampiri dan memeluknya.

Baca Juga:  Cara Meng-Qadha’ Puasa Ramadan

“Dia mengatakan tiga kali, ‘Saya tak percaya’, sambil menangis. ‘Saya tak percaya kalau orang Islam yang melakukan ini. Kalau semua orang Islam seperti kamu tak mungkin dia melakukan itu’,” cerita Shamsi mengutip tetangganya.

“Saat dipeluk orang tersebut, betul-betul perasaan saya bercampur aduk, saya memikirkan hari-hari yang akan datang, mencekam,” katanya.

Sang tetangga, pemeluk Katolik yang berasal dari Irlandia, sempat dicurigai Shamsi saat awal pindah ke Amerika Serikat pada 1996.

“Saya mengistilahkan, saya diajari menjadi Muslim yang lebih baik, tidak diajari Islam, tetapi diajari menjadi Muslim yang baik,” katanya.

Sejak beberapa tahun sebelumnya, tetangga suami istri yang berusia 70an itu, selalu menyapu di depan rumah, termasuk di depan kediaman keluarga Shamsi.

“Ada kecurigaan di benak saya, ini non-Muslim, tapi kok baik sekali, menyapu depan rumah saya. Awalnya kita tidak pernah interaksi dengan non-Muslim, saya jadi curiga, sebentar lagi mereka akan menggoda saya. Ternyata berhari-hari, berbulan-bulan kemudian, mereka tak pernah ngomong soal agama.”

“Sikap tetangganya  itu mengingatkan saya, arti agama yang sesungguhnya. Agama itu bukan yang kita lakukan di rumah-rumah ibadah, tapi agama itu adalah apa yang kita lakukan di tengah masyarakat, menampilkan perilaku yang baik,” tuturnya.

Dua hal itulah yang diakui Imam Shamsi menjadi pelajaran penting bagi dia dalam langkah dakwah-dakwahnya di Amerika. Betapa ia sadar banyak teman-teman di luar sana yang salah paham dan menjadi kewajiban dia untuk memberitahu Islam yang sesungguhnya.

“Yang paling efektif bukan ceramah berapi-api tapi bagaimana menampilkan Islam dengan perilaku dan karakter,” tandasnya.

Bagikan Artikel ini:

About redaksi

Avatar of redaksi

Check Also

pwnu dki jakarta menyalurkan keasiswa kepada santri

Peringati Hari Santri, PWNU DKI Jakarta Salurkan Beasiswa 200 Santri

JAKARTA  – Akar historis Hari Santri adalah tercetusnya Resolusi Jihad yang dikeluarkan oleh KH Hasyim …

Pondok pesantren

Pesantren Berperan Besar Sebarkan Ajaran Islam ke Seantero Nusantara

Jakarta – Pesantren berperan besar dalam memperkuat pendidikan Islam dan generasi bangsa. Melalui pesantren juga, …