Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarokatuh

Saya seorang istri ingin bertanya, manakah yang harus saya utamakan antara melayani suami berhubungan badan (seks) dengan keinginan saya untuk shalat tahajud? Semoga dapat diberikan jawaban disertai dalilnya.

Reni Anggaraini – Batam


Waalaikum Salam Warahmatullahi Wabarokatuh

Terimakasih atas pertanyaan yang ibu Reni sampaikan. Kadangkala keinginan kita untuk beribadah kepada Allah SWT membuat kita tidak terlalu memperhatikan apakah ibadah tersebut merupakan ibadah wajib atau sunah sehingga kita berkeyakinan yang terpenting adalah beribadah, terlebih shalat tahajud. Sehingga kita sering lupa mana yang harus didahulukan antara kewajiban urusan rumah tangga atau melaksanakan ibadah sunah.

Saya akan coba jelaskan berdasarkan beberapa dalil yang terdapat dalam al-Quran maupun hadist untuk menjawab kebimbangan ibu. 

Shalat tahajud merupakan ibadah sunah yang sangat besar ganjarannya, karena dilakukan pada seperempat malam ketika sebagian besar orang sedang terlelap dalam tidurnya. Namun demikian, karena shalat tahajud serupakan ibadah sunah, maka banyak sekali amalan ibadah yang dapat dikerjakan sebagai gantinya seandainya tidak dapat dikerjakan karena satu dan lainnya, firman Allah SWT dalam surah Muzammil ayat 20 :

إِنَّ رَبَّكَ يَعْلَمُ أَنَّكَ تَقُومُ أَدْنَىٰ مِنْ ثُلُثَيِ اللَّيْلِ وَنِصْفَهُ وَثُلُثَهُ وَطَائِفَةٌ مِنَ الَّذِينَ مَعَكَ ۚ وَاللَّهُ يُقَدِّرُ اللَّيْلَ وَالنَّهَارَ ۚ عَلِمَ أَنْ لَنْ تُحْصُوهُ فَتَابَ عَلَيْكُمْ ۖ فَاقْرَءُوا مَا تَيَسَّرَ مِنَ الْقُرْآنِ ۚ عَلِمَ أَنْ سَيَكُونُ مِنْكُمْ مَرْضَىٰ ۙ وَآخَرُونَ يَضْرِبُونَ فِي الْأَرْضِ يَبْتَغُونَ مِنْ فَضْلِ اللَّهِ ۙ وَآخَرُونَ يُقَاتِلُونَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ ۖ فَاقْرَءُوا مَا تَيَسَّرَ مِنْهُ ۚ وَأَقِيمُوا الصَّلَاةَ وَآتُوا الزَّكَاةَ وَأَقْرِضُوا اللَّهَ قَرْضًا حَسَنًا ۚ وَمَا تُقَدِّمُوا لِأَنْفُسِكُمْ مِنْ خَيْرٍ تَجِدُوهُ عِنْدَ اللَّهِ هُوَ خَيْرًا وَأَعْظَمَ أَجْرًا ۚ وَاسْتَغْفِرُوا اللَّهَ ۖ                         إِنَّ اللَّهَ غَفُورٌ رَحِيمٌ

Baca Juga:  Bagaimana Hukum Mengumbar dan Menayangkan Aib Orang Di Media?

Sesungguhnya Tuhanmu mengetahui bahwasanya kamu berdiri (sembahyang) kurang dari dua pertiga malam, atau seperdua malam atau sepertiganya dan (demikian pula) segolongan dari orang-orang yang bersama kamu. Dan Allah menetapkan ukuran malam dan siang. Allah mengetahui bahwa kamu sekali-kali tidak dapat menentukan batas-batas waktu-waktu itu, maka Dia memberi keringanan kepadamu, karena itu bacalah apa yang mudah (bagimu) dari Al Quran. Dia mengetahui bahwa akan ada di antara kamu orang-orang yang sakit dan orang-orang yang berjalan di muka bumi mencari sebagian karunia Allah; dan orang-orang yang lain lagi berperang di jalan Allah, maka bacalah apa yang mudah (bagimu) dari Al Quran dan dirikanlah sembahyang, tunaikanlah zakat dan berikanlah pinjaman kepada Allah pinjaman yang baik. Dan kebaikan apa saja yang kamu perbuat untuk dirimu niscaya kamu memperoleh (balasan)nya di sisi Allah sebagai balasan yang paling baik dan yang paling besar pahalanya. Dan mohonlah ampunan kepada Allah; sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (QS. Al-Muzammil : 20)

Merujuk pada ayat tersebut jelaslah bahwa shalat tahajud hanya sunah sehingga Allah SWT memberikan keringanan, karena hanya Allah yang Maha Tahu keadaan hambanya. Dalam kitab Kayfa Nafham Al-Islam, Muhamad Al-Ghazali menulis “Seandainya ada seseorang yang sepanjang malam memuji Allah, dan kemudian di pagi hari ketika ia membuka usaha merasa lesu dan malas, atau memasarkan daganganya atau membersihkan kiosnya guna meningkatkan penghasilanya, maka sungguh ia telah berdosa kepada Allah.”

Keharmonisan rumah tangga hamba merupakan perintah agama. Oleh karenanya hubungan seks antara suami-istri adalah ibadah yang mendapatkan ganjaran pahala disisi Allah SWT. Masing-masing mendapatkan ganjaran dari hubungan tersebut. Demikian penjelasan Nabi Saw. Para sahabat yang mendengar menjadi terheran-heran, “Apakah salah seorang dari kami melampiaskan shahwatnya, lalu beroleh ganjaran? Nabi Saw. menampik keheranan mereka dengan bertanya, “Beritahulah aku, bagaimana seandainya ia melampiaskan syahwatnya pada yang haram, apakah ia berdosa? Maka, begitu pula, jika ia melampiaskannya pada yang halal, ia memperoleh ganjaran.”

Baca Juga:  Nasionalisme Haram?

Islam menghargai naluri manusia. ia bahkan mendahulukan kepentingan manusia (haqq al ibad) atas “hak Allah”. Karena itu Rasulullah Saw. bersabda, “Tidak halal bagi seorang istri berpuasa (sunah) kalau suaminya ada di tempat, kecuali dengan seizin suaminya” (HR. Bukhari). Hal ini karena dikhawatirkan jangan sampai kebutuhan seksual suami yang mendesak jika tidak dilayani menjerumuskannya dalam dosa.

Hadist-hadist lain banyak sekali yang menunjukkan bahwa beribadah kepada Allah apalagi yang sunah dapat dilakukan dengan berbagai cara, antara lain dengan memberikan pelayanan kepada keluarga, berbuat baik kepada sesama, sebab itulah karena keinginan shalat tahajud hingga melupakan kewajiban dalam urusan keharmonisan keluarga. Tentu saja, dalam hal ini bukan hanya seorang istri yang harus memperhatikan kebutuhan seksual suami, namun suami juga wajib untuk memperhatikan kebutuhan tersebut, karena telah ditekankan bahwa suami-istri bagaikan pakaian antara yang satu dan lainya :

هُنَّ لِبَاسٌ لَكُمْ وَأَنْتُمْ لِبَاسٌ لَهُنَّ

Artinya : mereka adalah pakaian bagimu, dan kamupun adalah pakaian bagi mereka (QS. Al-Baqarah : 187).

Dengan saling memberi pengertian antara suami-istri maka masing-masing dapat menjalankan kesenangan masing-masing dan tidak ada perselisihan sehingga tercapailah keharmonisan dalam rumah tangga.

Wallahu’alamu Bishowab

Tinggalkan Balasan