Menko Polhukam Mahfud MD
Menko Polhukam Mahfud MD

Intoleransi dan Radikalisme Berasal Dari Perasaan Sendiri, Sedang Orang Lain Dianggap Salah

Surabaya – Menkopolhukam RI Mahfud MD mengungkapkan bahwa intoleransi dan radikalisme berasal dari perasaan benar sendiri, sedangkan orang lain salah. Siapapun yang tidak sepaham dengan dirinya dianggap kafir dan munafik.

“Maka kita harus menghindarkan diri dari sifat merasa benar sendiri atau merasa paling benar agar tidak berkembang menjadi jiwa intoleran dan radikal,” kata Mahfud MD saat menjadi keynote speaker ‘Bedah Buku Intoleransi dan Radikalisme, Kuda Troya Politik dan Agama’ karya Islah Bahrawi di Hotel Wyndham Surabaya, Minggu (24/10/2021).

Dalam kesempatan itu, Mahfud mengatakan Indonesia lahir dituntun oleh empat kaidah yang harus ditegakkan pada tahun 1945.

“Terkait dengan makna negara Pancasila yang lahir pada tahun 1945 itu adalah negara yang dituntun oleh empat kaidah dituntun yang salah di antaranya ada di buku milik Islah Bahrawi ini,” katanya.

Untuk kaidah yang pertama yakni pemerintah Indonesia memiliki tanggungjawab menjaga Pancasila dan keutuhan teritorial di seluruh Indonesia. Pernyataan tersebut acap kali disampaikan oleh Bung Karno dalam pidato nasionalnya, terkait ideologi negara yang wajib dijaga dan tak boleh diganggu gugat.

“Negara Indonesia dibangun di mana pemerintahanya bertugas menjaga integrasi, keutuhan Ideologi dan keutuhan teritori. Jaga itu Pancasila, jaga itu wilayah, itu kaidah penuntun yang pertama dari negara Pancasila secara filsafat hukum,” paparnya.

Selanjutnya kaidah yang kedua yakni, Indonesia dibangun berdasarkan asas demokrasi disertai dengan asas monokrasi. Sebab, masyarakat Indonesia yang plural.

“Negara Indonesia harus dibangun berdasar demokrasi dan monokrasi. demokrasi itu penting karena masyarakat yang plural, pendapatnya berbeda-beda maka harus diatur secara demokratis. Jadi, Negara demokrasi di satu sisi, negara hukum disisi berikutnya sehingga demokrasi itu harus berjalan di atas aturan-aturan hukum,” tambahnya.

Baca Juga:  Bentengi Generasi Muda dari Radikalisme, Alim Ulama Harus Sampaikan Narasi Keagamaan dan Kebangsaan

Kaidah yang ketiga, yakni negara Indonesia harus membangun keadilan sosial bagi seluruh rakyat, sebagaimana tertuang dalam sila terakhir dalam Pancasila.

Sedangkan, kaidah yang keempat yakni kata Mahfud, negara Indonesia dibangung berdasarkan toleransi antar umat beragama yang berkeadaban. Hal itu merujuk pada lima keyakinan yang dianut oleh setiap masyarakat di Indonesia. Namun, hal toleransi dan keberadaban ini masih kerap menciptakan permasalahan di masyarakat.

“Ada orang toleransi secara beragama tapi tidak agama yang beradab misalnya, itu nanti ada ceritanya lagi ini agama harus ditolerir tapi tidak beradab itu segala macam lah ada,” pungkasnya.

Kegiatan itu diselenggarakan Organisasi Sahabat Mahfud MD Korwil Jawa Timur tersebut dipandu oleh Komisioner Bawaslu Kabupaten Sidoarjo, Jamil.  Hadir sebagai narasumber lain, Guru Besar UINSA yang juga mantan Sekjen Kemenag RI Nur Syam, Kasubdit Kontra Narasi Densus 88, AKBP Mayndra Adi Wardana serta Islah Bahrawi, Pengamat Radikalisme lulusan  dan Terorisme lulusan Berkeley California Amerika Serikat, sekaligus penulis buku Intoleransi dan Radikalisme Kuda Troya Politik dan Agama.

Selain itu, kegiatan tersebut dihadiri oleh Koordinator Nasional Sahabat Mahfud MD, Imam Marsudi, Korwil Sahabat Mahfud Jatim, Firman Syah Ali serta Korda Sahabat Mahfud Kabupaten/Kota se-Jawa Timur. Juga hadir mantan teroris Abu Fida.

Bagikan Artikel ini:

About redaksi

Avatar of redaksi

Check Also

undangan non muslim

Fikih Toleransi (6): Menghadiri Undangan Non Muslim

Toleransi yang sejatinya merupakan ajaran Islam mulai menipis, bahkan dianggap bukan ajaran Islam. Ini terjadi …

toleransi

Khutbah Jumat – Islam dan Toleransi

Khutbah Pertama اَلْحَمْدُ لله الَذِيْ أَرْسَلَ رَسُوْلَهُ رَحْمَةً لِلْعَالَمِيْنَ وَهَدَانَا إلَى صِرَاطِ الْمُسْتَقِيْمِ صِرَاطِ الَذِيْنَ …