ISIS dan Pelajaran Khilafah yang Gagal

0
1784
kegagalan ISIS

Siapa yang tidak terperanjat dengan hadirnya kekuatan baru yang sontak mengguncang dunia bernama Islamic State of Iraq and Syiria (ISIS). Dunia terperangah dengan berbagai aksi dan propaganda yang disebarkan melalui berbagai platform media sosial. Terma khilafah al-islamiyah yang dijanjikan, hijrah, jihad, baiat, dan perang akhir zaman gencar ditebar menggugah keyakinan segelintir umat yang mudah terpedaya.

ISIS yang kemudian menjelma menjadi Islamic State (IS) setelah memperluas wilayah di Irak-Suriah adalah kumpulan yang menyebut diri sebagai jihadis yang mengeksploitasi kekacauan dan perpecahan di dalam negeri Irak dan Suriah. Impian al Qaedah dalam menegakkan khilafah namun tidak pernah mendapatkan teritori dijawab dengan oleh kehadiran ISIS yang mendeklarasikan terbentuknya khilafah.

Propaganda khilafah pun berhasil. Berduyun-duyun umat Islam dari berbagai negara yang telah bermimpi mewujudkan khilafah terpedaya. Inilah panggilan suci untuk berhijrah, berjihad dan berbai’at pada amirul mukminin, Abu Bakar al-Baghdadi. Euforia kelompok pendukung khilafah menggema ke seluruh penjuru dunia.

Dari Indonesia sekelompok masyarakat yang sudah lama mengidamkan khilafah turut terpengaruh. Di jalanan Ibu Kota Jakarta masa itu diwarnai dengan muslim latah yang mendukung khilafah. Memang, diam-diam tidak sedikit masyarakat kita yang lama mengidamkan dan memperjuangkan khilafah. Dan bagi mereka ISIS adalah jalan dan seolah takdir Tuhan yang sudah dijanjikan.

Berita WNI hilang, berangkat, dideportase hinga yang sudah sampai ke Suriah menghiasi media. Mereka yang sudah berhasil hijrah menampilkan propaganda kesejahteraan dan kebanggaan untuk bergabung ke negeri khilafah tersebut. Mereka bergembira dengan memilih hidup di negeri khilafah. Mereka dengan penuh bangga membakar passport Indonesia dan dipertontonkan pada dunia.

Tibalah waktunya, kehancuran negeri khilafah ISIS satu persatu terjadi. Tepatnya Oktober 2017 ISIS telah dinyatakan runtuh. Negara khilafah idaman umat telah pupus dengan operasi yang dilakukan pasukan gabungan pemerintah Irak dan pasukan pendukung koalisi di Suriah yang disokong kekuatan udara negara Barat. Pejabat Irak, Suriah dan Iran mengumumkan kemenangan dan runtuhnya khilafah ISIS.

Terusir dan terpojok di Timur Tengah, ISIS berencana mengalihkan kekuasaan di Asia Tenggara, tepatnya di Kota Marawi, Filipina. Namun, rencana itu pun pupus. Membangun khilafah di Filipina pun gagal. Melalui pertempuran selama lima bulan Pemerintah Filipina berhasil mematahkan percobaan khilafah ISIS di Asia Tenggara.

Belajar dari Kegagalan Khilafah ISIS

Kegagalan khalifah ISIS sebenarnya patut menjadi pelajaran penting bagi umat yang berakal dan rasional. Umat Islam memang harus cerdas dalam membaca situasi bukan hanya memegang tekstual tafsir kitab suci dan hadist. Sebenarnya perjuangan menegakkan khilafah atau propaganda lainnya hampir bisa dikatakan mustahil terwujud. Kenapa?

Sistem politik dalam bentuk khilafah Islamiyah adalah konsep yang lahir sebelum muncul konsepsi negara bangsa seperti sekarang. Bukannya hanya dalam Islam, di Eropa seperti Romawi juga berkibar pada masanya dengan model konsep khilafah. Konsep negara bangsa muncul dengan menekankan adanya ketentuan batas batas territorial bagi setiap negara.

Mimpi dan cita-cita menegakkan kembali khilafah bagi seluruh umat Islam yang kini terbagi dalam bentuk negara bangsa hampir sangat mustahil. Khilafah seperti itu menuntut kesepakatan (ijma’), persetujuan dan loyalitas (bai’at) oleh seluruh umat Islam dari seluruh dunia. Apa mungkin negara Indonesia, Malaysia, Arab Saudi, Turki, Maroko, Mesir dan lain-lain mau bersatu dalam khilafah? Lalu siapa yang disetejui dan disepakati sebagai khalifah?

Hampir dikatakan mustahil. Kalaupun ada yang muncul seperti ISIS yang merebut suatu wilayah dan stabilitas dalam negeri serta mengundang umat dari seluruh dunia. Tentu dalam konteks itu, ia akan menjadi musuh dan ancaman bagi suatu negara, termasuk dari negara Islam sendiri seperti di Timur Tengah.

Perjuangan menegakkan khilafah seperti ISIS dan kelompok lain yang saat ini masih bersembunyi-sembunyi tetapi ditolak di beberapa negara hampir bisa dikatakan mustahil. Ia akan hadir dengan menabrak sistem politik yang sudah mapan di setiap negara dan tatanan dunia.

Fakta sebenarnya dari khilafah yang seperti diagungkan oleh para pejuangnya sebenarnya tidak sepenuhnya menyatukan umat pada masanya. Sebagai contoh, saat Muawiyah bin Abi Sufyan pernah membangkan pada Khalifah sah Ali. Muawiyah pun berkata: Wahai Ali, Anda jangan salah sangka, Islam sekarang tidak hanya berada di kota Mekkah dan Madinah, tetapi Islam saat ini sudah menyebar di berbagai daerah”. Di samping munculnya khilafah, sebenarnya pada masa lalu tidak tunggal.

Jadi, khilafah sejak dulu pun memang suatu sistem politik yang rumit untuk diterapkan. Apalagi dengan tatanan politik yang berbeda seperti saat ini. Pejuang khilafah baik ISIS maupun organisasi lain memang pasti masih ada. Mereka akan selalu menjadikan doktrin khilafah yang dijanjikan sebagai impian.

Namun, sebenarnya menegakkan khilafah semata karena ingin hidup dalam sistem politik yang Islami. Itulah sebenarnya yang banyak melatari para WNI dan umat lain dari berbagai negara untuk pergi ke Suriah. Karena itulah, konsepsi khilafah dan pemerintahan Islam dalam konteks tatanan dunia saat ini harus dibaca dengan cerdas biar tidak mudah termanipulasi seperti dalam kasus ISIS.

Saya ingin mengutip terakhir perkataan seorang mufassir kelahiran Damaskus, Suriah yang juga murid Ibnu Taimiyah, Ibnu Qayyim al-Jauziyah tentang negara Islam. Hal ini menjadi sangat penting agar umat yang sudah hidup damai tidak selalu diganggu dengan propaganda khilafah. Ibnu Qoyyim mengatakan bahwa jika sebuah sistem sudah diterapkan prinsip keadilan-meskipun tidak berdasar sistem khilafah-maka di sanalah engkau akan melihat wajat Tuhan. Artinya, pemerintahan dengan corak sistem politik baik kerajaan, republik, atau parlementer tetap dibenarkan dalam Islam selagi nilai keislaman.