militansi dan toleransi

Islam antara Militansi dan Toleransi

Apakah menjadi muslim yang baik harus militant atau toleran? Pertanyaan ini sebenarnya sudah lama mengusik pribadi saya terutama ketika ingin menanamkan Islam kepada anak usia dini. Haruskah menanamkan hakikat Islam ke anak itu dengan karakter militan yang membedakan “islam yes, kafir No!” atau mengenalkan sesungguhnya temanmu berbeda agama harus pula dihormati.

Lalu pada suatu ketika Saya menjadi sangat kagum dengan penjelasan salah satu ulama yang menurut saya tidak perlu diragukan lagi kapabilitas keilmuannya khususnya dalam ilmu ushul fikih. Penjelasannya mampu menjernihkan kebingungan saya tentang pilihan menjadi militant atau toleran.

Beliau adalah Wakil Pengasuh Pesantren Salafiyah Syafi’iyah, Sukorejo, Situbondo, Jawa Timur KH Afifuddin Muhajir dalam suatu ceramah pada acara Haul Almarhum Abdurrahman Wahid atau Gus Dur tahun 2019. Dengan nada yang sangat lembut tetapi dengan subtansi yang tegas, KH Afifuddin mengatakan bahwa  الاسلام بين الحماسة والسماحة (Al-islamu baina al-hamasah wa al-masahah) .

Arti dalam terjemahan yang beliau sampaikan bahwa Islam itu berada di antara semangat yang menyala dan toleransi yang nyata. Dengan penjelasan ini Saya menemukan jawaban atas pertanyaan lama yang belum saya temukan jawabannya. Lalu, saya terjemahkan dengan redaksi :  Islam itu berada di antara militansi dan toleransi. Karakter berislam itu berada di tengah menjadi militant dan toleran. Tidak boleh mempertentangkan kedua, tetapi tidak boleh meninggalkan salah satunya.

Slogan yang disampaikan oleh KH Afifuddin ini tidak hanya menjawab kegelisahan saya, tetapi saya kira menjadi jawaban tegas atas ketegangan orang dan kelompok yang getol berada di satu sisi tanpa melihat sisi lain. Kelompok pertama nampak sangat militan dengan semangat tinggi menyala-nyala, antusias nahi mungkar, dan membela agama, namun lupa wajah lain dari Islam yang bernama toleransi. Kelompok kedua, nampak sangat toleran dengan selalu ramah terhadap perbedaan dan menghorgai keberagaman, tetapi kadang lupa semangat militansi untuk meninggikan dan memuliakan Islam.

Baca Juga:  Akankah Negara “Thaghut” Menampung “Muhajirin”?

Islam pada satu sisi mengajarkan umatnya untuk mempunyai sikap militan dalam mendalami agama dan mendakwahkan agaman dan semangat melaksanakan amar ma’ruf nahi munngkar. Karena itulah, mereka yang menampakkan diri membela agama, melakukan nahi munkar dan gigih mendakwahkan Islam bukan radikal. Itu adalah bagian dari perintah agama. Namun, satu sisi Islam mengajarkan kepada umatnya untuk menghargai perbedaan. Memiliki sikap toleran kepada kelompok yang memiliki perbedaan keyakinan dan pendapat.

Pada satu sisi, Islam mendeklarasikan diktum “Islam paling benar”, namun sisi lain Islam menyerukan “tidak ada paksaan dalam agama”. Satu Islam mengajarkan untuk mendakwahkan dan mengajak mereka masuk Islam, tetapi sisi lain Islam mengingatkan bahwa sesungguhnya kita hanya memberikan peringatan bukan memberikan hidayah.

Apakah berarti ayat atau ajaran Islam itu saling bertentangan? Ataukah Islam itu berarti tidak konsisten dalam mengajarkan umatnya? Di sinilah sebenarnya kata kuncinya bahwa menjadi muslim yang baik yang tidak berlebihan dan ekstrem harus berada di antara nilai militansi dan toleransi. Jika kita berada pada pojok yang hanya berpegang pada militan akan terjatuh pada lobang sikap ekstrem, sementara hanya berpijak pada posisi toleran jatuh pada sikap kemunafikan.

Lalu sesungguhnya sikap pertengahan yang diambil Islam adalah bagian dari cara pandangan yang tawasuth sebagaimana Allah menjadikan umat Islam sebagai  ummatan  wasathan. Islam mengajarkan berada pada posisi militan dan toleran yang tidak bisa dibentukan antara satu dan lainnya, tetapi tidak bisa ditanggalkan salah satunya. Islam harus bersikap adil dan seimbang dalam kutub yang militan dan toleran.

Begitu pula ketika mengajarkan dan mendidik anak dan generasi muda tidak cukup hanya mengembar-gemborkan milintasi, tetapi tidak dibarengi dengan toleransi. Baik militan dan toleran itu adalah karakter muslim yang harus ditanamkan kepada generasi muda.

Baca Juga:  Ummatan Wasathan: Cara Umat Menerapkan Islam kaffah

Menjadi muslim harus mempunyai semangat menyala dalam mendalami islam, mendakwahkan Islam dan melaksanakan amar ma’ruf nahi munkar. Namun, jangan dilupakan bahwa menjadi muslim harus mempunyai sikap yang menghargai perbedaan dan melaksanakan perdamaian.

Bagikan Artikel
Best Automated Bot Traffic

About Islam Kaffah

Islam Kaffah