Islam Didzalimi
Islam Didzalimi

Islam Didzalimi: Bentuk Narasi yang Mendidik Umat Bermental Inferior dan Memicu Dendam

Seringkali kita mendengar kata-kata “Islam didzalimi” dalam setiap peristiwa yang bersinggungan dengan umat Islam. Turunan kata ini memang banyak dari “umat Islam tertindas”, “ulama dikriminalisasi” hingga pemerintahan yang Anti Islam. Narasi-narasi ini muncul seolah-olah kondisi sudah sangat mencekam dan menakutkan.

Berbagai kejadian dibingkai dengan menanamkan rasa kekhawatiran, ketakutan dan kesedihan yang dieksploitasi untuk membangkitkan emosi umat. Padahal fakta kadang sangat berlainan dengan narasi yang dikembangkan. Umat Islam dididik dan ditanamkan untuk bermental inferior dan selalu berada dalam tekanan.

Umat Islam di Indonesia bebas menjalankan ibadahnya dengan tenang bahkan hampir setiap sudut kampung terdengar suara adzan sebagai bagian dari dakwah. Berdakwah di Indonesia tidak ada larangan bahkan stasiun televisi yang menjadi area publik berlomba-lomba menyiarkan dakwah dan tayangan islami. Apabila anda berjalan-jalan di area publik pasti ditemukan mushalla dan masjid bahkan sebagian area perkantoran perbelanjaan menyediakan tempat untuk shalat, bahkan ibadah shalat jumat.

Lalu, pertanyaannya umat mana yang ditindas, Islam mana yang sedang dizalimi dan penindasan seperti apa yang dilakukan?

Pertanyaan ini penting untuk membuka wawasan dan pengetahuan masyarakat agar tidak selalu ditutupi oleh selubung narasi yang serba menakutkan dan mengkhawatirkan. Islam di Indonesia merupakan mayoritas tetapi kadang dipaksa untuk bermental inferior. Seolah-olah umat yang mayoritas ini teramat kecil dan dalam kondisi mengkhawatirkan. Seolah setiap waktu umat Islam sedang diserang dan dizalimi oleh berbagai pihak dan berbagai penjuru.

Di Indonesia ini jika ada satu kasus seolah menjadi pembenaran untuk melakukan provokasi. Kasus penyerangan terhadap Syekh Ali Jaber beberapa waktu yang lalu menjadi dasar kelompok tertentu untuk mengatakan ada upaya sistematis untuk menindas ulama. Sementara proses penegakan hukum dilakukan, berbagai narasi dikembangkan untuk membuat segalanya makin mencekam.

Baca Juga:  Historiografi Islam

Tentu tidak benar jika ulama dan umat Islam didzalimi secara sistematis. Ormas besar keagamaan di Indonesia di mana tempat berhimpun ulama, kiayi, ustad, dan da’i tetap berdiri kokoh seperti NU, Muhammadiyah, Persis, al-Irsyad mendapatkan hak dan jaminan yang luas di Indonesia. Ormas itu menjadi mitra pemerintah dalam membangun bangsa. Lalu, apakah mereka sedang dizalimi? Apakah ulama dan dai dari berbagai ormas itu sedang ditindas?

Saya mengkhawatirkan kelompok yang sering berteriak umat Islam didzalimi memang memiliki agenda politik tertentu. Namun, yang patut disayangkan bahwa narasi-narasi itu hanya mengkerdilkan umat Islam. Narasi itu akan menanamkan rasa takut di kalangan umat dengan ucapan-ucapan yang mencekam.

Selain narasi takut dan bermentak inferiro, narasi Islam didzalimi memang ditujukan untuk memupuk dendam dan kebencian dengan cara mengumbar kesedihan dan penderitaan. Ketika hal ini dilakukan, maka tidak mengherankan jika ada kelompok selanjutnya meneriakkan jihad untuk melawan kedzaliman terhadap ulama. Padahal, sekali lagi pertanyaannya, umat dan ulama yang mana? Dan siapa yang sedang mendesain penindasan yang begitu mencekam itu?

Saya menjadi teringat ketik ketika Rasulullah saw terkena sihir dan Allah telah menyembuhkan. Para sahabat bertanya siapa kira-kira yang telah menyihir Nabi. Para Sahabat tidak terima. Tapi Rasulullah berkata: Ingatlah, Allah telah menyembuhkan aku dan aku tidak ingin membangkitkan kejahatan pada diri seorang pun (HR Bukhari dan Muslim).

Teladan inilah yang patut diperhatikan oleh umat Islam saat ini untuk tidak selalu mengumbar ketakutan, kesedihan dan peristiwa tragis yang justru akan menimbulkan dendam dan kejahatan pada orang lain. Apalagi kesedihan itu dieksploitasi untuk membangkitkan emosi umat. Hindarilah termakan hasutan dan provokasi tetaplah rawat persaudaraan sesama muslim dan sebangsa dan tanah air.

Bagikan Artikel

About Farhah Salihah

Avatar