mencintai al-quran

Bagaimana Cara Mencintai Al-Qur’an?

Al-Quran merupakan kitab suci umat Islam yang dijadikan sebagai pedoman dalam menjalani kehidupan. Sebagai pedoman dan kitab suci umat Islam sangat menghormati Al-Quran. Wajar, jika umat Islam akan marah ketika al-Qur’an dilecehkan bahkan dibakar secara sengaja seperti yang terjadi di Swedia.

Al-Quran adalah sebuah mukjizat terbesar Nabi Muhammad dan puncak dari seluruh wahyu yang diturunkan oleh Allah sejak Nabi Adam dan diakhiri dengan Nabi Muhammad. Jadi bagi seorang muslim, mencintai al-Quran merupakan suatu kewajiban baginya. Allah berfirman dalam surat al-Imran ayat 31:

قُلْ إِنْ كُنْتُمْ تُحِبُّونَ اللَّهَ فَاتَّبِعُونِي يُحْبِبْكُمُ اللَّهُ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ ۗ وَاللَّهُ غَفُورٌ رَحِيمٌ

Artinya: “Katakanlah: “Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu”. Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”

Ayat di atas menjelaskan bahwa seorang muslim yang mencintai dan ingin dicintai Allah, maka ia harus mengikuti perintah dan larangan-Nya. Bagaimana seseorang mengikuti segala ajaran Allah. Rasulullah berpesan dengan senantiasa berpegang pada al-Quran dan hadist yang disampaikan. Karena dengan berpegang kepada keduanya umat islam tidak akan tersesat baik di dunia maupun dalam akhirat kelak.

Rasulullah SAW bersabda, “Aku tinggalkan kepadamu dua perkara.Kamu tidak akan tersesat selama kamu berpegang kepada keduanya,Yaitu kitab Allah(Al-Qur’an) dan Sunnah Nabi-nya(Hadits). (H.R. Malik dari Umar bin Khattab No.1935).

Lantas pertanyaaannya sekarang, bagaimana cara umat muslim mampu mencintai al-Quran? Mencintai al-Quran tidah dapat diungkapkan dengan kata-kata. Cara yang paling mudah untuk belajar mencintai alquran yakni dengan cara berinteraksi dengan al-Quran dalam setiap waktu.

Ada ungkapan yang mungkin tidak asing di kuping kita yakni “tak kenal maka tak sayang”. Dari ungkapan tersebut berarti jika kita ingin mencintai dan menyayangi al-Quran yakni dengan cara membacanya, memahami maknanya, menghafalkan serta mengamalkannya.

Baca Juga:  Neraka: Tempat Bagi Orang Bunuh Diri dan Membunuh Orang Lain

Dahulu, sahabat Rasulullah adalah orang yang sangat mencintai Al-Quran. Mereka merasa antusias saat mendengarkan wahyu yang disampaikan kepada mereka. Setiap deretan ayat yang didapatkan dari Rasulullah, bagaikan hadiah yang sangat berharga bagi dirinya. Bahkan kebanyakan dari mereka meluangkan waktu untuk menghafal, memahami dan merenungi serta mengimplementasikan isi kandungan maknanya.

Pada masa sekarang, banyak muslim apabila ditanya, cintakah mereka kepada al-Quran? Tanpa berfikir panjang mereka akan menjawab, ya aku mencintai al-Quran. Padahal, jika ditannya sedikit tentang isi al-Quran, banyak dari mereka yang tidak bisa menjawabnya. Cinta tetapi tidak memahami? Pantaskah disebut cinta?

Fenomena muslim masa kini mengaku mencintai al-Quran namun setiap harinya mereka tidak pernah memegang kitab suci tersebut. Bagaimana bisa, mengaku mencintai namun bisa berlama-lama tidak membaca setiap ayat dalam al-Quran.  Mencintai al-Qur’an setidaknya ia selalu berinteraksi dengan membacanya setiap hari.

Seseorang yang dirundung cinta, hatinya akan senantiasa terpaut, bibirnya selalu menyebut, ia akan merindukannya saat ia jauh darinya dan memutuskan segala sesuatu kecuali bersamanya. Menurut Sayyidina Ali, orang yang mencintai merupakan tawanan yang tidak bisa lepas dari yang dicintainya. “Barang siapa yang mencintai sesuatu maka dia adalah tawanan baginya” (Muhammad Nawawi, Nashaih al-Ibad:14).

Karena itulah, mencintai al-Qur’an adalah dengan menjadikannya teman setiap sepanjang hidup. Al-Qur’an menjadi penghias dari bibir dan mulut umat Islam. Al-Qur’an harus menjadi nafas dari pengamalan tindakan setiap hari. Itulah ciri mencintai Al-Qur’an.

Bagikan Artikel

About Eva Novavita

Avatar