islam cinta

Islam Itu Damai [1]: Mengurai Kata ‘Islam’ dalam Alquran

Sampai hari ini masih banyak orang maupun kelompok yang menjadikan Alquran dan hadis sebagai legitimasi tindakan kekerasan. Fenomena yang masyhur disebut sebagai kekerasan atas nama agama itu memang ada batang hidungnya dan bisa disaksikan dengan mata kepala. Tentu saja fenomena tersebut tidak hanya bertentangan dengan ajaran Islam yang sesungguhnya, melainkan juga telah mencoreng agama Islam sebagai agama yang damai, rahmatan lil ‘alamin.

 Diantara faktor utama munculnya suatu kelompok yang melakukan kekerasan atas nama agama adalah pemahaman atau penafsiran yang kurang tepat—jika tidak ingin dikatakan sebagai sebuah kekeliruan—tentang ajaran Islam itu sendiri yang terdapat dalam Alquran dan hadis.

Dalam bingkai itulah, kajian ini akan mengupas secara detail tentang makna kata ‘Islam’ dalam Alquran. Dengan mengurai kata tersebut, diharapkan akan turut memberikan bacaan yang mendalam dan dapat dipertanggung-jawabkan sehingga dapat mencerahkan dan meluruskan pemahaman-pemahaman umat Islam pada umumnya—terutama kelompok yang gemar melakukan aksi kekerasan atas nama agama.

Kenyataan bahwa Alquran adalah kitab suci yang diyakini kebenanarannya oleh semua kalangan umat Islam menunjukkan kepada kita bahwa kebenaran Alquran itu mutlak dan tidak ada seorang pun yang bisa menyangkal akan kebenaran tersebut (tidak diragukan lagi).

Meskipun begitu, penafsiran terhadap Alquran merupakan sesuatu yang relatif. Perkembangan madzhab kalam, fikih dan tasawuf serta munculnya berton-ton kitab tafsir merupakan bukti positif tentang kerelatifan penghayatan keagamaan umat Islam (Amina Wadud, 1992: xiv dan Deni Gunawan, 2019:187-188).

Mengurai Makna kata ‘Islam’

Berbicara tentang agama Islam, menduduknya makna kata ‘Islam’ sangatlah penting. Bagaimana kita mau memahami Islam secara kaffah jika makna dasar dari agama Islam itu sendiri tidak dipelajari. Oleh karena itu, kajian terhadap makna kata ‘Islam’ akan mengantarkan pada pemahaman yang utuh terhadap Islam itu sendiri.

Baca Juga:  Upaya Ulama Nusantara Menjejakkan Islam Kaffah Di Indonesia

Kata ‘Islam’ merupakan bahasa Arab yang tersusun atas huruf sin-lam-mim. Dalam Qamus al-Wajiz li Ma’ani al-Qur’an al-Karim, menyatakan bahwa kata yang tersusun dari hurif sin-lam-mim dalam Alquran memiliki delapan makna, diantaranya sebagai berikut:

Pertama, ikhlas. Misalnya dalam QS. Ali Imran [3]: 20, terdapat kata-kata “ءَأَسۡلَمۡتُمۡۚ فَإِنۡ أَسۡلَمُواْ فَقَدِ ٱهۡتَدَواْ” (apakah kamu (ikhlas) masuk Islam? Jika mereka masuk Islam, sesungguhnya mereka telah mendapatkan petunjuk). Kedua, bermakna keselamatan dari keburukan, QS. Al-Hijr [15]: 46: “ٱدۡخُلُوهَا بِسَلَٰمٍ ءَامِنِينَ (masuklah ke dalamnya dengan sejahtera lagi aman).

Kajian Imam Taufik menemukan, Islam sebagai agama dalam Alquran ada 50 kali dengan tiga kategori kelas: kata benda (isim) sebanyak 8 kali; kata sifat (na’at) untuk laki-laki (mudzakkar) sebanyak 3 kali; dan kata benda plural (jama’) sebanyak 39 kali.

Sementara menurut Rahmat (2006: 42-44), diantara beragam makna Islam itu, ada makna lain yakni ‘damai’. Dan makna ini direpresentasikan dengan kata ‘salam’. Dalam Alquran, kata ini disebut sebanyak 157 kali dalam berbagai bentuk atau derivasi. Semuanya itu menunjukkan kata damai.

Yang menarik lagi, Hassan Hanafi (2001: 127) mengemukakan bahwa bentuk kata benda dalam bahasa Arab menunjukkan substansi, sedangkan kata kerja berarti aksi. Dalam konteks kata salam, bisa menunjuk pada arti sifat damai (substansi damai) dan upaya menciptakan perdamaian.

Perdamaian dalam Islam sebagaimana dijelaskan di atas tentunya sudah lebih dari cukup memberikan arti dan pemahaman secara mendalam bahwa sesungguhnya Islam itu damai, mengajarkan perdamaian dan memerintahkan kepada umatnya untuk menciptakan perdamaian.

Untuk itu, mari kita simak lebih dalam lagi mengenai perdamaian dalam Islam sebagaimana termaktub dalam QS. Al-Baqarah [2]: 208:

Baca Juga:  Menengok Maroko (2) : Enam Tarekat Sufi Besar Dunia Berasal dari Maroko

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ ٱدۡخُلُواْ فِي ٱلسِّلۡمِ كَآفَّةٗ وَلَا تَتَّبِعُواْ خُطُوَٰتِ ٱلشَّيۡطَٰنِۚ إِنَّهُۥ لَكُمۡ عَدُوّٞ مُّبِينٞ 

Artinya: “Hai orang-orang yang beriman, masuklah kamu ke dalam Islam (kedamaian) secara menyeluruh, dan janganlah kamu turut langkah-langkah syaitan. Sesungguhnya syaitan itu musuh yang nyata bagimu.”

Kata ‘silmi’ pada ayat di atas, oleh para mufassir seperti Rasyid Ridha dipahami sebagai perintah kepada kaum beriman untuk masuk dalam agama Islam yang penuh kedamaian secara total. Sementara Sayyid Quthb menambahkan bahwa dalam ayat tersebut ada dua hal penting; yang pertama terdapat pada awal ayat dan kedua di akhir ayat. Ayat awal memerintahkan untuk mentransformasikan perdamaian sementara akhir ayat berisi larangan mengikuti jejak setan berupa perselisihan dan pertikaian.

Bagikan Artikel
Best Automated Bot Traffic

About faedurrohman M.Pd.I

Avatar
Mahasiswa Program Doktoral Pendidikan Bahasa Arab UIN Maulana Malik Ibrahim Malang, aktif bergerak di bidang dakwah kultural dan struktural.