Islam Menyatukan yang Terpecah, Bukan Memecahkan Persatuan

0
874

Salah satu nikmat terbesar Islam dihadirkan oleh Allah melalui Nabi agung Muhammad adalah merajut yang tercerai dan menyatukan yang terpisah. Islam merajut persaudaraan yang semula bermusuhan dan menjalin kasih sayang yang semula kebencian. Islam mengajak pada komitmen bersatu dan bersaudara.

Ironis memang, jika ada yang mengaku Islam, tetapi ia menabuh benci kepada yang lain. Kadang ada seorang anak yang seolah semakin teguh memegang Islam justru merusak persaudaraan karena beda pandangan keislaman sesama saudaranya. Bahkan orang tua pun dibantah karena dianggap tidak sesuai ajaran Islam.

Fenomena apa ini? Islam adalah rahmat dan anugerah yang bisa menyatukan dan mendamaikan. Bukan agama yang justru memisahkan keluarga, persaudaraan, tetangga dan masyarakat. Tidak ada alasan untuk berislam tetapi memilih menyekat diri dari saudaranya karena perbedaan pemikiran keagamaan.

Allah berfirman, “Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai-berai, dan ingatlah akan nikmat Allah kepadamu ketika kamu dahulu (masa Jahiliyah) bermusuh-musuhan, maka Allah mempersatukan hatimu, lalu menjadilah kamu karena nikmat Allah, orang-orang yang bersaudara; dan kamu telah berada di tepi jurang neraka, lalu Allah menyelamatkan kamu dari padanya. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu, agar kamu mendapat petunjuk”. (QS. Ali ‘Imran: 103)

Sangat penting menelaah ayat ini untuk memahami fitrah manusia dan fitrah Islam. Manusia berbeda itu adalah fitrah dan sunnatullah. Secara fitrahnya, manusia terlahir karena kehendak Allah. Manusia tidak diberi pilihan akan lahir dari rahim ibu yang mana, dari bangsa apa, agama apa dan seterusnya. Karena andaikata sebelum lahir ia bisa memilih, tentu akan memilih yang terbaik. Untuk itulah, semangat fitrah tersebut harus lekat dalam jiwa supaya tidak mengingkari kehendak Tuhan.

Baca Juga:  Islam yang Hilang di Tengah Muslim

Namun di tengah perbedaan Islam menjadi pengikat persatuan. Sebagaimana ayat di atas, Allah memerintahkan umat Islam untuk beriman secara kuat, tidak bercerai berai, dan saling bermusuhan. Semua umat Islam ada dalam satu ikatan persaudaraan. Bagai satu tubuh yang sama-sama merasakan sakit bila ada salah satu anggota tubuh yang terluka.

Dalam tafsir al Kasysyaf, imam Zamakhsyari menerangkan,  ayat di atas melarang umat Islam untuk bercerai berai, saling bermusuhan dan saling mencaci karena berpotensi terjadinya konflik kekerasan, bahkan peperangan. Ayat ini juga adalah larangan untuk mengucapkan kata-kata yang menyebabkan perpecahan. Serta larangan untuk memaksakan kehendak akan membuat rapuh tatanan hidup bersama secara damai, hilangnya keadilan, lenyapnya toleransi dan sebagainya.

Islam adalah agama yang membawa misi perdamaian. Lihat misalnya dalam sejarah Arab, kepala suku Aus dan Khazraj adalah dua saudara. Akan tetapi, kehidupan anak keturunannya selalu diwarnai pemusuhan dan peperangan. Hal itu berlangsung lebih dari satu abad. Kecamuk perang antara dua suku Arab tersebut menelan korban jiwa dan harta yang tak terhitung jumlahnya.

Konflik berkepanjangan ini baru selesai setelah Allah mengutus Nabi Muhammad. Perang panjang itu usai dengan perantara agama Islam. Kisah nyata ini direkam dalam dan ditulis secara apik Tafsir Al-Baidhawi. Ini menjadi bukti bahwa  Islam adalah agama yang cinta damai. Umatnya dilarang untuk bermusuhan, saling menghina dan tindakan keji lainnya.

Sementara Imam Al-Qurthubi dalam tafsirnya menyebutkan banyak riwayat terkait dengan pembahasan ayat ini. Di antaranya adalah riwayat dari Qatadah bahwa ayat ini sebagai respon terhadap fenomena yang terjadi pada masyarakat Arab pada waktu itu. Yakni, saling membunuh, orang-orang yang kuat akan menindas yang lemah.

Baca Juga:  Belajar Prinsip Dakwah Melalui Surat al-Ghasiyah

Setelah datangnya Islam melalui perantara Nabi mereka berubah menjadi saudara yang saling mengasihi satu sama lain. Contoh paling kongkrit adalah persaudaraan antara kaum Muhajirin dan Anshar. Prinsip yang bisa dipetik dari ayat ini adalah, demi Allah yang tidak ada Tuhan selain-Nya, sesungguhnya saling mengasihi adalah rahmat dan perpecahan adalah adzab.

Sampai disini menjadi jelas, bahwa salah satu misi agama Islam, khususnya pada periode awal adalah sebagai solusi dan media untuk menyatukan manusia yang terbelah pada dua jalur yang saling bermusuhan. Ungkapan Syekh Syamsuddin Muhammad di atas tidak lain adalah otentisitas Islam, yaitu sebagai agama yang melarang dan membendung sikap dan tindakan yang bisa menimbulkan atau menyebabkan perpecahan. Karena perbedaan bukan menjadi alasan untuk bertikai dan berpecah belah, melainkan, sebagaimana dalam istilah al Qur’an, adalah untuk saling mengenal satu sama lain.

Argument-argumen yang menyatakan bahwa Islam sangat menganjurkan kasih sayang, hidup bersama secara damai, saling menghargai dan seterusnya tidak sulit ditemukan, baik di al Qur’an, Hadis, tradisi sahabat, tabi’in dan tabi’ut tabi’in serta ungkapan para ulama. Rukun Islam sejatinya telah menggambarkan tatanan hidup yang ideal. Pada lima rukunnya, memuat pilar kehidupan yang penuh kasih sayang; menyayangi anak dan orang tua, menyayangi yang lemah, dan mengangkat derajat mereka yang tertindas. Dengan demikian, lebih jelas lagi bahwa perspektif Islam dalam menggelorakan semangat persaudaraan dan kasih sayang tak terbantahkan lagi.

Bila memperhatikan spirit agama Islam, tertera dengan jelas bahwa ruh dan semangat ajarannya adalah menjadikan agama sebagai amunisi untuk berdamai dengan orang lain bukan malah atas nama agama kemudian memecah belah persaudaraan dan kesatuan. Dalam konteks Indonesia, agama Islam hadir untuk mengajak setiap warga Negara menjalin persaudaraan dan menjaga persatuan.

Baca Juga:  Mengenal Tujuan Pokok Al Qur’an dari Surat Al Fatihah

Melalui spirit ayat di atas, Islam sangat mengecam tindakan membenturkan satu golongan dengan golongan yang lain, mengadu agama dengan agama, keyakinan dengan keyakinan, juga melarang memaksakan kehendak untuk menarik pribadi tertentu mengikuti keyakinannya  dengan memakai baju agama dan atas nama agama. Umat Islam selayaknya, bahkan wajib memposisikan agama Islam sebagaiman spirit awalnya, yakni sebagai juru damai dan pemersatu umat manusia. 

Dengan demikian bisa menarik kesimpulan, bahwa spirit dan ruh agama Islam adalah untuk perdamaian umat manusia. Nabi Muhammad adalah rahmat untuk alam semesta. Keutamaan dan kemuliaan Rasulullah penting untuk selalu hidup dalam setiap relung hati umat Islam.

Salah satu kemuliaan Nabi adalah akhlaknya yang mulia dan mengedepankan kasih sayang dan persatuan. Beliau tidak pernah memaksakan kehendak, hanya menyampaikan risalah dengan santun. Baginya, kebenaran dan petunjuk sudah jelas. Tinggal manusia mau menerima atau tidak. Maka semakin agung akhlak umat Islam semakin kuat daya tariknya terhadap umat lain untuk memeluk Islam.

Tinggalkan Balasan