kampanye anti islamofobia
kampanye anti islamofobia

Isu Islamofobia Jangan Memberi Angin Segar Kelompok Radikal

Baru-baru ini Islamophobia kembali mencuat setelah Gerakan Nasional Anti Islamofobia (GNAI) dideklarasikan sejumlah tokoh, dan aktivis lintas ormas Islam, di Aula Buya Hamka Masjid Al Azhar, Jakarta Selatan, pada 15 Juli 2022. Gerakan ini ingin melawan isu Islamofobia di dunia yang digambarkan media Barat sebagai kaum teroris dan radikalis.

Anehnya, mereka menyebutkan bahwa gerakan anti Islamofobia ini merupakan wujud respon atas Resolusi PBB sebagaui pijakan untuk melawan Islamofobia yang semakin hari semakin memecah  kesatuan bangsa. Padahal Indonesia merupakan Negara yang mayoritas penduduknya adalah muslim yang tidak mungkin seorang muslin di Indonesia diperlakukan secara diskriminatif.

Sejatinya, penetapan hari melawan Islamofobia oleh PBB bermaksud untuk menjaga hak-hak minoritas etnis dan agama yang merupakan bagian dari Hak Asasi Manusia (HAM). Setiap individu berhak menentukan agama yang akan dianutnya dan setiap negara harus menjamin kesetaraan semua warga negara dengan nyaman dan aman.

Kaum muslim minoritas di Eropa  dan Amerika selalu menghadapi ancaman, pembatasan, dan larangan. Terlebih lagi media-media Barat seringkali tidak memberikan proporsi yang seimbang dan pencerahan tentang ajaran Islam. Islam dilekatkan dengan tindakan oknum umat Islam yang selalu membawa nama Islam atas tindakan  yang bertentangan dengan Islam. Tercipta kesalahan persepsi dan pra sangka serta cara pandang warga Eropa dan Amerika terhadap Islam yang mendukung kekerasan.

Lalu bagaimana di Indonesia? Di Indonesia, umat muslim bebas untuk melakukan ibadah di manapun, membangun masjid kapanpun bahkan beberapa waktu kemarin sempat melakukan ibadah shalat di jalan umun ketika menggelar aksi demo dan juga pengajian di trotoar. Umat Islam sepertinya justru mendapatkan keistimewaan tersendiri sebagai konsekuensi mayoritas. Lalu, islamofobianya di mana?

Jika isu Islamophobia dimaksudkan dengan kebijakan negara yang banyak membubarkan organisasi-organisasi radikal yang mengatasnamakan agama seperti HTI dan juga FPI atau menangkap oknum umat Islam yang melakukan Tindakan terorisme  tentu itu bukan Islamofobia, justru menyelematkan Islam dari gerakan yang mempolisasi agama. Atau kasus terakhir misalnya pembekuan dana Aksi Cepat Tanggap (ACT) yang ditenggarai menyimpangkan dana umat dengan menyalurkan kepada organisasi teror terlarang, justru ingin menyelematkan umat Islam dari kelompok yang gemar melakukan komodifikasi dan kapitalisasi Islam.

Sesungguhnya jika mau dilacak akar islamophobia lahir dari banyaknya aksi radikalisme dan terorisme yang mengatasnamakan Islam yang dilakukan oleh oknum umat yang mengatasnamakan Islam. Tindakan mereka sejatinya yang harus dikecam sebagai penyebab akar islamofobia. Namun, justru gerakan anti Islamofobia justru memberikan angin segar bagi kelompok yang mempolitisasi agama.

Saya agak khawatir jika terus digemakan seolah-olah Indonesia darurat Islamofobia karena perlawanan terhadap terorisme yang mengatasnamakan agama justru menjadi angin segar bagi kelompok radikal. Mereka merasa benar dengan perjuangnnya dan negara yang salah karena mendzalimi perjuangan mereka dalam menegakkan dasar agama di Indonesia.

Perlu diingat bahwa akar Islamofobia adalah kelompok radikal terorisme yang kerap mengatasnamakan agama. Jika Islamofobia terus digaungkan seolah negeri ini sedang mengalami Islamofobia tentu akan membuka angin segar bagi kelompok pro kekerasan atas nama agama. Mereka seolah dibela karena sesungguhnya mereka yang merasa pembela dan pejuang agama yang didzalimi pemerintah.

Bagikan Artikel ini:

About Sefti Lutfiana

Mahasiswa universitas negeri jember Fak. Hukum

Check Also

Cheng Ho

Cheng Ho : Islamisasi Nusantara dari Perpaduan Islam dan China

Di Indonesia, sentimentasi anti China merupakan salah satu konstruksi sejarah paling kejam. Letupan besar dari …

dispensasi nikah

Dispensasi Nikah : antara Mencegah atau Mengafirmasi Pernikahan Dini?

Mengagetkan di Indramayu, terdapat ratusan anak di bawah umur kisaran usia 19 tahun mengajukan dispensasi …

escortescort