Drama persaingan politik Pilpres telah usai. Dua negarawan dan sahabat Joko Widodo dan Prabowo Subianto sebagai calon presiden yang “berperang” dalam arena Pemilihan Presiden (Pilpres) telah berpelukan. Kepentingan bangsa menjadi prioritas keduanya untuk tidak larut dalam nuansa emosional Pilpres yang berpotensi memecah belah masyarakat.
Dengan nuasan yang santai dan penuh kekeluargaan keduanya berada dalam satu gerbong MRT. Tentu keduanya ingin menunjukkan sebagai anak bangsa yang sama-sama mempunyai niat baik untuk memajukan bangsa. Bukan persoalan siapa pemimpinnya, tetapi bagaimana Indonesia mampu menatap masa depan yang lebih baik.
Apakah pertemuan ini sangat menggembirakan? Tentu bagi seluruh masyarakat Indonesia ini adalah momen yang menampilkan suasana kebatinan untuk membangun kembali persatuan tanpa sekat perbedaan politik Cebong dan Kampret. Tetapi, tidak semuanya bisa menerima. Ada juga yang bersedih bahkan menolak tegas pertemuan tersebut sebagai pengkhianatan.
Ketika bangsa ini menangis haru menyambut pertemuan bersejarah dua tokoh bangsa tersebut, ada sebagian kecil yang menangis sedih bahkan berteriak pengkhianat terhadap Prabowo. Kelompok ini tetap bersikukuh bahwa Jokowi adalah bukan pemimpin, sementara Prabowo adalah pengkhianat. Mereka keluar dari barisan dan memilih tetap “berjuang”.
Kisah ini sebenarnya mengingatkan penulis tentang perselisihan politik Khalifah Ali dan pihak Mu’wiyah. Perang saudara dalam sejarah Islam yang dikenal dengan perang Shiffin berakhir dengan arbitrase (tahkim) antara kedua kubu. Hasil ini memang menempatkan Mu’awiyah sebagai khalifah selanjutnya. Ali bin Abi Thalib memilih persatuan umat Islam daripada terus mengejar kekuasaan.
Apakah sikap Ali diterima? Sebagian besar umat menerima, tetapi justru kelompok kecil dari pendukung Ali kecewa dan memilih memisahkan diri dari gerbong perjuangan. Kelompok ini disebut khawarij karena secara sederhana dipahami sebagai kelompok yang keluar dari barisan Ali. Namun, sesungguhnya mereka keluar dari bagian besar jama’ah Islam karena tidak mengakui Muawiyah dan menganggap Ali sebagai pengkhianat.
Untuk membenarkan pilihan politiknya, kelompok Khawarij menarasikan doktrin agama sebagai justifikasi. Kafir adalah label yang pas baik bagi Mu’awiyah maupun Ali yang memilih kesepakatan hukum di atas hukum Allah. Tidak ada muslim dan kebenaran kecuali dalam diri mereka.
Kelompok khawarij memang telah musnah. Namun, mereka mewariskan nilai dan pandangan yang mudah mengkafirkan dan menentang penguasa yang sah. Sikap selalu menyalahkan dan memandang yang lain selalu salah dan dalam kekafiran adalah buah politik pahit dari sejarah Islam. Mereka yang keluar menentang pemimpin yang sah yang dtelah diputuskan oleh umat dan warga negara adalah para khawarij berikutnya yang harus diwaspadai.
Apakah khawarij adalah kelompok yang menentang hukum Allah? Tidak! Mereka justru paling rajin beribadah, fasih membaca Qur’an dan seolah paling dekat Tuhan. Namun, semua
Khawarij bukan lagi sebagai gerakan yang terus diwariskan dalam jaringan. Khawarij adalah nilai yang terus hidup khususnya dalam kancah peristiwa politik. Pandangan yang selalu membangkang dari kekuasaan sah dan upaya mengkafirkan dan selalu merasa benar sendiri adalah corak dari pemahaman khawarij.
Tentu saja kita tidak ingin melihat lagi wabah khawarij berkembang lagi di dunia Islam termasuk di negeri ini. Khawarij adalah preseden buruk dari peristiwa politik Islam. Kita juga tidak menginginkan preseden buruk dari politik Indonesia yang menjadi warisan bagi generasi selanjutnya untuk bersikap angkuh, merasa benar dan merasa yang lain salah dan berkhianat.
Wallahu a’lam
Islam Kaffah Media Pembelajaran Islam Secara Kaffah