gaya politik khawarij

Doktrin Hakimiyah dan Terorisme : Dari Khawarij, Al-Maududi Hingga Sayyid Qutb

Terorisme itu punya akar, seperti tumbuhan rambat yang menjalar. Kalau hanya ujungnya yang dipotong, pada bekas potongan tadi justru akan tumbuh cabang-cabang lain yang lebih banyak. Kalau ingin memusnahkan tanaman tersebut, harus mencabut akarnya. Ideologi yang membentuk paham terorisme harus dihilangkan.

Seperti ISIS, adalah buah dari ideologi dimaksud. Walaupun secara organisasi bisa dipatahkan, namun ideologi yang telah tertanam tetap akan tumbuh dan juga menjalar. Ideologi ydianut ISIS dan kelompok teroris yang lain telah telah dibangun cukup lama oleh para pemikir Salafi di dunia Islam. Salah satu doktrin yang menjadi awal dan pendorong pemikiran tersebut yakni paham Hakimiyah (tahkim).

Hakimiyah adalah suatu doktrin keagamaan yang bersumber dari Khawarij, salah satu sekte Islam dan kemudian dibiakkan oleh kelompok Wahabi. Paham ini meniscayakan kekuasaan mutlak Allah sampai pada urusan mengelola negara. Siapapun yang tidak memakai syariat Islam maka kafir dan wajib diperangi.

Slogan ini memang pertama kali didengungkan oleh Khawarij yang pemicu awal paham takfiry.  Khawarij memang telah lama habis dalam percaturan pemikiran Islam. Namun, orang yang pertama kali menghidupkan kembali doktrin ini dari liang kuburnya adalah Abu A’la al Maududi, pemikir Islam Pakistan.

Al-Maududi membangun konsep pemikiran al Hakimiyah lillah, sebuah pemikiran yang dibangun untuk menolak modernisme karena dipandang tidak sesuai dengan Islam. Secara tegas dan lantang ia menyatakan bahwa kedaulatan milik Allah secara mutlak. Kedaulatan manusia, baik itu berbentuk negara, partai dan semacamnya sifatnya semu. Hanya pemberian Allah.

Konsekuensinya, negara seutuhnya harus mengabdi pada hukum Tuhan. Yaitu, hukum dan undang-undang yang dibuat harus terjemah dari teks-teks primer keagamaan, al Qur’an dan hadis. Maka ketaatan kepada yang lain adalah syirik. Al Maududi mengecam keras adopsi pemikiran dan gagasan dari Barat ke dalam pikiran umat Islam.

Baca Juga:  Kalimat Kebenaran Digunakan untuk Kebathilan

Ideologi yang dibangun oleh al-Maududi ini kemudian disempurnakan dan lebih radikal lagi oleh Sayyid Qutb asal Mesir. Dalam beberapa kitabnya ia mengkafirkan muslim lain yang dianggap tidak menjalankan hukum Islam. Dikatakan oleh Syaikh Yusuf al Qardhawi, pikiran radikal Sayyid Quthb yang banyak diungkapkan dalam karya-karyanya sama sekali tidak mencerminkan ajaran Islam Ahlussunah wal Jama’ah layaknya dipedomani oleh mayoritas umat Islam di Dunia.

Akumulasi pikiran radiikal Qutb mencapai puncaknya saat ia mendekam di penjara. Ia menganggap pemerintah saat itu tak lebih dari komunis yang tak percaya Tuhan dan jauh dari agama. Pikiran-pikiran radikalnya ia tuangkan dalam karya-karyanya semisal tafsir Fi Dzilal al Qur’an dan Ma’alim fi al Thariq.

Pemikiran seperti dianut al Maududi dan Sayyid Qutb menjadi benih yang disuburkan oleh kelompok Salafi-Wahabi yang banyak sekali orang-orang yang telah menjadi tumbalnya dengan aksi-aksi terorisme seperti bom bunuh diri yang baru saja terjadi.

Untuk itu perlu upaya yang istiqamah supaya ideologi radikal tersebut tidak menjalar secara luas. Di samping tindakan tegas pihak berwajib untuk menghukum pelaku, para tokoh agama juga harus lebih inten memberitahu kesalahan ideologi ini. Bahwa agama Islam hadir ke muka Bumi untuk pengayom bukan untuk membuat gaduh, apalagi sampai membunuh.

Bagi umat Islam secara umum, terpenting adalah menjaga keluarga supaya tidak ketularan virus ideologi radikal dengan cara mendidik anak-anak dan keluarga yang lain dengan pemahaman Islam Ahlussunah wal Jama’ah. Cukuplah bagi kita semua wali songo dan para ulama Nusantara yang lain seperti Syaikh Nawawi al Bantani, Syaikh Arsyad al Banjari, dan para ulama pesantren semisal Kiai Kholil Bangkalan, Kiai Hasyim Asy’ari, Kiai Ahmad Dahlan dan lain-lain sebagai panutan kita.

Baca Juga:  Kutukan Nabi Terhadap Orang yang Berfatwa Seenaknya

Dan, hati-hati terhadap para pendakwah Salafi-Wahabi yang marak di media dan gerakan sembunyi-sembunyi mereka untuk mendoktrin tumbal-tumbal sebagai teroris. Alangkah rugi dan miris bila sampai salah seorang dari keluarga kita dijadikan tumbal oleh mereka dengan doktrin jihad palsu.

Bagikan Artikel
Best Automated Bot Traffic

About Khotibul Umam

Avatar
Alumni Pondok Pesantren Sidogiri