Waspada Sekte Wahabi
Waspada Sekte Wahabi

Salafi-Wahabi Dan Terorisme ( 4 ) : Relasi Doktrin Wahabi dan Ideologi Terorisme

Sebelumnya telah dikemukakan bagaimana Wahabi begitu beringas kepada kelompok-kelompok di luar Wahabi. Bukan hanya nyawa yang menjadi sasaran, tetapi harta benda dan situs-situs berhaga milik Islam juga dilenyapkan. Kejahatan yang ditimbulkan dari ajaran ini sebenarnya sudah diprediksi oleh ayah pendiri Wahabi, yaitu Syaikh Abdul Wahab al Hanbali.

Pernyataan Syaikh Abdul Wahab dikutip banyak sejarawan, di antaranya Muhammad bin Abdullah bin Humaid dalam kitab al Suhub al Wabilah ‘Ala Dhara’ih al Hanabilah. Syaikh Abdul Wahab berkata: “Kalian akan melihat kejahatan yang akan dilakukan oleh Muhammad bin Abdil Wahab. Allah telah mentakdirkan yang terjadi pasti terjadi”. Dan kejahatan itu, sekarang benar-benar terjadi.

Lalu mengapa dengan ajaran Muhammad bin Abdil Wahab ?

Ajaran Muhammad bin Abdil Wahab yang sekarang bernama ajaran Wahabi, tanpa disadari mampu menginspirasi dan mendorong lahirnya ideologi radikalisme yang dapat mendoktrin seseorang menjadi teroris. Mari kita lihat bagaimana ajaran ini dapat membentuk seseorang berkarakter teroris.

1.    Generalisasi terhadap bid’ah

Di antara perbedaan umat Islam dengan Wahabi adalah tentang masalah bid’ah. Bagi Wahabi, perbuatan apapun yang tidak pernah ada pada masa Nabi Muhammad saw dianggap perbuatan bid’ah dhalalah. Karena setiap bid’ah (sesuatu yang baru) pasti lah sesat dan diancam masuk neraka.

Akibat doktrin semua bid’ah sesat dan masuk neraka, Wahabi berani melakukan penggrebekan terhadap perayaan Maulid Nabi saw di berbagai tempat. Media sosial sering menampilkan pembubaran Maulid Nabi saw yang dilakukan di daerah-daerah tertentu. Alasannya karena perayaan tersebut tidak pernah dilakukan oleh Nabi saw.

Begitu juga pembubaran terhadap tahlilan, selamatan kandungan, majelis dzikir dan shalawat, sering menjadi sasaran keganasan paham yang menyimpang ini. Praktek itu dibubarkan dengan alasan bid’ah. Padahal sikap itu menunjukkan betapa bodohnya mereka terhadap makna “kullun” pada hadits bid’ah yang maklum itu.

Baca Juga:  Ribuan Kotak Amal Diduga Jadi Lumbung Pendanaan Teroris, Begini Ciri-Cirinya

2.    Dosa besar bagi wanita melakukan ziarah kubur

Shalih Utsaimin, salah tokoh Wahabi mengatakan dalam kitabnya Fatawa Muhimmah li Umumi al Ummah:

أَمَّا زِيَارَةُ الْمَرْأَةِ لِلْقُبُوْرِ فَهِيَ مُحَرَّمَةٌ بَلْ مِنْ كَبَائِرِ الذُّنُوْبِ

Artinya: “Berziarahnya wanita ke kuburan adalah perbuatan haram, bahkan ini termasuk dosa besar”

Namun, beranikah Wahabi mengatakan Siti Aisyah ra, istri tercinta Nabi Muhammad saw sebagai pelaku dosa besar karena dalam riwayat yang shahih ia juga melakukan ziarah kubur ?

3.    Pengkafiran terhadap orang yang bertawassul, beristighasah dan bertabarruk

Bertawassul artinya menjadikan suatu hal sebagai perantara tercapainya sesuatu yang diinginkan. Pada biasanya melalui perantara do’a orang-orang shalih. Jadi tawassul bukan berarti meminta kepada seseorang dan dianggap orang itu mampu memberikan kebaikan dan keburukan. Amaliyah tawassul sudah biasa dilakukan oleh para sahabat Nabi saw, baik bertawassul melalui orang yang masih hidup atau pun yang sudah meninggal. Karena ini memang anjuran dari Allah swt dalam firmannya.

Namun bagi Wahabi, bertawassul termasuk perbuatan syirik. Muhammad bin Jamil Zainu dalam kitab Tawjihat Islamiyah li Ishlah al Fard wa al Mujtama’, mengatakan:

مُبْطِلَاتُ الْإِسْلَامِ دُعَاءُ غَيْرِ اللهِ كَدُعَاءِ اْلأَنْبِيَاءِ اَوِ الْأَوْلِيَاءِ اَلْأَمْوَاتِ اَوِ الْأَحْيَاءِ الْغَائِبِيْنَ

Artinya: “Yang membatalkan ke Islam an seseorang yaitu berdo’a kepada selain Allah swt, seperti berdo’a kepada para Nabi, dan para wali, baik yang sudah mati atau yang masih hidup”

Lihatlah bagaimana mereka menghukumi orang-orang bertawassul dengan hukum kafir, karena dianggap meminta kepada selain Allah swt.

Dalam kitab al Tawassul anwauh wa ahkamuh karya Nashiruddin al Bani, ia berkata:

فَهَذَا الَّذِي يَقُوْلُ ذَالِكَ الْكَلَامُ يُجِيْزُ الْإِسْتِغَاثَةَ بِغَيْرِ اللهِ تَعَالَى, هَذِهِ الْإِسْتِغَاثَةُ اَلَّتِيْ هِيَ الشِّرْكُ الْأَكْبَرُ بِعَيْنِهِ

Baca Juga:  Memahami Tipologi Pemikiran Empat Madzhab Fikih

Artinya: “Maka ini orang-orang yang mengucapkan kata-kata demikian itu (bertawassul dan beristighasah kepada orang wali) adalah orang-orang yang membolehkan beristighasah kepada selain Allah ta’ala. Istighasah semacam ini merupakan syirik besar”

Abdul Aziz bin Baz juga mengatakan tentang orang-orang yang bertawassul dan beristighasah melalui orang-orang yang mati merupakan perbuatan syirik dan tidak boleh dinikahi. Shalih Ustaimin, menganggap dosa besar dan syirik bagi orang yang bertabarruk di kuburan:

اَلتَّبَرُّكُ بِالْقُبُوْرِ حَرَامٌ وَنَوْعٌ مِنَ الشِّرْكِ

Artinya: “Bertabarruk di kuburan adalah perbuatan haram dan termasuk bagian dari perbuatan syirik”

Begitu mudahnya mereka menghukumi orang lain dengan syirik. Jika demikian, bukankah umat Islam berarti telah kafir, karena mereka semua pelaku tawassul, istighasah dan tabarruk ?

4. Doktrin Halal Darah Orang Kafir

Setelah selesai mereka menghukumi umat Islam dengan hukum kafir. Lalu mereka menghalalkan darah dan harta orang kafir. Muhammad bin Abdil Wahab memproklamirkan kehalalan tersebut terhadap penduduk Najd yang tidak sehalua dengannya di dalam sebuah pernyataan:

كَفَرَةٌ تُبَاحُ دِمَاؤُهُمْ وَنِسَاؤُهُمْ وَمُمْتَلَكَاتُهُمْ, وَالْمُسْلِمُ هُوَ مَنْ آمَنَ بِالسُّنَّةِ اَلَّتِيْ يَسِيْرُ عَلَيْهَا مُحَمَّدٌ بْنُ عَبْدِ الْوَهَّابِ وَمُحَمَّدٌ بْنُ سُعُوْدٍ

Artinya: “Mereka semuanya sudah kafir, halal darahnya, wanitanya, dan semua harta miliknya. Karena orang muslim adalah orang yang percaya terhadap sunnah yang dijalani oleh Muhammad bin Abdil Wahab dan Muhammad bin Saud”

Selanjutnya, Muhammad bin Abdil Wahab juga menyerukan pembunuhan terhadap orang-orang yang sudah diklaim kafir dengan iming-iming masuk syurga:

إِنِّيْ أَدْعُوْكُمْ إِلَى التَّوْحِيْدِ وَتَرْكِ الشِّرْكِ بِاللهِ. وَجَمِيْعُ مَا هُوَ تَحْتَ السَّبْعِ الطِّبَاقِ مُشْرِكٌ عَلَى الْإِطْلَاقِ. وَمَنْ قَتَلَ مُشْرِكًا فَلَهُ اْلجَنَّةُ

Artinya “Sesungguhnya aku mengajak kalian kepada Tauhid, dan meninggalkan syirik kepada Allah. Semua yang ada di bawah tujuh lapis langit ini benar-benar musyrik. Dan barang siapa yang membunuh orang musyrik maka dia mendapatkan syurga”

Baca Juga:  Melacak Riwayat Pemikiran Suka Mengkafirkan

Begitu juga dalam kitab al Durar al Saniyah fi al Ajwibah al Najdiyah, secara tegas Muhammad bin Abdil Wahab mengajak mengkafirkan orang-orang yang ia anggap kafir, serta mengajak membunuh mereka.

Masihkah tidak percaya bahwa ideologi Wahabi adalah akar teroris ? Ajakan membunuh tanpa belas kasih, keluar dari batas pri kemausian jelas bukan ajaran Islam. Karena Islam diturunkan oleh Allah swt sebagai agama rahmat. Tetapi ideologi semacam itu hanya dimiliki para teroris yang senang malakukan pengrusakan di muka bumi. Semua ini, tidak lain karena kesalahan mereka dalam menafsiri teks-teks al Qur’an dan al Hadits.

Wallahu a’lam

Bagikan Artikel
Best Automated Bot Traffic

About M. Jamil Chansas

M. Jamil Chansas
Dosen Qawaidul Fiqh di Ma'had Aly Nurul Qarnain Jember dan Aggota Aswaja Center Jember