tembak teroris
tembak teroris

Tembak Mati terhadap Pelaku Teror Menurut Fiqh

Bagaimana hukum tembak mati terhadap pelaku teroris ? Ini mengingatkan kita kepada sederet kejadian penggrebekan terhadap pelaku teror dengan tembak mati. Seperti Dr. Azhari di Malang pada tahun 2005, Noordin M Top di Temanggung Jawa Tengah pada tahun 2009, Syaifuddin Zuhri dan Syahrir di Tangerang pada tahun 2009. Belakangan yang terjadi tembak mati di tempat terhadap pelaku teror wanita di Mabes Polri.

Sebelum menjawab pertanyaan di atas, perlu diketahui teror yang terjadi di Indonesia telah berlawanan dengan asas tunggal Pancasila yang mengakui beberapa agama secara sah dalam Negara. Setiap agama diakui memiliki hak dan kewajiban yang sama. Tidak ada satu agama yang lebih unggul dari agama yang lain sehingga berhak melakukan apasaja terhadap selain agama tersebut.

Jika demikian faktanya, setidaknya teroris masuk ke dalam dua kategori di dalam ilmu Fiqh; Pertama, Teroris dapat dikategorikan sebagai bughat (pemberontak) yang menentang ketetapan negara yang telah diakui dan disepakati oleh rakyat. Kedua, Dalam aspek lain, teroris merupakan shoil (orang yang melakukan penyerangan), karena fakta teror di Indonesia mereka benar-benar membawa senjata pembunuh untuk menumpaskan sasaran.

Di dalam Qawaidul Fiqh, dijelaskan bahwa seluruh bentuk dharar (bahaya) harus dihilangkan, “addhararu yuzalu”. Namun ini tidak secara mutlak, seandainya dharar tersebut dapat dihilangkan dengan dampak yang lebih ringan maka harus dilakukan dengan cara itu, kecuali tidak ada jalan lagi. Ini yang dimaksud dengan “addhararu yuzalu biqadril imkan” .

Dari konsep dasar ini, ulama menetapkan kebolehan Pemerintah untuk memerangi pemberontak sekalipun pada akhirnya berujung mati[1]. Hal ini didasarkan kepada ayat al Qur’an:

فَإِنْ بَغَتْ إِحْدَاهُمَا عَلَى الْأُخْرَى فَقَاتِلُوا الَّتِي تَبْغِي حَتَّى تَفِيءَ إِلَى أَمْرِ اللهِ

Baca Juga:  Kaidah Fikih: Jangan Salah Mengartikan Diam

Artinya: “Tapi kalau yang satu melanggar perjanjian terhadap yang lain, hendaklah yang melanggar perjanjian itu kamu perangi sampai surut kembali pada perintah Allah” (QS. Al Hujurat: 9)

Kebolehan memerangi pemberontak karena jelas-jelas ada dhoror yang lebih besar yang ditimbulkan oleh pemberontak itu dibanding dengan pembunuhan terhadap mereka. Kendati demikian, dalam memerangi pemberontak tidak kemudian Pemerintah serta merta melakukan penyerangan. Tetapi ada mekanisme yang harus dilalui sebelum itu.

Begitu juga ulama membolehkan melakukan perlawanan terhadap orang yang hendak mendzolimi diri kita. Bahkan dijelaskan dalam kitab-kitab Fiqh, seandainya ada seseorang yang hendak membunuh kita, maka boleh kita membunuhnya, dan kita tidak terkena hukum qishas[2].

Kebolehan memberikan perlawanan hingga membunuh pelaku dzolim tidak lain karena dalam rangka menghilangkan dhoror yang akan timbul kepada kita. Namun sama dengan memerangi pemberontak, tidak kemudian orang yang berbuat dzolim secara mutlak boleh dibunuh, tetapi harus menjalani beberapa fase untuk menghindari terjadinya dhoror yang lebih besar.

Di dalam kitab al Madkhal ila al Qawaid al Fiqhiyah dijelaskan:

اِذَا أَمْكَنَ دَفْعُ الصَّائِلِ بِالصَّوْتِ لَا يُدْفَعُ بِالْيَدِ, وَإِذَا كَانَ دَفْعُهُ بِالْيَدِ لَا يُدْفَعُ بِالْعَصَا, وَإِذَا أَمْكَنَ دَفْعُهُ بِالْعَصَا لَا يُدْفَعُ بِالسِّلَاحِ

Artinya: “Apabila menolak penyerang bisa dilakukan dengan suara, maka tidak boleh menolaknya dengan tangan, apabila bisa dilakukan dengan tangan maka jangan dengan kayu, dan jika bisa dengan kayu, maka jangan menolaknya dengan senjata”[3]

Seandainya seseorang mampu menolak kedzoliman seseorang cukup dengan ucapan, maka tidak perlu memukul orang tersebut, begitu juga seandainya orang yang menodongkan senjata dapat diselesaikan dengan pukulan, maka tidak perlu dengan membunuhnya dengan senjata tajam. Jika semua itu tidak bisa dilakukan kecuali dengan membunuhnya, maka boleh dengan cara membunuh.

Baca Juga:  Memburu Uang Kertas Edisi Khusus, Inilah Hukum Tukar Menukar Uang Beda Nominal

Dengan demikian, pada dasarnya boleh membunuh terorisme yang jelas-jelas akan merugikan negara, agama dan masyarakat umum. Tetapi seandainya ada cara lain yang bisa dilakukan untuk melumpuhkannya, maka cara itu yang harus ditempuh. Namun ketika tidak ada cara lain, seperti teroris tersebut dilengkapi dengan senjata api dan bom, maka membunuhnya saat itu dibenarkan oleh agama.

Wallahu a’lam


[1] Idris al Syafi’i, al Umm, Juz 4, Hal 226

[2] Ibn Qasim al Ghazi, Fath al Qarib, Hal 194, Cet. Dar al Minhaj

[3] Mahmud al Hariri, al Madkhal ila Qawaid al Fiqhiyah, Hal 93

Bagikan Artikel
Best Automated Bot Traffic

About Ernita Witaloka

Ernita Witaloka
Mahasantri Ma’had Aly Nurul Qarnain Sukowono Jember Takhassus Fiqh Siyasah