Alumni Pesantren jihad ekonomi dengan budidaya pisang cavendish
Alumni Pesantren jihad ekonomi dengan budidaya pisang cavendish

Jihad Ekonomi, Alumni Pesantren di Lamongan Ini Sukses Budidayakan Pisang Cavendish di Tengah Pandemi

Lamongan – DI tengah kondisi perekonomian yang lesu akibat pandemi Covid-19, dibutuhkan tekad dan semangat yang kuat demi untuk menyerah pada keadaan demi untuk memenuhi kebutuhan hidup. Jihad ekonomi adalah cara terbaik untuk melawan kesulitan dengan membangun perekonomian

Jihad ekonomi itulah yang dijadikan moto alumni santri Ponpes Sunan Drajat, Kecamatan Paciran, Lamongan bernama Sholahuddin. Ia sukses membubidayakan pisang cavendish di tengah kondisi ekonomi yang susah akibat Pancemi. Tidak hanya sukses budaya pisang Cavendish, Sholahuddin juga mampu mendongkrak ekonomi masyarakat mitra tani saat pandemi Covid-19.

Sholahudin baru 10 bulan mengaplikasikan gagasan bertanam pisang cavendish di lahan seluas 192 hektare yang tersebar di beberapa lokasi. Tak disangka, hasil buah pisang cavendish-nya masih kewalahan untuk memenuhi permintaan konsumen.

“Hasil panen pisang cavendish ini masih kita jual untuk memenuhi pasar lokal Jawa Timur saja karena kita ini belum mampu memenuhi begitu besarnya permintaan di luar Jatim,” kata Sholahuddin di lahannya Desa Bulubrangsi, Kecamatan Laren dikutip dari detikcom, Minggu (22/8/2021).

Luas lahan yang ditanami pisang cavendish, menurut Sholah, adalah 192 hektare. 58 Hektare milik PT dan selebihnya dengan sistem plasma untuk lebih memberdayakan petani dan menjadi mitra petani.

Ia mengungkapkan, perhitungan produktivitas pisang yang ditanam antara 20-30 kg/pohon. Jika dibuat rata-rata 25 kg dengan harga rata-rata Rp 4.500 /kg bisa menghasilkan Rp 112.500/pohon.

“Populasi yang saya tanam ini per hektarnya bisa mencapai 2.200 pohon dan setiap hari kita baru bisa kirim pisang 3 mobil pick up,” ujarnya.

Alumni santri KH Abdul Ghofur ini menuturkan, budidaya pisang cavendish yang relatif mudah namun ternyata pasarnya masih sangat terbuka. Budidaya pisang cavendish ini, juga bisa menjadi solusi ekonomi di tengah Pandemi Covid-19.

Baca Juga:  MUI Minta Polisi Ungkap Aktor Intelektual Pembakar Masjid di Lamongan

“Yang kita gagas selama 10 bulan dulu ternyata mendapat hasil yang luar biasa dan bersama-sama petani lain akhirnya mendapat pemasukan ekonomi dan hasilnya luar biasa,” ungkapnya.

Masih terbukanya pasar buah pisang cavendish ini membuat Sholah tidak tinggal diam. Ia mengajak petani-petani lain untuk menjadi mitra dan petani plasma. Sholah optimis, target untuk bisa memenuhi permintaan pasar di luar Jatim akan bisa dicapai pada 2022. Sebab, minat petani untuk menanam pisang asal Benua AS sangat tinggi.

“Saat ini permintaan lokal Jawa Timur antara 12 – 15 ton/hari karena kapasitas produksi kita rata-rata 4 hingga 5 ton perhari. Sehingga kita menargetkan tahun 2022 bisa kita penuhi baik lokal, nasional bahkan untuk ekspor,” jelasnya.

Sholah mengakui, ada banyak permintaan dari luar Jatim seperti dari Semarang, Yogyakarta dan Solo. Namun hingga hari ini belum bisa memenuhi. Permintaan, imbuh Sholah, juga datang dari negeri jiran Malaysia. Tidak hanya target menanam, Sholah juga menyebut apa yang digagas itu sudah ada jaminan pasar.

“Sejauh ini belum sampai masuk ke pabrikan tapi baru pasar tradisional dan baru sebagian kecil masuk ke modern market. Kami bersama plasma lainnya menargetkan pada 2023 tanam pisang mencapai 1.000 hektare,” lanjutnya.

Bagikan Artikel ini:

About redaksi

Avatar of redaksi

Check Also

020437300 1629024024 830 556

Ini 3 Ayat Alquran Isyaratkan Nasionalisme dan Cinta Tanah Air

Jakarta – Memahami teks-teks Alquran tidaklah mudah, dibutuhkan keilmuan yang mumpuni, bukan sekedar ilmu bahasa, …

umat muslim bersiap melakukan sholat berjamaah dengan menerapkan protokol

Fenomena Mana Dalilnya & Pentingnya Belajar Alquran Secara Baik

JAKARTA – Al-Quran bukan hanya sekedar kitab suci yang bertuliskan perintah dan larangan, namun juga …