Jihad Perang
Jihad Perang

Jika Hanya Dimaknai Perang, Sempitlah Ladang Jihad Umat Islam

Kadang memang memilukan melihat kondisi akhir-akhir ini. Gembar-gembor membela agama, tetapi kadang tidak tahu persoalan mana yang harus dibela? Teriak jihad tetapi tidak mengetahui secara kaffah arti jihad yang sesungguhnya.

Suatu saat ada pemuda berteriak jihad dengan takbir sambil membawa pedang, mau kemana? Siapa yang memerintahkan jihad? Membela untuk siapa? Kondisinya seperti apa? Jihad menjadi ladang jualan politik yang tidak lagi sakral dalam membela agama.

Kemana-mana teriak jihad seolah jihad menjadi barang dagangan. Jihad seolah narasi untuk menakut-nakuti. Tentu yang diharapkan mereka yang dianggap musuh menjadi takut. Tapi akal sehat ini tidak mampu menangkap siapa yang mereka anggap musuh? Kenapa dalam beragama koq kerap nikmat sekali mencari musuh? Kenapa dalam beragama koq senang sekali mengumbar jihad untuk makna perang secara serampangan. 

Tidak hanya salah tapi sudah sangat melecehkan ketika adzan ditambahi dengan bacaan hayya alal jihad. Anehnya membaca hayya alal jihad juga sambil membawa pedang, parang dan barang lainnya untuk menakut-nakuti. Memang siapa yang mau dilawan dengan pedang seperti itu?

Rasulullah akan lebih memilih perdamaian dan perjanjian dari pada peperangan. Bahkan ketika perjanjian yang secara kasat mata tidak menguntungkan pun beliau lakukan demi tidak ada pertumpahan darah. Rasulullah kadang mengedepankan kerugian sesaat untuk mendapatkan kemenangan jangka panjang.

Lalu, menjadi aneh di negeri yang mereka harus perlu definisikan secara cerdas menjadi darul harb atau darul Islam atau darul ahdi belum dilakukan. Lalu, jihad tidak sembarangan memerlukan komando dan kepemimpinan. Lalu, siapa pemimpin yang sah yang dihormati untuk meneriakkan jihad perang?

Banyak hal yang perlu dibincangkan dalam kerangka mujahadah dan berijtihad tentang apa itu jihad. Berdiskusi dan berijtihad mungkin tidak asyik bagi mereka yang memang tidak senang berpikir. Bagi mereka lebih mengenakkan teriak jihad dengan memakai parang, biar lebih sangar dan heroic.  

Baca Juga:  Salah Besar, Teroris Jelas Bukan Mujahid

Kata jihad dalam Qur’an banyak ditemukan dengan makna yang beragam. Seringkali kita umat Islam mendengar kata jihad hanya dengan pengertian perang (qital). Ingat bahwa perang hanya salah satu bentuk jihad. Menggembar-gemborkan jihad secara latah tetapi tidak mendalami maknanya secara kaffah menjadi persoalan umat saat ini. Jihad menjadi sangat sempit dengan pemaknaan latah apalagi salah kaprah.

JIka umat hari ini hanya memaknai jihad sebatas perang, justru akan mempersempit ladang jihad. Bahkan bisa menutup kesempatan umat hari ini untuk melakukan jihad dalam sehari-hari. Dalam kondisi damai, apakah orang Islam tidak bisa melakukan jihad? apakah pintu jihad sudah tertutup kita hidup di negara damai? Apakah itu artinya juga membela Islam sudah selesai?

Jihad sekali lagi tidak hanya bermakna perang. Justru menyempitkan jihad hanya makna perang itu sangat berbahaya. Kenapa? Karena umat Islam sudah berhenti berjihad di saat kondisi damai. Jihad adalah suatu kewajiban yang terus menerus hingga akhir hayat umat Islam.

Di sinilah penting melihat makna jihad secara kaffah atau menyeluruh. Ibnu Qayyim al-Jauziyyah dalam Zaadul Ma’ad memberi empat tingkatan dalam jihad.

  1. Jihad melawan hawa nafsu
  2. Jihad melawan syetan
  3. Jihad melawan orang kafir dan munafik
  4. Jihad melawan kemungkaran dan orang dzalim.

Empat tingkatan ini memberikan pelajaran bagi kita bahwa sejatinya ladang jihad itu sangat luas. Karena itulah, umat Islam mempunyai kesempatan yang besar untuk menjadi mujahid dan pembela agama sesuai dengan kadar kemampuan, waktu dan tempat masing-masing.

Ironi, jika mengangkat senjata dengan tanpa jelas siapa musuhnya dan siapa pemimpinnya yang berhak memimpin jihad lalu, kata jihad diartikan serampangan di mana-mana. Seolah makna jihad menjadi sangat politis dan jualan emosi.

Baca Juga:  Argumen Al-Qur’an tentang Isra Mi’raj: Kisah Fiktif atau Fakta?

Membela Islam harus melihat kemampuan diri dan kondisi. Sangat tidak tepat apabila umat Islam mengatakan membela Islam dengan perang di tengah kondisi damai dengan berdalih jihad. Itulah salah satu kesalahan dalam diri umat dengan semangat membela Islam, tetapi dengan pengetahuan yang dangkal.

Bagikan Artikel
Best Automated Bot Traffic

About Imam Santoso

Avatar